Showing posts with label amerika. Show all posts
Showing posts with label amerika. Show all posts

Tuesday, 10 March 2015

, , , , , , , ,

Islam, Inilah Jalanku


Selalu ada daya tarik tersendiri ketika berbicara mengenai kisah mualaf. Sering kali setiap kisah mualaf diwarnai dengan momen perubahan hidup yang dramatis, momen perubahan yang terjadi ketika seseorang ingin keluar dari kehidupan yang penuh loba-laba materi duniawi menuju sebuah kehidupan spiritual yang tinggi. Sebagian besar orang yang mengalami masa-masa cobaan dan kepanikan seperti itu pasti merasakan keputusasaan yang hebat, hingga akhirnya kembali kepada Tuhannya dengan shalat. Dalam setiap kasus demikian, saya tahu, mereka lupa satu hal yang secara naluriah telah ada dalam diri mereka, yakni berdoa secara langsung kepada Sang Pencipta. 

Sebagai contoh, seorang perempuan bercerita tentang kisahnya yang ia namai ‘Terlahir Kembali Sebagai Nasrani’ dalam sebuah acara televisi terkenal umat Kristiani. Perempuan itu bercerita tentang bagaimana kisahnya menjadi satu-satunya penumpang yang selamat dalam sebuah kecelakaan kapal. Ketika terombang-ambing siang dan malam di lautan lepas, ia mengatakan bagaimana Tuhan berbicara kepadanya, menunjukinya, dan melindunginya. Ia meminta pertolongan kepada Tuhan dengan berdoa hanya kepada-Nya semata. Dalam kisahnya yang panjang, ia berulang kali menyebut nama Tuhan dan tak pernah menyebut sekali pun nama Yesus Kristus. Namun pada sebuah momen ketika ia diselamatkan oleh sebuah kapal yang tiba-tiba lewat, ia mengangkat tangannya ke langit dan berteriak,”Terima kasih Yesus!”

Ada pelajaran yang bisa kita petik dari sini. Ketika seseorang mengalami momen-momen kepanikan dan tekanan, manusia secara naluriah berdoa secara langsung kepada Tuhan, tanpa perantara. Itulah fitrah spiritual yang dimiliki manusia. Namun setelah terbebas dari momen-momen sulit, manusia akan kembali kepada ajaran agama yang ia peluk seperti biasa, tak peduli seberapa berat momen itu dirasakan sebelumnya. Semua mualaf merasa Tuhan menyelamatkannya dan keajaiban atas selamatnya ia dari momen-momen pahit membenarkan keyakinannya. Namun tetap hanya ada satu Tuhan. Karena itu, masuk akal jika hanya ada satu agama yang benar dalam seluruh aspeknya. 

Oleh karena itu, hanya ada satu kelompok yang benar dan yang lain keliru. Karena Allah mengajarkan kita dalam Al-Qur’an,"Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya" (13:27). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang Lurus (untuk sampai) kepada-Nya (4:127). Karena bagi orang-orang yang sesat, Allah biarkan mereka memilih jalan apapun yang mereka inginkan. 

Lalu siapa yang akan menjadi muslim karena kisah yang akan saya ceritakan? Hanya satu orang yaitu saya sendiri. Begini ceritanya.

Tahun 1990, itulah tahun terakhir saya berada di laboratorium ilmu mata di Universitas George Washington, Washington DC. Putri kedua saya lahir pada tanggal 10 Oktober. Saya sangat cemas saat itu. Ia lahir dengan warna kulit agak kehitaman, dari dada hingga ujung kakinya berwarna agak kebiru-biruan. Tubuhnya tak memiliki cukup darah. Penyebabnya adalah kelainan batang nadi -penyempitan serius pembuluh darah besar dari jantung. Tak ada yang bisa saya katakan saat itu, kecuali saya hancur. 

Sebagai seorang dokter, saya tahu ia harus segera dioperasi, dengan kemingkinan bertahan hidup cukup kecil. Seorang dokter spesialis bedah kardio-dada dipanggil dari kota seberang dan saya tinggalkan ia di ruangan ICU khusus bayi untuk memeriksa anak saya.

Tanpa seorang kawan kecuali hanya ketakutan, saya keluar menuju ruangan ibadah di rumah sakit itu dan berlutut mendoa. Inilah untuk pertama kali saya mengenal Tuhan. Bahkan ketika saya berdoa, saya berdoa dengan kata-kata skeptis,”Wahai Tuhan, jika memang Engkau ada...” Saya katakan setelah itu bahwa saya berjanji jika memang Tuhan ada, jika Dia menyelamatkan putri saya, dan jika Dia memberi petunjuk kepada saya untuk masuk agama yang Dia ridhoi, saya akan mengikuti titah-Nya. 

Saya kembali ke ruang ICU sekitar 15 menit kemudian, dan sangat terkejut ketika dokter berkata bahwa putri saya akan baik-baik saja. Dan benarlah prediksi dokter, setelah dua hari, kondisi anak saya berangsur-angsur membaik secara ajaib, tanpa obat atau pun operasi. Hingga kini, ia tumbuh seperti anak normal lainnya. 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya adalah seorang dokter. Meskipun dokter menyarankan untuk membeli beberapa obat, namun saya tak membelinya. Saya ingat ia menjelaskan tentang penebalan dinding arteris, lemahnya oksigenasi, dan resolusi spontan. Kemudian saya berkata,”Tidak, putri saya selamat bukan karena keajaiban obat, ia selamat karena Tuhan." Banyak orang yang berjanji kepada Tuhan di momen-momen sulit bisa menemukan atau membuat alasan untuk meluluskan “penawarannya” kepada Tuhan, hingga Tuhan menyelamatkannya dari kesulitan. Saat itu saya bisa dengan mudah menggantungkan kesembuhan putri saya pada pejelasan dokter ketimbang kepada keajaiban Tuhan. 

Namun keimanan telah masuk ke dalam hati saya, dan tak akan pernah keluar lagi. Putri saya telah diperiksa jantungnya dengan metode ultrasounds yang dilakukan sebelum dan setelah, dan menunjukkan adanya penyempitan serius pembuluh darah besar namun hilang dalam beberapa menit kemudian. Satu hal yang terpikir oleh saya adalah inilah Tangan Tuhan. Meskipun ada penjelasan secara medis, namun saya hanya meyakini bahwa itu adalah jawaban Tuhan atas doa saya. Dulu atau sekarang saya tak menerima perjelasan apa pun kecuali itu. 

