Showing posts with label mualaf. Show all posts
Showing posts with label mualaf. Show all posts

Monday, 26 January 2015

, , , , ,

Setelah Kejadian 9 September, Seorang Anggota Marine Corps Masuk Islam


9 September adalah hari perenungan bagi saya karena beberapa sebab. 
Pada tanggal 9 September saya akhirnya menyadari bahwa:
1. Saya dulu adalah seorang Marine
2. Saya dulu bersedia mati demi negara
3. Islam bukan hanya agama perdamaian, melainkan juga agama yang paling benar

Kebanyakan orang menerima pengakuan saya yang pertama dan kedua tanpa pertentangan apa pun ketika saya ceritakan kembali kisah saya ini. Namun pengakuan saya yang ketiga selalu menemui pertentangan. Saya tak akan menceritakan seluruh kisah saya, saya hanya akan membicarakan tiga poin penting. 

Pengakuan pertama: saat itu terkesan berbeda ketika saya bergabung dengan Marine Corps di tahun 1998. Sebagian besar kawan satu angkatan saya yang bergabung dengan Marine hanya menjadikannya sebagai alasan agar tidak hanya menganggur di rumah atau agar tidak harus kuliah. Banyak orang lain juga, seperti saya, bergabung dengan Marine untuk menjadi bagian dari organisasi militer terhebat sedunia. Saya tak pernah bermimpi akan ada perang, betapapun banyak latihan perang yang telah saya ikuti. Bisa saja saya melakoni berbagai peperangan, namun saya sudah terlanjur senang berada di depan meja kerja setiap hari atau bepergian bersama Presiden Clinton ke pabrik pembuatan motor Harley David Son di Pennsylvania atau ke pantai selatan, Miami. Hal itu itu berlangsung terus hingga peristiwa 9 September terjadi. 

Hari itu, saya akhirnya benar-benar menyadari bahwa saya adalah anggota Marine. Hari itu, perasaan untuk berperang tiba-tiba muncul dalam diri, dan tak ada yang lebih saya ingin lakukan kecuali berperang melawan para begundal yang telah berani menyerang Amerika, negeri terbesar di jagat ini! Hari itu saya tahu, bahkan para penjahat kota, jajaran pemerintah, hingga para kru perusahaan penerbangan, siap melakukan apa yang Marine lakukan. 

Hari itu, elang, dunia, pelaut, bersatu dan prajurit perang yang tak pernah saya tahu adanya, tiba-tiba hidup. Hari itulah yang membuat saya sadar, saya adalah seorang Marine!

Pengakuan kedua: Karena gawatnya hari itu, saya sadar sesuatu harus dilakukan. Saya tak tahu dengan pasti, tapi saya tahu sesuatu itu harus dilakukan. Saya mulai berpikir tentang semua piala kehormatan para pemenang yang telah mengorbankan hidupnya demi kepentinan orang lain. Saya tak pernah benar-benar mengerti hal itu sebelumnya, tapi setelah peristiwa 9 September sesuatu yang berbeda datang kepada saya. Jika para pembunuh berdarah dingin memiliki kemauan keras untuk melakukan ini, saya juga akan memiliki kemauan keras dan melakukan segala cara untuk mengalahkan mereka.  

Saya tak tahu harus melakukan apa, tapi satu hal yang saya tahu: jika saya memang harus mati, saya ingin mati demi negara saya. Saya tak pernah merasakan perasaan semacam ini. Sebelum peristiwa 9 September, seragam yang saya kenakan hanyalah simbol pekerjaan saya. Namun setelah peristiwa 9 September, saya bersumpah demi almamater dan negara, saya siap bertempur apa pun yang terjadi. 

Saya ingat saat itu sekitar jam 10 malam, sebelum pangkalan telepon mati, saya menelpon ibu saya dan beliau terus berbicara sambil menangis. Kata-kata yang bisa saya ucapkan hanya “Ibu aku mencintaimu dan katakan pada semua orang, aku mencintai mereka, tapi saat ini aku harus menjalankan tugas yang aku digaji karenanya.” Saya juga katakan pada beliau bahwa mungkin ini adalah percakapan terakhir. Saya tahu apa yang harus dilakukan dan saya tak terlalu peduli lagi dengan gaji, yang saya tahu Amerika harus menang. 

Pengakuan ketiga: peristiwa ini mungkin menjadi sesuatu hal yang paling sulit untuk diterangkan dan masih berada di momen 9 September. Kami semua masih tetap siaga selama lebih dari 14 jam setiap hari. Kami tidak tahu aksi apa yang perlu dilakukan. Kami hanya menunggu dan menunggu. Setelah itu, 9 Oktober, ketika keadaan karena peristiwa menyeramkan itu berangsur-angsur pulih, saya mulai merenung. Kebanyakan tentang pengakuan saya yang pertama dan kedua, namun berangsur-angsur saya mulai bertanya-tanya dalam hati: Siapa sesungguhnya orang-orang yang melakukan ini? Mengapa mereka melakukan ini? Benarkah keyakinanan mereka sedemikian gila: melakukan bunuh diri untuk membunuh orang lain? Saya terus-menerus bertanya dalam hati. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menggali berbagai informasi. Saya ingin mengetahui dulu profil musuh saya sebagai persiapan untuk mengalahkan mereka. Sebagai seorang kristen yang taat, pemandu suara di gereja, dan seorang ketua perkumpulan studi injil, saya ingin mengetahui buku pedoman yang digunakan oleh si pembunuh ini, supaya nanti saya bisa memberi tahu kawan atau para jemaat. Saya belum pernah bertemu seorang muslim pun. Satu-satunya hal yang saya ketahui tentang agama adalah gereja (kristen). Jadi saya mulai dengan membaca Al-Qur’an. 