Selama beberapa tahun kemudian, saya mencoba memenuhi panggilan spiritual itu, namun gagal. Saya mempelajari ajaran Yahudi dan berbagai ajaran dalam sekte-sekte Kristen. Saya mengira saya telah berada pada jalan yang benar, yakni berada dekat dengan kebenaran namun bukan tepat pada kebenaran. Saya tidak pernah mengimani secara penuh ajaran-ajaran Kristen, karena saya tidak bisa menundukkan perbedaan antara aturan-aturan Kristen dengan ajaran-ajaran Yesus. Hingga akhirnya saya diperkenalkan dengan Al-Qur’an, Biografi Martin Ling, dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam: kisah kehidupannya berdasarkan sumber-sumber awal. 

Dalam kitab referensi Yahudi, saya menemukan bahwa terdapat tiga nabi setelah nabi Musa. Saya menyimpulkan bahwa Jonh/Yahya Sang Pembabtis dan Yesus Kristus adalah dua orang yang berbeda. Dalam Kitab Perjanjian Baru Yesus Kristus berbica mengenai nabi terakhir yang harus diikuti. 

Ketika saya tahu Al-Qur’an mengajarkan keesaan Tuhan, sebagaimana Musa dan Isa telah mengajarkan, saya percaya bahwa Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah nabi akhir zaman yang telah diprediksi. Semuanya masuk akal dan jelas sekarang: persambungan rantai kenabian dan wahyu, keesaan Tuhan, serta kesempurnaan wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an. Setelah itu saya masuk Islam. 

Cukup pintar? Tidak. Saya akan melakukan kesalahan besar jika memahami semuanya sendiri. Satu hal yang saya pelajari adalah ada banyak orang yang lebih pintar ketimbang saya namun tak mau mempelajari Islam. Jadi ini bukan masalah kepandaian, tapi ini murni masalah pencerahan, karena”...Barang siapa yang beriman kepada Allah -Dia akan menunjuki hatinya” (64:11). “...Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (42:13). “.... dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” (24:46). 

Jadi saya bersyukur kepada Allah karena telah memilih saya untuk diberikan petunjuk dan saya berikan satu nasehat sederhana tentang petunjuk: kenali Pencipta kita, berdoalah kepada-Nya, hanya kepada-Nya, dan dengan tulus ikhlas carilah petunjukk-Nya. Dan siapa saja yang Dia beri petunjuk, tak ada yang bisa menyesatkannya.

Dr. Laurence B. Brown adalah seorang dokter bedah mata. Alumni Cornell University, Brown University Medical School dan George Washington University Hospital. Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang beliau, bisa mengunjungi website beliau: www.leveltruth.com


Monday, 29 December 2014

, , , , , , ,

Saya Temukan Cinta Sesungguhnya Dalam Islam


Assalamualaikum. Saya merasa tersanjung untuk berbagi kisah saya masuk Islam.

Nama saya Fatimah Clarisse. Saya seorang perawat dan telah bercerai tanpa memiliki anak dari pernikahan saya sebelumnya. Saya beruntung sekali karena bisa diberi kesempatan bekerja di salah satu rumah sakit besar di Riyadh, Arab Saudi. Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga kristen.

Ketika di Riyadh, saya bertemu dengan banyak orang yang kebanyakan adalah muslim. Rasa ingin tahu saya besar sekali terhadap Islam. Saya menyaksikan sendiri dan kagum betapa diberkahinya masyarakat Riyadh. Ketika suara azan dikumandangkan, saya selalu merasakan perasaan yang begitu dalam dan tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Keinginan saya untuk belajar Islam meningkat hari demi hari, terutama untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Saya sering berdiskusi dengan orang Islam untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Saya sering berdoa, agar jika Tuhan memang menakdirkan saya untuk terus belajar Islam, Tuhan akan mengirimkan seseorang yang akan mengajarkan saya Islam dan menjadi pemimpin hidup saya agar lebih baik.

Sungguh, Allah memberikan takdir yang tak disangka-sangka. Allah mengirimkan Ali, seorang lelaki baik kepada saya. Ali adalah lelaki yang sangat berpengaruh dalam saya meniti jalan menuju Islam. Dia mengajari saya setiap hari, tentang Islam, misalkan, bagaimana menjadi muslim yang baik. Darinya, saya menemukan keindahan Al-Qur’an dan membuat saya yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Ali membuat saya mengerti tentang 5 rukun Islam dan cara shalat lima waktu. Hingga akhirnya saya mengerti bahwa dalam kehidupan ini selalu ada tujuan dan akhirnya saya sadari betapa Allah menyayangi saya karena telah mengirim saya ke Riyadh untuk menemukan Islam. Bahkan tak hanya itu, Allah juga menyadarkan saya tentang arti cinta yang sesungguhnya. Ali membuat saya selalu berpikir dan merenungkan kembali masa lalu saya. Dia membuat saya sadar betapa beruntungnya diri saya karena Allah masih menyayangi saya dengan menuntun saya kepada jalan kehidupan baru dan lebih baik yang InsyaAllah akan membawa saya kepada surga-Nya.

Di 7 Juni 2011, Ali membawa saya ke sebuah Islamic Senter di Riyadh, di mana akhirnya saya masuk Islam dengan penuh kesadaran dan keyakinan. Ketika saya mengikrarkan syahadatain, saya merasa seluruh kesakitan dan kepiluan dalam hidup saya sirna dan digantikan oleh cinta dan kedamaian dari Allah. Saya sangat bahagia saat itu. Setelah itu ramadhan datang dan saya bersyukur bisa merasakan keberkahan bulan itu untuk pertama kali. Saya juga bisa pergi berumroh dan mengunjungi Makkah dan Madinah. Itulah hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya, semua doa saya dijawab oleh Allah.

Setelah memeluk Islam, Allah memberikan saya hadiah yang besar -Ali akan menikahi saya, dan ia juga berkata bahwa Imam di Islamic Senter juga menyambut baik rencanya. Tangis saya pecah, bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan, karena bukan hanya Allah telah memberikan ksempatan kedua untuk hidup lebih baik, teapi Allah juga memberikan saya cinta. Cinta murni yang dibangun atas dasar kepercayaan dan dikuatkan oleh kecintaan kami kepada Allah sebagai dasar hubungan saya dan Ali.

Setelah masuk Islam, hidup saya juga diterpa ujian. Hubungan saya dan Ali diuji oleh Allah. Saya telah mengajukan proses perpindahan ke Amerika, tetapi saya harus pergi dahulu sebelum Ali, karena itu saya tak bisa menikah. Saya tak ingin meninggalkan Ali. Dan inilah yang Allah takdirkan kepada kami. Allah menginginkan saya pergi terlebih dahulu kemudian Ali akan menyusul InsyaAllah. Dan akhirnya kami akan menikah, memulai hidup baru, mewujutkan mimpi kami untuk membagi dan menyebarkan risalah Islam kepada semua orang. Saya berusaha untuk istiqomah dalam memegang agama di Amerika. Saya belum memiliki banyak kawan muslim. Kecintaan dan keyakinan kepada Allah menjadi penguat untuk saya dalam menempuh jalan Islam di sini. Meskipun jauh, Ali selalu mendukung saya. Kami percaya kepada Allah bahwa suatu hari kami akan bersatu dan akan mampu mewujutkan mimpi dan misi kami, InsyaAllah!

Saya berharap kisah saya bisa menginspirasi semua orang untuk mendekatkan kepada Islam. Terima kasih.

Fatimah Clarisse


Tuesday, 25 November 2014

, , , , , , ,

Dari Kristen Rasis Menuju Islam



Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Marc dan beginilah kisah saya masuk Islam

Perjalanan saya menuju Islam, boleh dikatakan, tak biasa. Sebagian besar mualaf yang telah saya temui berasal dari latar belakang liberal dan paham-paham lain yang cukup terbuka. Latar belakang saya jauh dari itu semua. Kedua orang tua saya adalah anggota militer Amerika sehingga mendidik saya begitu keras. Ayah saya sangat rasis, karena itu, saya juga tumbuh dengan pemahaman rasis hingga berumur 24 tahun. Saya ingat, ketika kecil saya sering mendengar ayah mencerca dan menyerang orang-orang arab, muslim, agama mereka, cara hidup mereka, dan ras mereka. Karena ini merupakan ajaran yang ditumbuhkembangkan dalam hidup saya, akhirnya saya juga bersikap demikian. Masa kecil saya sangat bermasalah, sebagaimana akan saya ceritakan selanjutnya.

Ayah saya seorang pemabuk dan seorang yang sangat kasar. Saya tumbuh dalam ketakutan permanen akan kekerasan terhadap diri saya, ibu, dan saudara-saudara saya. Karena saya tumbuh dalam latar belakang semacam itu, sangat maklum jika saya mencari orang-orang yang bisa menggantikan kehidupan yang tak saya dapat dari keluarga. Namun masalah selanjutnya muncul: saya mendapatkan kawan-kawan yang sangat buruk.

Selama beberapa tahun saya bergabung dengan kelompok rasis radikal. Meski sebenarnya, saya tak pernah merasa tenang dengan jalan hidup seperti ini. Namun saya senang karena menjadi pemimpin yang disegani. Ketika itu, saya terkenal dan ditakuti oleh orang-orang di kota lahir saya. Kerinduan saya akan keluarga dan kawan-kawan tak menghilangkan benih-benih kebencian dalam hati. Saya tak pernah sadar bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kekeliruan besar dan ketidakadilan yang nyata. Ketika berumur 16 tahun, kawan karib saya yang seorang Mexiko pernah bertanya kepada saya,”Mengapa kamu berkumpul dengan orang-orang jahat, kamu lebih baik keitimbang mereka.” Dia benar. Tapi ada bagian dari diri saya yang, meskipun saya sangat membenci ayah saya dengan apa yang telah ia lakukan kepada keluarga saya, tapi saya ingin menjadi seperti ayah. Itulah sikap rasis dan kebencian saya bermula. Kondisi semakin buruk, ketika saya dipaksa pergi dari rumah. Saya pikir inilah yang mengunci kemungkinan Islam bisa masuk dalam kehidupan saya. Jauh dari ayah saya, kebencian yang saya rasakan, dan memahami dunia dan masyarakat dengan cara saya sendiri.

Selama beberapa tahun saya menjalani kehidupan yang berat dan saya melanjutkan kehidupan seperti itu. Saya sering mabuk, memakai narkoba, dan mendapat masalah serius dengan hukum negara. Orang-orang yang saya cari untuk bisa menggantikan keberadaan keluarga saya adalah orang-orang yang paling buruk perangainya; kekerasan, tak jujur, dan tak pernah bisa dipercaya. Itulah pertama kalinya saya bisa merasakan hidup tanpa figur seorang ayah yang selama ini membayang-bayangi hidup saya.

Saya mulai sadar, kebohongan ini berasal dari lingkungan tempat saya bernaung. Saya mulai bisa melihat kebenaran, betapa hidup saya telah hancur. Inilah titik balik, di mana saya mulai mempertanyakan setiap sisi kehidupan saya, termasuk spiritual saya. Saya mulai mengambil sikap, bahwa seluruh kehidupan saya telah terjangkit keburukan dan harus ditata ulang. 

Kesenangan saya dalam membaca membuat saya memiliki perpustakaan kecil, yang kini berisi hampir seribu buku, mulai buku-buku tentang Kant, Ramadhan, hingga kata-kata bijak Edward. Saya memiliki pacar waktu itu, yang kemudian saya nikahi. Ia juga aktiv dalam kelompok rasis yang saya ikuti. Selalu ada kekhawatiran dalam diri saya jika ia akan merasa tersinggung dengan pemikiran baru yang saya miliki. Saya jadi pecandu buku dan saya selalu membaca buku di mana pun berada selama beberapa tahun.

Selama peristiwa Intifada bergejolak di Palestina, ayah saya, sebagai orang yang rasis dan antiorang arab dan yahudi, ia sangat mendukung ekspansi Israel. Saya pikir, ia memang membenci yahudi dan orang-orang nonputih, tetapi kebenciannya terhadap arab melebihi kebenciannya terhadap yahudi, karena itulah ia mendukung yahudi-israel. Ketika saya melakukan pemikiran ulang tentang apa yang saya pelajari di masa muda dulu, saya memutuskan untuk lebih mendalami kecamuk yang terjadi di Timur Tengah. Saya mulai membaca buku-buku umum yang membahas sejarah Timur Tengah dan politik nasional di sana. Lagi-lagi saya menemukan kesulitan dalam mempelajari itu, karena saya tidak paham soal Islam. Ketika kecil dulu saya sering datang ke Gereja, namun tidak memiliki dasar keinginan yang kuat untuk menengok agama lain.

Ayah saya memiliki kebencian yang kuat terhadap Islam, sehingga ketika berusia belasan tahun saya juga membenci Islam dan menyebarkan kebencian itu tanpa memiliki alasan yang kuat dan tanpa mengetahui ajaran Islam yang sesungguhnya serta bagaimana muslim memahami Islam. Kebencian itu terus tertanam dalam pikiran, bahkan tanpa pernah menemui seorang muslim sekali pun. Oleh karena itu, saya mulai mempelajari Islam; ajaran dan sejarahnya. Masa itu bertepatan ketika internet mulai populer, sehingga saya mencari sumber-sumber dari buku-buku dan internet untuk membantu saya memahami Islam. Saat itu saya tinggal di Washington dan tidak mengetahui komunitas muslim di sana, sehingga tak seorang muslim pun yang bisa saya ajak diskusi. 