Ketika kondisi di pengkalan mulai longgar, saya memutuskan untuk pergi ke toko buku dan membeli Al-Qur’an. Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris, tanpa bahasa Arab. Dengan penuh kedongkolan dan pandangan hina, saya mulai membaca. Bacaan pertama adalah:

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan.
Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apa ini! Saya sangat terkejut dengan apa yang saya baca. Saya pikir saya akan membaca tentang seruan untuk membunuh orang-orang kristen atas nama Tuhan yang lain atau sesuatu hal yang lain. Di mana pernyataan-pernyataan keras dan seruan-seruan untuk memerangi Amerika? Bacaan ini seperti doa yang sering saya baca, karena itu saya lanjutkan untuk membaca.

Setelah saya membaca banyak, saya berlajar banyak hal, seperti Tuhan itu tunggal, perang hanya diwajibkan untuk mempertahan diri terhadap penyerangan, menghargai agama lain dan tempat ibadah lain, muslim percaya kepada Nabi Isa (Yesus). Saya sangat terkejut bahwa ada orang lain di seberang sana yang percaya kepada Yesus (Isa). Dengan kata lain, saya tak menemukan apa pun yang saya harapkan, saya tak temukan para begundal dengan senjata api di tangan yang disebutkan di dalamnya. Kekerasan-kekerasan yang saya temukan hanyalah kisah-kisah tentang kaum terdahulu. Saya malah banyak menemukan seruan tentang kesabaran, shalat, dan keseimbangan. Al-Qur’an bukan murni buku tentang sejarah meski ada berbagai kisah sejarah di dalamnya. Al-Qur’an juga bukan murni buku yang berisikan dogma-dogma, meski tersemat dogma-dogma di dalamnya. Bagi saya, hal luar biasa yang saya temukan adalah ketika membaca Al-Qur’an, “pengarang” seolah berbicara secara langsung kepada saya, bukan melalui perantara orang ketiga atau keempat. Setiap pertanyaan yang saya tanyakan pasti ada jawabannya dan setiap jawaban yang diberikan selalu ada pertanyaan balik kepada saya. 

Kitab itu memaksa saya untuk berpikir, menantang saya, dan memberi bukti kepada saya. Inilah buku tentang bukti, inilah buku tentang diskusi. Kitab ini membuat keinginan saya lebih kuat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Tentu saja hal ini menyulitkan saya pada mulanya. Emosi mulai mereda. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan, namun saya menyadari satu hal: saya percaya dengan ayat-ayat ini dan ingin menjadi bagian dari pemeluknya. Yang pasti, para begundal yang telah menyerang Amerikan tak mungkin membaca buku yang sama seperti yang saya baca. Pasti kami membaca dua buku yang berbeda. 

Saya mulai tak peduli lagi dengan para begundal yang telah menyerang Amerika dan malah semakin terkagum-kagum dengan isi dari Al-Qur’an. Sementara mereka (para begundal) sibuk dengan pembunuhan dan kekerasan, saya memperoleh ketenangan akan cinta Tuhan, manusia, dan perdamaian. Hingga saya percaya bahwa orang yang tidak memercayai seperti apa yang saya percayai akan dimasukkan ke dalam neraka. Sekarang barulah saya bisa merasa adanya kesatuan iman. Saya percaya bahwa setiap manusia diperintah untuk menyembah Tuhan dan Tuhan mencintai setiap insan, bukan hanya kelompok pilihan. 

Karena semua yang saya baca ini membuat pondasi keimanan (kristen) saya menjadi goyah, saya mencoba mendiskusikannya dengan keluarga dan pastur, kakek saya. Saya berharap dia akan membersihkan pikiran saya dan akan mengatakan kepada saya bahwa setan telah membuat bingung jalan saya. Namun sebaliknya, dia malah mengatakan bahwa ia percaya bahwa Islam juga berada di jalan yang sama seperti Yahudi dan Kristiani. Ia percaya bahwa ketiganya memiliki sumber yang sama dan bermuara pada satu hal yang sama. Ia berkata bahwa meskipun keluarga Ibrohim alaihissalam tidak selalu setuju dengan banyak hal, ketiganya tetaplah satu keluarga. Pada saat itu saya sadar bahwa jalan pikiran baru ini bukan sebuah halangan atau jalan setan yang menyesatkan, namun sebuah jalan baru bagi saya untuk menuju Tuhan. 

Peristiwa ini terjadi di minggu-minggu 9 Oktober. Bayangkan bertapa terkejutnya orang-orang, ketika saya beri tahu bahwa saya telah memeluk Agama Islam. Bayangkan betapa mengejutkannya, ketika saya mengubah tanda pengenal saya dari kristen ke Islam. Banyak yang tak menerima kenyataan itu, bahkan hingga sekarang, mereka tetap menentang. Tapi begitulah keyakinan. Kita kadang tak punya banyak kuasa ketika kita ingin memercayai sesuatu. Jika kita benar-benar yakin, kita akan sanggup melewati segala rintangan yang ada. 

Dan berbicara tentang apa yang telah saya alami setelah memeluk Islam, saya telah banyak menceritakannya. Saya dikatai seorang naif, penghianat, penipu, dan sebagainya. Saya sering dikatakan sebagai seorang yang tak pernah memeluk kristen atau bukan seorang kristen yang baik. Saya banyak ditanya bagaimana saya bisa berubah menjadi musuh agama (kristen) sementara negara sedang dalam bahaya. Hingga pangabdian dan kesetiaan saya sering dipertanyakan.  