Setelah itu, istri saya berpindah kerja ke London, sehingga mengubah rencana yang telah saya rancang. Ketika berada di London, ketertarikan saya beralih sejenak. Saya berada di negara baru dengan sejarahnya yang panjang, sehingga selama beberapa tahun saya menghabiskan waktu untuk menjelajahi sejarah dan daerah-daerah di Eropa. Seiring berjalannya waktu, saya tertarik kembali untuk mempelajari Timur Tengah dan situasi politik di sana. Saya berada di negara di mana komunitas muslim terbentuk dengan apik, meski di kota tempat saya tinggal tidak ada komunitas muslim. Saya mulai membaca tentang Islam: keyakinan, ideologi, dan sejarahnya.

Saya juga mulai membaca Al-Qur’an. Saya terkejut dengan informasi pertama yang saya dapatkan: Al-Qur’an memberikan jawaban atas keraguan saya terhadap agama yang saya peluk sejak kecil. Saya selalu bertanya-tanya tentang ajaran bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dari apa yang telah saya baca saya akhirnya tahu bahwa kepercayaan ini berasal dari agama berhala: Zeus, Odin, dan agama-agama berhala lain yang percaya bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dalam ajaran Odin, pengikutnya percaya bahwa Odin menempel di sebuah pohon, hampir sama dengan pemeluk Kristen yang percaya bahwa Yesus menempel di sebuah salib. Odinis, nama bagi pengikut agama kuno dari Eropa Utara ini, juga meyakni trinitas: tuhan bapa sebagai Odin, anak laki-lakinya bernama Thor, dan istrinya bernama Freja. Dengan ini menjadi jelas, inovasi yang dilakukan orang-orang kristen tidak berdasar dari Tuhan, melainkan berasal dari agama berhala yang ada sebelumnya. Saya juga merasa betapa Tuhan bisa begitu tak adil karena menjadikan manusia menanggung dosa yang dilakukan orang lain yang telah mati ribuan tahun silam. Hal ini menurut saya terasa tak adil. Akhirnya saya mengerti konsep dasar ketuhanan; bahwa Tuhan tak mungkin berlaku tak adil. Itulah perkara dosa asli atau dosa turunan yang selama bertahun-tahun membuat saya bertanya-tanya akan keabsahannya.

Saya selalu merasa bahwa ajaran Kristen tak memiliki jawaban tentang perkara tersebut dan jika mereka menjawab, jawabannya hanya akan memperkuat posisi ketidakadilan tersebut. Saya mencoba mempelajari ajaran Yahudi, namun ajaran Yahudi memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawabannya. Sikap mereka terhadap para nabi sungguh tak bisa diterima. Kitab suci mereka mendakwa manusia-manusia ini yang telah melakukan kerusakan besar. Saya menolak meyakini bahwa Tuhan memilih manusia-manusia ini untuk dijadikan pemimpin di bumi ini. Jika ajaran Yahudi seperti ini, bagaimana saya bisa memercayai dan mencari petunjuk melalui agama semacam ini? Dengan ini telah jelas betapa Islam menjawab seluruh keraguan dalam perkara ini.

Islam menjelaskan kebingungan terhadap kebohongan trinitas dan menerangkan dengan jelas peran Yesus (Isa) alaihissalam sebagai nabi, bukan sebagai anak Tuhan. Islam menghormati seluruh nabi alaihisalam jami'an dan mengenal mereka sebagai manusia-manusia pilihan Tuhan. Dengan Islam, saya temukan jawaban dari seluruh permasalahan dan pertanyaan saya selama ini, juga masa depan manusia. Masalah terbesar saya selanjutnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Islam ke dalam kehidupan saya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya memiliki istri yang juga anggota kelompok rasis radikal. Dia tak memiliki bayak waktu untuk berdiskusi dengan saya soal ketertarikan saya dengan hal-hal ini; Islam maupun politik Timur Tengah.

Saya sadar jalan yang saya butuhkan untuk menempuh jalan hidup baru tak mudah ditempuh. Akhirnya telah tiba saatnya, saya menyadari bahwa saya tak akan bisa menerapkan ajaran Islam jika tetap bersama istri saya. Karena itu kami berpisah. 

Sebelum saya meninggalkan Inggris, saya pergi ke sebuah masjid dengan seorang laki-laki lebanon untuk mengikrarkan syahadatain. Ketika saya berpisah dengan mantan istri saya, saya dipaksa untuk segera meninggalkan Inggris. Saya senang tinggal di Inggris, karena kesempatan untuk mempelajari Islam lebih banyak. Tapi Alhamdulillah, Allah telah menentukan jalan saya untuk kembali ke Amerika dan saya bisa mengambil hikmah yang besar dari peristiwa itu.

Dengan cepat saya mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah Amerika di Alaska. Tentu saja, tak banyak komunitas muslim di Alaska. Hanya ada dua komunitas muslim di pusat kota Anchorage dan Fairbank. Sementara tempat saya bekerja jauh dari dua kota tersebut. Karena itu saya memilih untuk mempelajari Islam lewat buku-buku dan internet. 

Saya sering ke Wahington DC. Saya bergabung dengan komunitas muslim di sana. Saat itulah saya mulai berpikir untuk menikah. Saya sedikit kawatir dengan keadaan saya: seorang mualaf. Saya tahu orang-orang muslim berasal dari berbagai latar belakang etnik, karena itu mungkin mereka tidak akan memperbolehkan anak perempuannya dinikahi seorang mualaf Amerika berkulit putih. Hal ini lebih buruk lagi karena saya memiliki tato yang saya dapatkan ketika berusia remaja. Karena itulah saya tak yakin akan memperoleh seorang muslimah dan keluarganya akan menerima saya apa adanya.

Seorang kawan baru memberi informasi bahwa ada seorang muslimah yang sedang mencari pendamping hidup. Kemudian ia memberikan nomor teleponnya kepada saya. Ketika pulang kerja, saya mencoba menghubunginya, tapi ia tidak berada di rumah, sehingga saya hanya meninggalkan pesan. Hari berikutnya saya menghubunginya dan kami berbicara selama beberapa jam. Kami bertukar alamat email dan selama tiga hari berikutnya kami berbicara selama berjam-jam. Saya mengantuk sekali setelah itu, bahkan saya tertidur di tempat kerja. Kami berbicara banyak hal tentang apa pun yang berkaitan dengan bagaimana membangun pernikahan yang sukses. Saat itu saya telah melihat bahwa banyak persamaan antara kami berdua yang seluruhnya berporos pada penghambaan kami kepada Allah. Saya memiliki feeling dengannya, bahwa ia sangat berarti bagi saya.