Permasalahannya adalah banyak orang tidak bisa atau tidak mau memisahkan agama dari pekerjaan yang dilakoni seseorang, kecuali tentu saja mereka selalu berpikir agama adalah kristen atau yahudi, selain itu adalah kekonyolan. 

Tidak mengapa, karena saya mengabdi selama 3 tahun di Marine sebagai seorang muslim. Tidak mengapa, karena saya telah bekerja di negeri besar ini sebagai seorang muslim. Tidak mengapa, karena saya telah bekerja dan mengabdi di Marine Corps, di sebuah lembaga yang orang Amerika lain hanya bisa bermimpi untuk berada di dalamnya, di sebuah lembaga yang orang lain hanya bisa melihatnya dari luar dan bahkan banyak orang belum tahu keberadaannya. Semua itu saya saya jalani setelah saya menjadi muslim!

Tetapi saya sangat menyayangkan, setelah beberapa tahun berlalu, tak banyak yang berubah. Banyak orang masih membenci Islam dan muslim dan banyak muslim yang masih mempertahankan imannya, dan masih banyak muslim yang melakukan aksi-aksi yang bisa menyulut api kebencian. 

Saya hanya berdoa pada hari perenungan ini, bahwa kita sebagai orang Amerika, bahwa kita sebagai manusia harus mulai banyak merenung tentang persamaan kita dan kemudian perbedaan kita. Saya berdoa, bahwa suatu hari nanti kita akan mampu mengatasi prasangka buruk dan kebodohan kita, dan belajar untuk bekerja bersama. Saya berdoa bahwa suatu hari nanti kita bisa bekerja bersama untuk menghancurkan radikalisme dan ekstremisme dalam segala bentuknya. Saya berdoa bahwa suatu hari nanti kita bisa sadar bahwa perbedaan kita ini bukan hanya merupakan bukti kebesaran Tuhan, namun juga akan memberikan kita alasan dan dorongan untuk mengenal satu sama lain. 

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Al-Hujurat:13).

Robert Salaam


Saturday, 10 January 2015

, , , , ,

Seorang Wanita Keturunan Birasial Masuk Islam


Nama saya Dominica (Nikki), seorang janda berusia 40 tahun. Saya tinggal di Ohio Amerika. Ketika kecil saya selalu diajari untuk percaya pada Tuhan Yang Tunggal, tapi kami dulu bukan keluarga Islam. Kami dulu juga tak memakan daging babi, meski kami bukan kelurga Yahudi. Ibu saya telah tiada, namun ajarannya terpatri dalam benak saya. Kami dulu sering hadir ke Gereja, namun ibu saya selalu mengatakan untuk meniatkan doa hanya kepada Tuhan Yang Esa. Beliau adalah pembaca setia Injil Perjanjian Lama, dan sering mengatakan kepada kami bahwa tangah manusia telah merubah isinya, namun Tuhan telah meletakkan petunjuk di dalamnya kepada umatnya. Saya tak tahu dari mana ibu saya tahu semua itu, namun saya senang beliau mengetahui itu. Saya menghadiri Sekolah Babtis, di mana orang-orang di sana selalu berkata kami (saya dan saudara perempuan saya) bahwa kami adalah anak-anak hasil dari sebuah dosa (kami adalah keluarga birasial, ibu saya kaum hitam, ayah saya kaum putih). 

Seperti yang anda lihat mereka tidak pernah berada pada jalan agama yang benar. Saya ingat ketika kecil, saya selalu bertanya mengapa saya tak pernah bisa meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan. 

Saya berhenti hadir ke Gereja selama bertahun-tahun setelah tamat sekolah. Dan saya kembali hadir ke Gereja setelah berumur sekitar 30-an tahun. Meski saya selalu hadir ke Gereja, saya selalu berdoa kepada Tuhan Yang Esa, bahwa saya hanya ingin tempat untuk menyembah-Nya. Saya tak pernah berdoa kepada Yesus melainkan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Suatu ketika akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah Masjid dalam rangka belajar, namun lelaki muslim yang juga belajar dengan saya selalu membual soal istri-istrinya yang banyak. Hal itulah yang membuat langkah saya surut. Ketika saya datang di sana, saya tak merasa nyaman kearena begitu menonjolkan identitas kebangsaan. Dan satu-satunya muslim yang saya kenal adalah lelaki itu. Hasilnya saya hanya datang pada beberapa pertemuan, kemudian saya berhenti total. Saya berkesimpulan waktu itu Masjid bukanlah tempat yang bersahabat. 

Anda tak bisa terus berjalan di luar jalur, anda harus paham dengan apa yang anda lakukan (bagaimana cara berpakaian yang baik dan mengapa harus berdoa dengan bahasa selain bahasa ibu), jika tidak, anda akan merasa tidak cocok dengan semua itu. Saya tak pernah bernar-benar mencintai Gereja, saya hanya ingin selalu dekat dengan Tuhan. 

Saya menjadi orang tua asuh ketika berumur 35 tahun (di Amerika ada banyak anak kulit hitam yang ditampung di panti asuhan dan diizinkan untuk diadobsi). Sehingga saya memutuskan untuk mengadobsi dua di antaranya. Mereka berdua telah bersama saya selama 5 tahun dan akhirnya saya memutuskan untuk mengadobsi mereka. Jika tidak demikian mereka akan tetap mengikuti sistem: mereka akan diujicobakan untuk tinggal dari satu rumah ke rumah yang lain. Saya mengadobsinya 2 tahun yang lalu. Sekarang mereka telah berusia 13 dan 12 tahun. Sebelum saya memutuskan untuk mengadobsi mereka, saya menikah, dan suami saya setuju untuk mengadobsi mereka. Suami saya seorang yang baik. Ia meninggal 10 minggu setelah kami menikah, oleh serangan jantung yang mendadak. 