Ia seorang muslimah yang taat dan memiliki ilmu agama yang banyak sehingga bisa mengajari saya. Tak hanya bisa mengajari saya ilmu agama, ia juga bisa mengajari saya bahasa Arab, karena ia memang berasal dari Arab. Kami berbicara lewat telepon dan email selama beberapa bulan. Berbicara lewat telepon dan email memang sangat menyenangkan, tapi kami sadar kami harus bertatap muka langsung untuk memperoleh kecocokan secara langsung. Selalu tanamkan ajaran Islam pada diri, bahwa yang kami lakukan untuk membuat semuanya halal dan tepat berada pada tempatnya.

Dengan persetujuan keluarganya, saya memutuskan akan berkunjung ke rumahnya di bulan Ramadhan agar bisa berbuka bersama dengan seluruh keluarganya. Saya sangat gugup dan saya memiliki alasan yang jelas untuk itu. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya dan pastinya anda sadar; calon istri saya dan keluarganya adalah orang asli Arab. Sementara saya adalah orang yang selama ini rasis dan memiliki masalah dengan perbedaan budaya dan kini saya akan bertemu dengan calon istri dan keluarganya yang notabene berasal dari Arab. Dengan berbekal tawakal dan kerongkongan yang terasa tercekat saya mempersiapkan pertemuan dengan perempuan mengagumkan ini dan keluarganya yang terlihat menakutkan bagi saya. Saya tiba di Washington DC tepat sebelum matahari tenggelam. Dengan membawa tas, saya menunggu taxi lewat. Hingga datanglah sebuah taxi dan saya menaikinya.

Di depan stir, seorang sopir taxi mengenakan gutra merah bercorak petak-petak dan sorban Arab di kepala. Ketika berada di dalam, saya mengucapkan salam,”Assalamualaikum.” Dan ia membalas salam saya. Matahari telah tenggelam, saya lihat ia berbuka dengan sebutir kurma. Ia bertanya,”Apakah anda berpuasa?” “Ya” jawab saya. Kemudian ia menawarkan kurma kepada saya. Saya kira laki-laki tua ini asli Afganistan. Saya pikir ini pertanda baik bagi saya.

Setelah meletakkan barang-barang di hotel, saya bergegas menuju rumah keluarga calon istri saya. Saya membawa kurma dan parfum sebagai hadiah. Setelah keluar dari taxi, saya berjalan mantap hingga ke depan pintu rumah. “Bismillah” ucap saya dalam hati. Saya yakin Allah memilihkan yang terbaik untuk saya. Gambaran-gambaran adegan setelah ini berputar-putar dalam pikiran saya: ia akan menyukai saya namun keluarganya akan menolak saya mentah-mentah atau keluarganya tak akan keberatan tapi ia tak tertarik dengan saya. Bagaimana jika mereka menyukai saya namun saya tak menyukai mereka? Jarak 10 meter dari pintu rumah itu terasa seperti 10 mil. Begitu lama.

Akhirnya saya tiba di depan pintu rumah itu dan segera memencet bel. Saya rasa seluruh isi rumah menjawab panggilan saya: orang tua, orang-orang seusia saya, laki-laki, perempuan, dan semuanya. Dengan hangat mereka semua menyambut kedatangan saya. Alhamdulillah, semua kekhawatiran saya telah sirna. Mereka cepat akrab dengan saya. Setelah berbincang saat makan malam, akhirnya semuanya jelas: kami telah merasa serasi.

Di bulan Januari kami melangsungkan pernikahan di hadapan kawan dan keluarga. Bulan madu kami sangat menyenangkan. Kemudian saya kembali ke Alaska untuk menyelesaikan pekerjaan hingga akhir April. Setelah selesai, saya pindah ke Washington DC dan bekerja di cabang perusahaan saya di sini. Saya sudah sekitar dua tahun di sini. Ini sangat mengagumkan. SubhanaAllah, bagaimana Allah menuntun saya dari seorang kafir yang tinggal di sebuah rumah yang penuh kebencian hingga menuju Islam. 

Sekilas, tampak memang saya tak diberikan sosok ayah dalam hidup saya oleh Allah, tapi itu bukan masalah buat saya. Allah selalu mengawasi saya. Dia menuntun saya melewati setiap bahaya dan masa-masa pahit untuk menjadi seorang lelaki sejati dan seorang muslim. Orang-orang mengatakan keajaiban tak pernah datang sekarang, tapi kisah saya membuktikan kata-kata itu salah.


Tuesday, 28 October 2014

, , , , , ,

Alahamdulillah, Akhirnya Saya Menemukan Islam


Nama Anne, usia 29 tahun, dan tinggal di Otario, Kanada. Sekitar tujuh tahun yang lalu saya masuk Islam. Saya lepas dari keluarga saya ketika berusia 22 tahun dan tinggal di tempat baru seorang diri. Saya merasakan tekanan jiwa yang begitu hebat selama itu. Saya mencoba menemukan diri saya dan memahami tujuan hidup yang sesungguhnya.

Saya memutuskan untuk mulai membaca Injil. Sejujurnya, sebelum ini saya tak pernah meluangkan waktu untuk sekadar membaca Injil. Selama saya membaca, saya tak bisa memahami isi kandungan Injil, sehingga membuat hati saya ciut. Suatu ketika, beberapa kawan berkunjung ke rumah saya. Setelah beberapa lama, mereka berkata bahwa mereka ingin shalat. Ketika mereka melakukan shalat, saya melihat mereka dan dalam batin saya berkata, saya tak paham dengan apa yang mereka kerjakan. Karena itu, setelah mereka selesai shalat, saya bertanya kepada mereka tentang apa yang baru saja mereka lakukan. Kemudian mereka menjelaskan bahwa mereka adalah muslim. Jujur saja, saya belum pernah mendengar tentang Islam hingga hari itu. Mereka memberikan saran kepada saya untuk membaca Al-Qur’an agar saya mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap.