Segalanya terasa hancur setelah itu. Dua anak itu dengan latar belakangnya: dua bocah yang kehilangan orang tuanya, tinggal di panti asuhan, dan sekarang harus kehilangan sosok bapak yang mereka kenal. Dan hal itu menyisakan trauma yang mendalam. Begitu juga bagi saya. Saya mulai minum alkohol untuk terlelap tidur di malam hari, dan terus minum dan minum. Saya masih membutuhkan Tuhan, namun saya pikir dengan minum alkohol terus menerus, saya tak akan suci lagi untuk sekadar memohon kepada Tuhan. Hingga saya dibawa ke tempat rehabilitasi untuk menyembuhkan ketergantungan saya terhadap alkohol. Saya mengalami masa-masa berat karena tidak diperbolehkan minum alkohol, hingga saya memunajatkan sebuah doa kepada Tuhan, saya ingat doa itu. 

Saat itu akhir tahun lalu. Saya ingat saat itu saya berkata kepada dua anak saya bahwa mereka tidak akan membuat setengah kesalahan yang mungkin akan mereka lakukan, jika mereka mendengarkan ibu mereka. Kemudian saya pikir, jika saya ungkapkan doa saya malam itu, saya tidak akan membuat setengah kesalahan yang mungkin akan saya lakukan jika saya pasrah dengan takdir Tuhan. 

Saya bermunajat kepada Tuhan,”Aku tak peduli jika aku tak akan pernah mendapat suami lagi, aku tak peduli seberapa banyak materi yang aku miliki di dunia ini, aku hanya menginginkan-Mu dalam hidupku. Dan aku pasrah dengan kehendak-Mu.” Saya mengungkapkan doa itu saat itu, tapi baru sekarang saya menyadarinya. Saya tidak peduli apa pun di dunia ini kecuali Tuhan. 

Sejak doa itu saya panjatkan tak pernah ada lagi keinginan untuk minum alkohol. 

Kemudian datang seorang kawan yang telah saya kenal sejak lama, ia telah menjenguk saya beberapa kali kira-kira satu bulan setelah suami saya meninggal. Ia mengenal saya dan suami saya. Ia menawarkan Islam kepada saya. Saya ceritakan kepadanya bagaimana rasaya ketika saya belajar Islam selama beberapa waktu. Tetapi saya mengatakan kepadanya saya akan membaca Al-Qur’an. Dan saya membaca Al-Qur’an hingga akhirnya mengikrarkan syahadatain. 

Alhamdulillah, Saya seorang muslimah sekarang. Saya telah menjadi mualaf sejak 19 Juli 2002. Dan inilah momen paling menggembirakan dalam hidup saya. Saya tahu saya masih harus belajar banyak, tetapi akhirnya saya mendapatkan tempat untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah. Inilah kisah saya, segala puji bagi Allah. 

Terima kasih telah mengizinkan saya menceritakan kisah saya, Nikki. 

Monday, 29 December 2014

, , , , , , ,

Saya Temukan Cinta Sesungguhnya Dalam Islam


Assalamualaikum. Saya merasa tersanjung untuk berbagi kisah saya masuk Islam.

Nama saya Fatimah Clarisse. Saya seorang perawat dan telah bercerai tanpa memiliki anak dari pernikahan saya sebelumnya. Saya beruntung sekali karena bisa diberi kesempatan bekerja di salah satu rumah sakit besar di Riyadh, Arab Saudi. Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga kristen.

Ketika di Riyadh, saya bertemu dengan banyak orang yang kebanyakan adalah muslim. Rasa ingin tahu saya besar sekali terhadap Islam. Saya menyaksikan sendiri dan kagum betapa diberkahinya masyarakat Riyadh. Ketika suara azan dikumandangkan, saya selalu merasakan perasaan yang begitu dalam dan tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Keinginan saya untuk belajar Islam meningkat hari demi hari, terutama untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Saya sering berdiskusi dengan orang Islam untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Saya sering berdoa, agar jika Tuhan memang menakdirkan saya untuk terus belajar Islam, Tuhan akan mengirimkan seseorang yang akan mengajarkan saya Islam dan menjadi pemimpin hidup saya agar lebih baik.

Sungguh, Allah memberikan takdir yang tak disangka-sangka. Allah mengirimkan Ali, seorang lelaki baik kepada saya. Ali adalah lelaki yang sangat berpengaruh dalam saya meniti jalan menuju Islam. Dia mengajari saya setiap hari, tentang Islam, misalkan, bagaimana menjadi muslim yang baik. Darinya, saya menemukan keindahan Al-Qur’an dan membuat saya yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Ali membuat saya mengerti tentang 5 rukun Islam dan cara shalat lima waktu. Hingga akhirnya saya mengerti bahwa dalam kehidupan ini selalu ada tujuan dan akhirnya saya sadari betapa Allah menyayangi saya karena telah mengirim saya ke Riyadh untuk menemukan Islam. Bahkan tak hanya itu, Allah juga menyadarkan saya tentang arti cinta yang sesungguhnya. Ali membuat saya selalu berpikir dan merenungkan kembali masa lalu saya. Dia membuat saya sadar betapa beruntungnya diri saya karena Allah masih menyayangi saya dengan menuntun saya kepada jalan kehidupan baru dan lebih baik yang InsyaAllah akan membawa saya kepada surga-Nya.

Di 7 Juni 2011, Ali membawa saya ke sebuah Islamic Senter di Riyadh, di mana akhirnya saya masuk Islam dengan penuh kesadaran dan keyakinan. Ketika saya mengikrarkan syahadatain, saya merasa seluruh kesakitan dan kepiluan dalam hidup saya sirna dan digantikan oleh cinta dan kedamaian dari Allah. Saya sangat bahagia saat itu. Setelah itu ramadhan datang dan saya bersyukur bisa merasakan keberkahan bulan itu untuk pertama kali. Saya juga bisa pergi berumroh dan mengunjungi Makkah dan Madinah. Itulah hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya, semua doa saya dijawab oleh Allah.

Setelah memeluk Islam, Allah memberikan saya hadiah yang besar -Ali akan menikahi saya, dan ia juga berkata bahwa Imam di Islamic Senter juga menyambut baik rencanya. Tangis saya pecah, bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan, karena bukan hanya Allah telah memberikan ksempatan kedua untuk hidup lebih baik, teapi Allah juga memberikan saya cinta. Cinta murni yang dibangun atas dasar kepercayaan dan dikuatkan oleh kecintaan kami kepada Allah sebagai dasar hubungan saya dan Ali.

Setelah masuk Islam, hidup saya juga diterpa ujian. Hubungan saya dan Ali diuji oleh Allah. Saya telah mengajukan proses perpindahan ke Amerika, tetapi saya harus pergi dahulu sebelum Ali, karena itu saya tak bisa menikah. Saya tak ingin meninggalkan Ali. Dan inilah yang Allah takdirkan kepada kami. Allah menginginkan saya pergi terlebih dahulu kemudian Ali akan menyusul InsyaAllah. Dan akhirnya kami akan menikah, memulai hidup baru, mewujutkan mimpi kami untuk membagi dan menyebarkan risalah Islam kepada semua orang. Saya berusaha untuk istiqomah dalam memegang agama di Amerika. Saya belum memiliki banyak kawan muslim. Kecintaan dan keyakinan kepada Allah menjadi penguat untuk saya dalam menempuh jalan Islam di sini. Meskipun jauh, Ali selalu mendukung saya. Kami percaya kepada Allah bahwa suatu hari kami akan bersatu dan akan mampu mewujutkan mimpi dan misi kami, InsyaAllah!

Saya berharap kisah saya bisa menginspirasi semua orang untuk mendekatkan kepada Islam. Terima kasih.

Fatimah Clarisse


Thursday, 25 December 2014

, , , , , ,

Cat Stevens Masuk Islam! (Yusuf Islam)


Mukaddimah


Apa yang bakal saya katakan di sini adalah apa yang telah anda ketahui. Jadi ini agaknya untuk menegaskan apa yang telah anda ketahui. Tentang risalah Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam yang diberikan oleh Allah: agama kebenaran. Sejak awal mula penciptaan kita, sebagai manusia, kita telah diberikan kesadaran dan kewajiban. Manusia diciptakan sebagai kholifah di bumi dan karena itu, kita perlu menyadari kewajiban untuk membuang seluruh khayalan dan mempersiapkan kehidupan di akhirat. Siapa pun yang terlewat dengan hal ini, tak akan mendapatkan kesempatan lain, karena dikatakan dalam Al-Qur’an, ketika manusia telah dihisab, ia akan berkata,”Wahai Tuhan kami, kembalikanlah kami ke dunia dan berikanlah kami kesempatan.” Tuhan akan berfirman,”Jika Aku kembalikan kalian ke dunia, niscaya kalian akan melakukan seperti yang kalian dulu lakukan.”

Kehidupan Saya Dulu

Saya hidup di dunia medern yang penuh kemewahan dan pertunjukan kehidupan tingkat tinggi. Saya lahir dalam keluarga kristen, namun kita tahu bahwa setiap bayi yang lahir selalu membawa satu agama murni, dan orang tuanya lah yang bakal mengubah menjadi agama lain. Orang tua saya mewariskan agama ini (Kristen) dan saya hanya bisa mengambil jalan itu. Dulu saya diajari bahwa Tuhan itu ada, namun karena kita tidak punya hubungan langsung dengan-Nya, maka kita membuat hubungan itu melalui Yesus -ia dianggap sebagai pintu Tuhan. Dan ajaran itu saya terima, namun saya tidak menelan seluruhnya.

Suatu ketika, saya memandangi patung Yesus, saya berpikir ia hanyalah batu, tanpa kehidupan. Dan ketika ajaran kristen mengatakan bahwa Tuhan ada tiga, dalam hati saya bertanya-tanya, namun tetap tak bisa berargumen. Kurang dan lebihnya saya meyakini itu, karena saya harus menghormati agama yang dianut oleh orang tua saya.

Berangsur-angsur, saya semakin jauh dari ajaran agama. Saya mulai bermain musik. Saya bermimpi menjadi penyanyi ternama. Semua hal yang saya lihat di film-film dan media mengakar kuat dalam pikiran saya, dan saya berpikir bahwa uang adalah tuhan saya. Saya memiliki seorang paman yang memiliki mobil yang bagus. Saya berkata dalam hati,”Yah, ia telah melakukan segalanya untuk uang, karena itu ia memiliki banyak uang.” Orang-orang di sekitar saya memengaruhi saya untuk menganggap dunia sebagai tuhan.

Saya putuskan setelah itu -inilah hidup saya- untuk mendapatkan banyak uang dan memiliki kehidupan besar. Teladan figur saya adalah para penyanyi beken. Saya mulai mencipta lagu, namun dalam hati saya adanya niatan kemanusiaan: jika saya kaya nanti saya bakal membantu orang-orang yang kurang mampu. (Dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa ketika kita bernazar, kemudian setelah kita mendapat apa yang kita inginkan dan kita hati kita terus terpaut dengannya, maka kita bakal menjadi tamak).