Di hari berikutnya, saya pergi ke toko buku untuk membeli muskhaf Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris dan meminjam sejumlah buku tentang Islam kepada kawan saya. Saya mulai membaca semua buku-buku itu sendiri sepanjang hari. Setiap kali saya membaca Al-Qur’an saya akan menangis karena selalu ada perasaan berbeda. Hati saya terasa berisi karena kalam-kalam yang saya baca begitu menyentuh hati saya. Kandungan Al-Qur’an begitu mudah dipahami dan kemudian saya sadari bahwa inilah yang selama ini hilang dari saya. Dan saya memiliki niatan untuk masuk Islam. Perasaan bahagia ini menggetarkan jiwa saya. Dua minggu kemudian, saya mengikrarkan syahadatain dan itulah hari terbaik saya.

Saya mulai melakukan shalat. Saya berpuasa senin-kamis karena saya membaca bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam terbiasa berpuasa pada dua hari itu. Saya menemukan grup online yang mewadahi para muallaf yang kantornya berada di daerah saya. Saya bertemu orang-orang yang begitu mengagumkan, terbuka, baik, dan peduli. Menjadi seorang muslim membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dan ini adalah hadiah yang lebih baik daripada hadiah-hadiah yang ada di dunia.

Nasehat saya kepada para mualaf, agar selalu masuk ke dalam komunitas muslim dan selalu mencoba tetap berhubungan dengan mualaf lain. Penting untuk kalian tetap berada dalam lingkungan Islami agar mendapatkan ilmu dan menambah keimanan. Kalian pasti merasakan masa-masa sulit karena saya sendiri merasakannya, tetapi bersabarlah, karena Allah tengah memberi hikmah di balik semua itu.

Insya Allah Hadith of the Day membantu saya dengan selalu memberikan semangat berislam setiap kali saya membaca tulisan-tulisan yang diposkan dan juga mengajari berbagai hal yang belum saya mengerti.

Anne Marie

Sunday, 26 October 2014

, , , , ,

Subhanaallah, Islam Memberi Segala yang Dicari Perempuan Tunanetera Ini


Nama saya Aisha, lahir di Sanford, Florida di tahun 1990, dalam keadaan tunanetra. Saat berumur sekitar 2 tahun, saya mulai tinggal bersama nenek di Las Vegas. Saya tumbuh dalam keluarga yang tak agamis. Saya tinggal bersamanya hingga ia meninggal dunia ketika usia saya menginjak 20 tahun. 


Saya tak memiliki saudara. Saya tak bisa tinggal bersama ibu karena beliau seorang bramacorah dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang. 



Tumbuh sebagai tunanetra membuat nenek saya selalu mengajari saya untuk menjadi pribadi yang kuat, lakukan apa yang ingin dilakukan, gapailah cita-cita, dan jangan biarkan apa pun masuk dalam hidupmu. Dulu saya bersekolah di Kompleks Gereja Unitari, di mana saya akan bertemu banyak teman dan bersuka ria. Hari libur, seperti hari Paskah dan Natal adalah hari-hari di mana saya dulu bersuka ria, mendapatkan banyak hadiah, dan makan banyak permen. 



Ketika kira-kira umur saya menginjak 10 tahun, nenek saya menyekolahkan saya di sekolah terbaik bagi penyandang tunanetra di daerah itu, sehingga kami harus pindah ke Jalan Augustine, FL di mana Florida School (sekolah bagi penyandang tunarungu dan netra) berada. 



Setelah lama bersekolah di sana, saya menjadi bintang lapangan dalam olah raga Goal Ball. Goal Ball adalah olah raga bagi penyandang tunanetra, setiap tim terdiri atas tiga pemain dan dimainkan di dalam sebuah lapangan basket. Dipermukaan lapangan dipasangi pita dengan benang yang membentang, sehingga setiap pemain dapat merasakan satu sama lain, dan di dalam bola terdapat lonceng. Tujuan permainan itu adalah memasukkan bola ke gawang dan menjaga gawang bagi tim lain.



Suatu hari, seorang gadis muslim datang ke sekolah kami selama beberapa waktu, tapi hal itu tak pernah membuat saya lantas menerimanya. Kami selalu mengejek suara dan cara dia berbicara. Ada juga seorang anak laki-laki muslim yang bersekolah di sana yang kemudian pindah ke Mesir. 



Desember 2007, nenek saya mengajak saya dan teman saya berwisata ke Eropa. Perjalanan wisata tersebut juga memuat paket perjalanan ke Maroko. Saya rasa Maroko sangat mengagumkan. Bahasa Arabnya membangkitkan minat saya, masyarakatnya begitu santun, dan makanannya sangat enak. 



Pemandu perjalanan memperkenalkan dirinya bernama Ali. Saya sangat tertarik ketika ia mengatakan Allah dan apa artinya? Saya bertanya-tanya. Ia menerangkan kepada saya bahwa ia seorang muslim dan Allah adalah Tuhan dan ia menyembah-Nya. Tak ada Tuhan selain-Nya dan Muhammad adalah utusan-Nya. 



Namun hal itu tidak terlalu menarik hati saya hingga saya kembali ke Amerika dan memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang seorang perempuan Arab yang dipermainkan oleh suaminya. Untuk menciptakan alur cerita yang natural, saya harus mempelajari Islam karena dulu saya pikir Islamlah yang memperlakukan perempuan dengan sangat buruk. Saya melakukan riset tentang pakaian, bahasa, apa yang sering dikenakan laki-laki dan perempuan Islam, mengapa perempuan mengenakan pakaian seperti itu, dan tentunya berbagai hal tentang Islam. 



Selama beberapa tahun saya menghentikan penulisan cerita itu untuk mempelajari Islam. Dan saya begitu takjub dengan apa yang saya temukan. Segala hal dalam Islam tak ada yang bertentangan dengan logika. Kita beribadah hanya kepada Allah dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasul terakhir. Saat itu, akhirnya saya tahu bahwa Yesus berdiri di atas kebenaran Islam, karena meskipun saya tidak berasal dari keluarga agamis, saya masih tetap berdoa kepadanya. Namun ketika saya mengetahui bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah rasul Allah, hal itu meningkatkan spiritual saya. Segalanya masuk akal. Setiap kali saya membaca tentang Islam, selalu ada yang mendorong saya untuk terus mendekat dan mendekat, seolah-olah saya sedang berada di sebuah pesawat yang terbang jauh dan hampir mendarat ke tempat tujuan. Rasanya seperti ada yang menarik saya keluar pesawat yang saya tumpangi dengan meloncat keluar. 