Apa yang terjadi setelah itu, saya menjadi penyanyi yang sangat tenar, masih remaja, nama dan foto-foto saya ditampilkan di seluruh media. Semua itu membuat saya sangat bangga dan saya menginginkan kehidupan yang lebih besar lagi. Karena itu satu-satunya cara untuk mendapatkan itu, saya menjadi pemabuk berat (dengan minuman keras dan narkoba).

Masa Pencarian

Setelah setahun mendapatkan kesusksesan finansial dan kehidupan yang tinggi, saya malah semakin sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, saya mulai berpikir: apa yang terjadi pada diri saya? Bukankah saya hanyalah sebuah tubuh, dan apakah tujuan hidup saya hanya untuk memuaskan tubuh ini? Saya sadar sekarang, malapetaka ini adalah kemurahan yang Allah berikan kepada saya, kesempatan untuk membuka mata saya -mengapa saya di sini? Mengapa saya berada di tempat tidur? Dan saya mulai mencari jawaban. Saat itu saya memiliki ketertarikan yang kuat terhadap kesufian timur. Saya mulai membaca dan hal pertama yang saya sadari adalah kematian, ruh yang keluar dan tak bisa dihentikan. Saya merasa mengambil jalan menuju kebahagiaan dan pencapaian yang tinggi. Saya mulai melakukan meditasi dan bahkan saya menjadi seorang vegetarian. Setelah itu, saya percaya pada kekuatan kedamaian dan bunga dan ini merupakan tren umum. Secara khusus saya percaya bahwa diri saya bukanlah hanya sebuah tubuh. Kesadaran ini muncul ketika saya berada di rumah sakit.

Suatu hari, saya berjalan kaki dan tiba-tiba hujan tiba. Saya berlari menuju suatu tempat untuk berteduh, kemudian saya sadar,”Tubuh saya basah, tubuh saya mengatakan tubuh saya basah” Kejadian itu membuat saya berpikir tubuh bagaikan seekor keledai, ia harus diajari ke mana harus pergi. Jika tidak, ia akan membawamu ke mana pun yang ia suka.

Setelah itu, saya memiliki kemauan, hadiah dari Tuhan: ikuti kemauan Tuhan. Saya begitu tertarik dengan istilah baru dari agama timur. Saya mulai mencipta musik lagi dan kali ini saya lagu-lagu yang saya buat merefleksikan apa yang ada di pikiran saya. Saya ingat salah satu lirik lagu yang saya buat: “I wish I knew, I wish I knew what makes the Heaven, what makes the Hell. Do I get to know You in my bed or some dusty cell while others reach the big hotel?”

Saya juga mencipta lagu lain yang berjudul “The Way to Find God Out.”Setelah itu, bahkan saya menjadi semakin terkenal dalam dunia musik. Saya merasa berada dalam posisi yang sulit: di satu sisi saya menjadi semakin kaya dan terkenal dan di sisi lain saya ingin mencari kebenaran. Hingga saya berada pada satu keputusan bahwa saya akan mempelajari ajaran Buddha, namun saya tetap merasa berat untuk meninggalkan dunia. Jiwa saya terlalu terikat dengan dunia dan belum siap untuk menjadi seorang Buddha yang mengasingkan diri dari masyarakat seutuhnya.

Islam Datang...

Saya telah mencoba Zen dan Ching, numerology, kartu tarot, dan astrologi. Saya mencoba membaca Injil kembali namun tak menemukan apa pun. Pada masa ini, saya tak mengetahui apa pun tentang Islam dan kemudian keajaiban muncul: saudara saya yang baru mengujungi Masjid Jerusalem, sangat terkesan dengan masjid. Tidak seperti gereja dan sinagog yang terasa hampa, masjid selalu menebarkan atmosfir kedamaian dan ketenangan.

Ketika ia datang ke London, ia memberikan saya Al-Qur’an terjemahan. Ia tidak masuk Islam namun ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan Agama Islam dan saya berpikir saya mungkin juga akan merasakannya.

Ketika saya menerima Kitab Al-Qur’an, sebagai sebuah petunjuk yang akan menjelaskan apa pun kepada saya -siapa saya?; apa tujuan hidup?; dan dari mana saya berasal?- Saya sadar ini adalah agama yang benar, agama yang bukan menurut penilaian Barat, agama yang bukan hanya diperuntukkan kepada orang yang sudah tua. Di Barat, seseorang yang ingin masuk sebuah agama dan memperlakukan agama itu sebagai jalan hidup dianggap fanatik. Saya bukan seorang fanatik. Saya sedikit bingung dengan tubuh dan ruh. Kemudian saya sadar tubuh dan ruh bukanlah satu. Semua orang tidak perlu naik gunung dulu untuk menjadi seorang agamis. Kita harus mengikuti Kehendak Tuhan. Dengan begitu derajad kita bisa naik melebihi malaikat. Dan hal pertama yang ingin saya lakukan saat itu adalah menjadi muslim.

Saya sadar setelah itu, bahwa segalanya milik Tuhan, Dzat yang tidak tidur. Dia menciptakan segalanya. Dari sini saya mulai kehilangan kesombongan dalam diri, karena saya mulai berpikir bahwa alasan saya berada di sini bukan karena keagungan saya, namun saya tidak menciptakan diri saya sendiri dan tujuan saya berada di dunia adalah untuk berserah diri kepada ajaran yang telah disempurnakan oleh Islam. Dari sini saya mulai menemukan keimanan. Saya merasa saya telah berislam. Dari Al-Qur’an akhirnya saya tahu bahwa seluruh nabi diutus oleh Allah dengan membawa satu risalah. Mengapa kemudian Yahudi dan Nasrani berbeda? Saya tahu kemudian bagaimana Yahudi tidak mau meneriman Yesus sebagai nabi dan bagaimana mereka mengubah Kalam Ilahi. Bahkan akhirnya saya tahu bagaimana umat kristen salah memahami Kalam Ilahi dan memanggil Yesus sebagai anak Tuhan. Segalanya masuk akal. Inilah keindahan Al-Qur’an: menuntun anda untuk bercermin dan berpikir, dan tidak menyembah matahari dan bulan melainkan menyembah Dzat yang menciptakan segalanya. Al-Qur’an menuntun manusia untuk merenungkan matahari, bulan, dan seluruh ciptaan Allah. Sadarkah kita betapa berbedanya matahari dengan bulan? Keduanya memiliki jarak yang berbeda dari bumi, namun ukurannya nampak sama bagi kita, sekali waktu salah satu nampak mendahului yang lain.

Bahkan ketika banyak astronot melakukan penerbangan ke angkasa, mereka melihat betapa kecilnya bumi kita dibandingkan luasnya angkasa raya. Mereka menjadi semakin agamis, karena mereka telah melihat tanda-tanda Kekuasaan Allah.

“Orang-orang yang beriman tidak menganggap orang-orang kafir sebagai kawan dan menganggap orang-orang beriman sebagai saudara.”

Karena itu, dari sini saya ingin bertemu kawan muslim saya.

Alhamdulillah Akhirnya Saya Masuk Islam

Kemudian saya memutuskan untuk berkunjung ke Jerusalem (seperti yang dilakukan saudara saya). Ketika berada di sana, saya masuk masjid dan duduk di sana. Seseorang bertanya kepada saya tentang hajat saya. Saya katakan kepadanya bahwa saya seorang muslim. Kemudian ia menanyakan nama saya dan saya menjawab,”Stevens.” dan ia terlihat bingung. Kemudian saya ikut shalat berjamaah, namun tidak terlalu benar. Kembali ke London, saya bertemu seorang muslimah bernama Nafisa. Saya berkata padanya bahwa saya ingin masuk Islam. Kemudian ia memberitahu saya untuk pergi ke sebuah masjid.

Saat itu tahun 1977, sekitar satu setengah tahun setelah saya menerima Al-Qur’an. Dan sekarang saatnya lah saya membuang keangkuhan dan semua tipu daya setan untuk menerima satu petunjuk. Di hari Jum’at, setelah shalat Jum’at dilaksanakan, saya menemui Imam dan mengikrarkan syahadatain. Jadilah saya yang sebelumnya menjadi seseorang yang mendapatkan popularitas dan keberuntungan dunia dan seakan petunjuk adalah sesuatu yang dihindarkan dari saya, seberat apa pun saya mencarinya, kini menjadi muslim. Hingga akhirnya petunjuk itu datang dari Al-Qur’an dan kini saya sadar, saya memiliki hubungan langsung dengan Tuhan, tidak seperti ajaran kristen dan agama lain yang saya pelajari. Suatu ketika, seorang wanita hindu berkata kepada saya,”Anda tak paham hindu. Kami percaya kepada satu Tuhan; kami menggunakan objek-objek ini (berhala) hanya untuk memusatkan pikiran.” Apa yang ia katakan adalah cara untuk mencapai Tuhan, mereka menciptakan sekutu bagi Tuhan, yaitu berhala-berhala itu. Namun Islam menghilangkan penghalang itu. Salah satu hal yang membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir adalah shalat. Inilah proses pemurnian diri.

Akhirnya apa pun yang saya ceritakan adalah murni mengharap ridha Allah. Semoga anda mendapat inspirasi spiritual dari apa yang telah saya alami. Sekali lagi, ingin saya tekankan bahwa saya tidak memiliki hubungan dengan muslim siapa pun sebelum saya masuk Islam. Pertama, saya membaca Al-Qur’an dan menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna. Islamlah yang sempurna. Dan jika kita semua mencontoh gaya hidup Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam, kita semua akan sukses. Semoga Allah memberikan kepada kita petunjuk untuk mengikuti jalan yang ditempuh Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam. Amin!

Yusuf Islam (sebelumnya Cat Stevens)


Tuesday, 25 November 2014

, , , , , , ,

Dari Kristen Rasis Menuju Islam



Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Marc dan beginilah kisah saya masuk Islam

Perjalanan saya menuju Islam, boleh dikatakan, tak biasa. Sebagian besar mualaf yang telah saya temui berasal dari latar belakang liberal dan paham-paham lain yang cukup terbuka. Latar belakang saya jauh dari itu semua. Kedua orang tua saya adalah anggota militer Amerika sehingga mendidik saya begitu keras. Ayah saya sangat rasis, karena itu, saya juga tumbuh dengan pemahaman rasis hingga berumur 24 tahun. Saya ingat, ketika kecil saya sering mendengar ayah mencerca dan menyerang orang-orang arab, muslim, agama mereka, cara hidup mereka, dan ras mereka. Karena ini merupakan ajaran yang ditumbuhkembangkan dalam hidup saya, akhirnya saya juga bersikap demikian. Masa kecil saya sangat bermasalah, sebagaimana akan saya ceritakan selanjutnya.

Ayah saya seorang pemabuk dan seorang yang sangat kasar. Saya tumbuh dalam ketakutan permanen akan kekerasan terhadap diri saya, ibu, dan saudara-saudara saya. Karena saya tumbuh dalam latar belakang semacam itu, sangat maklum jika saya mencari orang-orang yang bisa menggantikan kehidupan yang tak saya dapat dari keluarga. Namun masalah selanjutnya muncul: saya mendapatkan kawan-kawan yang sangat buruk.