Suatu ketika, seorang perempuan berbincang dengan saya tentang anaknya yang tiba-tiba masuk Islam. Perempuan ini penganut ajaran Katolik yang kuat, sehingga memiliki pandangan bahwa segala tentang Islam adalah salah dan bisa dibayangkan betapa ia membenci anaknya itu. Saya memutuskan untuk mengunjungi anaknya. Ketika berada di dalam rumahnya, saya menanyakan pertanyaan mendasar tentang Islam, meskipun saya sebenarnya telah mengetahui jawabannya, namun saya ingin mendengar langsung jawaban dari seorang muslim, tidak hanya mengetahui jawaban seperti yang selama ini saya baca di berbagai artikel dan internet. Dan ternyata jawabannya sama seperti yang telah saya ketahui dan bahkan ia menambahkan beberapa informasi. Selama beberapa minggu, saya menemuinya di perpustakaan dan ia juga memberikan beberapa CD tentang Islam. 



Suatu hari, ketika saya berkunjung ke rumah paman saya bersama nenek saya di New Jersey, lima hari sebelum hari Natal, saya bangun di pagi hari dengan sebuah perasaan berbeda. Saya menelpon teman saya dan berkata bahwa saya ingin masuk Islam. Mendengar hal itu, ia sangat gembira, namun kemudian ia mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan bahwa saya telah benar-benar paham dengan apa yang akan saya lakukan. Setelah saya menjawab dengan mantap, ia pun menuntun saya mengikrarkan syahadatain dan akhirnya saya masuk Islam. Setelah itu, saya merasa begitu bahagia dan merinding di sekujur tubuh. Kemudian saya mandi, namun perasaan itu benar-benar tak mau hilang. 



Saya sedikit ragu untuk mengabarkan hal ini kepada nenek saya. Namun saya putuskan untuk memberitahunya. Awalnya ia agak takut dengan apa yang saya lakukan, ia mengira saya telah melakukan tindakan keliru, namun saya berikan kepadanya beberapa artikel untuk ia baca dan setelah itu ia bisa menerima. Di bulan Januari, saya bertemu muslimah lain yang kemudian memberikan saya hijab dan mengajari saya shalat. Saat itu saya telah terbiasa memakai blus dan rok panjang. Saya sedikit takut untuk berangkat ke sekolah setelah itu, karena saya bakal jadi satu-satunya muslim di sekolah. Namun saya beranikan untuk tetap datang dan hasilnya beberapa orang menjauh dari saya, namun saya memperoleh begitu banyak pengalaman. 



Alhadulillah, telah 4 tahun saya menjadi muslimah. Meskipun berbagai rintangan telah menghampiri saya, seperti muslim lainnya, hal itu malah membuat keimanan saya semakin kokoh. Dan sekarang saya telah memakai niqab dan saya rasa hidup saya telah sempurna. Saya berusaha untuk menyebarkan risalah Islam. Mencoba menyadarkan kepada yang lain betapa indahnya Islam dan kebahagiaan yang bakal terperoleh setelah masuk Islam. 



Saya percaya, Islam telah menyelamatkan saya dari kehidupan yang saya pilih. Allah itu Maha Penyayang dan betapa tak sadar kita telah sering menyianyiakan ini. Kita harus yakin bahwa Allah selalu bersama kita di mana pun kita berada dan Dia Maha Pemurah!


Aisha F. 

Sunday, 7 September 2014

, , , , , ,

Nama saya Abdul Aleem dan beginilah kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Abdul Aleem, umur 28 tahun, dan tinggal di Lost Angeles, California. Saya bersyukur, Allah telah membuka hati saya untuk menerima Islam. Saya tumbuh dalam keluarga kependetaan umat kristiani. Dulu saya pikir orang-orang Islam adalah kumpulan orang aneh dan bahkan terkadang saya juga mengolok-olok mereka. Hal ini tentu karena manusia memiliki tendensi untuk merasa aneh ketika melihat sesuatu yang belum dipahaminya. Sebelum saya melihat orang-orang muslim di masjid, saya kira orang-orang muslim adalah orang-orang hitam yang mengenakan dasi kupu-kupu dan menjual kue kacang.

Saya pernah dihubungi oleh Negara Islam, tapi saya tidak pernah menindaklanjuti panggilan itu, karena menurut saya ada sesuatu yang tidak benar yang tak bisa saya pahami. Sebelum masuk Islam, saya adalah pengguna narkoba dan banyak melakukan tindakan buruk lainnya. Semasa di penjara, saya berbicara dengan saudara Abu dan Mujahid dan menjadi banyak tahu tentang Islam. Saya membaca lebih banyak lagi buku-buku tentang Islam dan saat itu rasa ingin tahu saya tentang Allah subhanahuwataala dan nabi-Nya Muhammad salallahu alaihi wa sallam benar-benar besar. Dan saya mendapat prespektif baru dalam memandang Yesus. Pengetahuan itu lebih dari yang selama ini saya yakini dan saya menyukai itu. Saya semakin ingin tahu, karena itu saya mulai membaca Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Al-Muwatta’ karya Imam Malik. Setelah itu saya mulai menghadiri kajian-kajian Islam dan shalat Jum’at. Saya mulai membaca Al-Qur’an dan ketika itu, saya selalu merasa gemetar saat mengetahui maknanya, hingga akhirnya saya percaya pada kebenaran Islam.

Setelah itu, saya menyatakan secara terbuka bahwa tak ada tuhan selain Allah dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Akhirnya saya mengucapkan syahadatain setelah shalat Jum’at dibimbing oleh Imam al Amin dari Islam Senter Moreno Valley dan seorang ustad di penjara. Saya bersyukur kepada Allah subhanahuwataala dengan penuh keihklasan yang telah memberikan apa yang selama ini cari.

Saya mengubah seluruh jalan hidup saya masa lampau, yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Saat itu tahun 2008, sejak saat itu saya tak pernah lagi melihat ke belakang. Setelah saya bebas dari penjara, saya mulai mendatangi sekolah-sekolah dan menawarkan diri untuk menjadi konselor bagi pemakai narkoba dan pecandu minuman keras. Saya telah menjadi konselor sejak tahun 2010. Saya membantu orang-ornag dan menunjukkan kepada orang-orang jalan yang lebih baik. Saya juga bekerja dengan beberapa saudara muslim yang memiliki masalah-masalah kecanduan. Saya sangat mencintai pekerjaan yang saya lakukan, Alhamdulillah.

Saya ingin berhubungan dengan saudara-saudara muslim dari seluruh Amerika dan luar Amerika. Terima kasih kepada Hadith of The Day yang telah mengizinkan saya menceritakan kisah saya. Semoga Allah subhanahuwataala memberikan pahala atas usaha kalian semua dan mengapuni kita semua dan memasukkan kita ke dalam Jannatul Firdaus. Amin.

Abdul Aleem.



Friday, 5 September 2014

, , , , , ,

Nama saya Jacop dan beginilah kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Jacop dan saya berasal dari Amerika, tumbuh besar di pemukiman biasa Oklahoma selatan. Saya punya cerita panjang sebelum akhirnya masuk Islam.

Sejak kecil saya selalu percaya tentang adanya tuhan. Ayah saya meninggal ketika saya baru mulai bisa berjalan dan ibu saya tak punya nilai-nilai agama sama sekali yang bisa diajarkan kepada saudara-saudara saya yang lebih tua begitu pun kepada saya. Kakak perempuan saya telah pindah sejak lama, karena itu hanya ada kakak laki-laki saya dan saya sendiri. Waktu itu, kami mencoba ke gereja sesering mungkin dengan siapa pun, tapi saya tumbuh bersama kekecewaan terhadap ajaran protestan dalam beribadah yang termuat di “Bible Belt”.

Pertama kali saya mengetahui bahwa ada orang yang percaya kepada Tuhan namun bukan dari kalangan kristen adalah ketika saya SMA. Perempuan muda yang sangat menyenangkan yang menginspirasi diri saya untuk tidak berpikir picik dalam menyikapi setiap hal, ketika suatu hari saya berbincang dengannya dan dia mengungkapkan perkataan “segala puji bagi tuhan”.

Saya sangat terkejut saat itu. Dia sangat mengagumkan bagi saya dan bagi teman-teman lain (dia punya sekelompok teman) dan dia mengatakan itu? (segala puji bagi tuhan). Saat itu saya seorang agnostis. Saya percaya kepada tuhan, namun saya tak yakin dengan segala bentuk agama. Bahkan, saat itu saya tidak bisa memahami konsep tuhan menurut pemahaman nonkristen. Saya selalu diajari bahwa pemahaman lain hanya akan memberikanmu satu tiket ke neraka.

Singkat cerita, setelah tamat SMA, saya gagal masuk tentara di tahap awal latihan. Rasanya saat itu saya menggelandang ketika saya kembali pulang. Saya marah kepada Tuhan, menyalahkan-Nya karena membuat saya menderita dan tak berguna. Itu terjadi setelah beberapa tahun saya berdikari dan sebelum saya melakukan penyelidikan tentang agama.

Saya telah bertemu dengan beberapa orang Yahudi, Jehovah’s Witnesses, Roman Catholics, Mormons, dan Charismatic Protestants, dan sangat kagum dengan apa yang mereka katakan. Masing-masing memiliki keimanan murni. Masing-masing memberikan jawaban cerdas kepada saya.

Saya berteman dengan beberapa orang seumuran yang juga selalu hadir di Gereja Charismatic Protestant. Setelah setahun, saya hadir di gereja itu, saya memutuskan ikut paduan suara untuk ritual ibadah dan saya mencoba melebur lebih dalam. Satu setengah tahun kemudian, saya mendaftar di Kampus Bible di kota lain. Saat itu, saya tetap mencari, karena tidak yakin secara pasti bahwa ajaran protestan adalah jalan menuju tuhan.

Saya tak lama di kampus itu. Setelah empat bulan, saya memutuskan untuk keluar dan kembali bekerja serta tetap penasaran terhadap tuhan. Saya menghabiskan banyak waktu luang saya di perpustakaan umum, dan di sanalah saat itu saya menemukan Al-Qur’an terjemahan Inggris. Di saat bersamaan, saya juga sedang mendalami katekismus terbaru gereja katolik, dan saya mendapatkan beberapa catatan batin.

Karena saya mahir tentang ajaran katolik, keuskupan lokan mengizinkan saya melewati RCIA (Rite of Christian Initiation for Adults) resmi dan dibabtis kemudian ditetapkan di gereja. Saya mulai mengajukan pertanyaan, mencoba memahami konsep trinitas, dan bagaimana tuhan bisa mati dalam tiga hari. Tak satu pun jawaban masuk akal saya terima. Saya masih tidak mendapat jawaban pasti, tapi saya terpikat dengan peribadatan katolik. Itu sangat menarik. Saya ikut paduan suara, sebagaimana telah saya lakukan sebelumnya, saya mencoba untuk damai dan terus bergembira, tapi setelah beberapa waktu, saya sadar saya tak akan tenang jika seluruh pertanyaan saya belum terjawab.

Karena itu, saya meninggalkan gereja katolik, dan ajaran kristen secara umum. Saat itu, saya tak berada dalam kondisi spiritual yang bagus, dan hal itu berdampak pada batin saya. Saya mulai menerka-nerka barang kali agama lain menyimpan kebenaran sejati di dalam ajarannya. Saya mulai mendalami ajaran Yahudi, juga Budha dan Hindu. Saat itu, saya masih berpikir tentang apa yang telah saya baca dari Al-Qur’an, namun dalam sanubari tetap terlintas ketakutan untuk mempelajari Islam secara mendalam karena adanya stereotip American Islamophobia. saya menyaksikan perlakuan kepada orang-orang nonkristen di Amerika Selatan setelah kejadian September 11, 2011.

Saya pindah ke luar negara di tahun 2005 ke Pantai Barat. Jauh dari rumah dan keluarga untuk pertama kali, saya mempelajari ajaran Yahudi secara kusus selama kurang lebih tujuh tahun. Hingga suatu hari, saya heran pada diri saya sendiri, apa yang sebenarnya saya takutkan? Saya mulai menjelajahi laman-laman situs di internet, mencari segala hal tentang Islam, keyakinan, atau apa pun juga. Saya membeli Al-Qur’an terjemahan Inggris di toko buku. Hingga akhirnya, saya merasa pertanyaan saya selama ini telah terjawab.

Hanya ada satu Tuhan. Kita diciptakan untuk menyembah-Nya semata. Isa, Ibrahim, Musa, Nuh, Daud, dan Muhammad (alaihiwasallam jamian) semuanya mengajarkan risalah yang sama tentang Tuhan yang sama.

Hal itu membutuhkan waktu sekitar empat tahun, hingga akhirnya saya mengucapkan syahadatain pada tangga 14 April 2013. Saya menjadi lebih bahagia daripada sebelumnya. Saya suka mengatakan pada orang lain bahwa saya Muslim. Nenek saya dan saya memiliki ketertarikan khusus untuk berdiskusi tentang surga dan neraka. Beberapa orang menerima, dan beberapa yang lain masih tak mau menerima. Malangnya itu karena persoalan kemanusiaan. Tapi saya berdoa semoga Allah membuka mata dan hati mereka.  

SubhanAllah! Alhamdulillah!