Selama beberapa tahun saya bergabung dengan kelompok rasis radikal. Meski sebenarnya, saya tak pernah merasa tenang dengan jalan hidup seperti ini. Namun saya senang karena menjadi pemimpin yang disegani. Ketika itu, saya terkenal dan ditakuti oleh orang-orang di kota lahir saya. Kerinduan saya akan keluarga dan kawan-kawan tak menghilangkan benih-benih kebencian dalam hati. Saya tak pernah sadar bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kekeliruan besar dan ketidakadilan yang nyata. Ketika berumur 16 tahun, kawan karib saya yang seorang Mexiko pernah bertanya kepada saya,”Mengapa kamu berkumpul dengan orang-orang jahat, kamu lebih baik keitimbang mereka.” Dia benar. Tapi ada bagian dari diri saya yang, meskipun saya sangat membenci ayah saya dengan apa yang telah ia lakukan kepada keluarga saya, tapi saya ingin menjadi seperti ayah. Itulah sikap rasis dan kebencian saya bermula. Kondisi semakin buruk, ketika saya dipaksa pergi dari rumah. Saya pikir inilah yang mengunci kemungkinan Islam bisa masuk dalam kehidupan saya. Jauh dari ayah saya, kebencian yang saya rasakan, dan memahami dunia dan masyarakat dengan cara saya sendiri.

Selama beberapa tahun saya menjalani kehidupan yang berat dan saya melanjutkan kehidupan seperti itu. Saya sering mabuk, memakai narkoba, dan mendapat masalah serius dengan hukum negara. Orang-orang yang saya cari untuk bisa menggantikan keberadaan keluarga saya adalah orang-orang yang paling buruk perangainya; kekerasan, tak jujur, dan tak pernah bisa dipercaya. Itulah pertama kalinya saya bisa merasakan hidup tanpa figur seorang ayah yang selama ini membayang-bayangi hidup saya.

Saya mulai sadar, kebohongan ini berasal dari lingkungan tempat saya bernaung. Saya mulai bisa melihat kebenaran, betapa hidup saya telah hancur. Inilah titik balik, di mana saya mulai mempertanyakan setiap sisi kehidupan saya, termasuk spiritual saya. Saya mulai mengambil sikap, bahwa seluruh kehidupan saya telah terjangkit keburukan dan harus ditata ulang. 

Kesenangan saya dalam membaca membuat saya memiliki perpustakaan kecil, yang kini berisi hampir seribu buku, mulai buku-buku tentang Kant, Ramadhan, hingga kata-kata bijak Edward. Saya memiliki pacar waktu itu, yang kemudian saya nikahi. Ia juga aktiv dalam kelompok rasis yang saya ikuti. Selalu ada kekhawatiran dalam diri saya jika ia akan merasa tersinggung dengan pemikiran baru yang saya miliki. Saya jadi pecandu buku dan saya selalu membaca buku di mana pun berada selama beberapa tahun.

Selama peristiwa Intifada bergejolak di Palestina, ayah saya, sebagai orang yang rasis dan antiorang arab dan yahudi, ia sangat mendukung ekspansi Israel. Saya pikir, ia memang membenci yahudi dan orang-orang nonputih, tetapi kebenciannya terhadap arab melebihi kebenciannya terhadap yahudi, karena itulah ia mendukung yahudi-israel. Ketika saya melakukan pemikiran ulang tentang apa yang saya pelajari di masa muda dulu, saya memutuskan untuk lebih mendalami kecamuk yang terjadi di Timur Tengah. Saya mulai membaca buku-buku umum yang membahas sejarah Timur Tengah dan politik nasional di sana. Lagi-lagi saya menemukan kesulitan dalam mempelajari itu, karena saya tidak paham soal Islam. Ketika kecil dulu saya sering datang ke Gereja, namun tidak memiliki dasar keinginan yang kuat untuk menengok agama lain.

Ayah saya memiliki kebencian yang kuat terhadap Islam, sehingga ketika berusia belasan tahun saya juga membenci Islam dan menyebarkan kebencian itu tanpa memiliki alasan yang kuat dan tanpa mengetahui ajaran Islam yang sesungguhnya serta bagaimana muslim memahami Islam. Kebencian itu terus tertanam dalam pikiran, bahkan tanpa pernah menemui seorang muslim sekali pun. Oleh karena itu, saya mulai mempelajari Islam; ajaran dan sejarahnya. Masa itu bertepatan ketika internet mulai populer, sehingga saya mencari sumber-sumber dari buku-buku dan internet untuk membantu saya memahami Islam. Saat itu saya tinggal di Washington dan tidak mengetahui komunitas muslim di sana, sehingga tak seorang muslim pun yang bisa saya ajak diskusi. 

Setelah itu, istri saya berpindah kerja ke London, sehingga mengubah rencana yang telah saya rancang. Ketika berada di London, ketertarikan saya beralih sejenak. Saya berada di negara baru dengan sejarahnya yang panjang, sehingga selama beberapa tahun saya menghabiskan waktu untuk menjelajahi sejarah dan daerah-daerah di Eropa. Seiring berjalannya waktu, saya tertarik kembali untuk mempelajari Timur Tengah dan situasi politik di sana. Saya berada di negara di mana komunitas muslim terbentuk dengan apik, meski di kota tempat saya tinggal tidak ada komunitas muslim. Saya mulai membaca tentang Islam: keyakinan, ideologi, dan sejarahnya.

Saya juga mulai membaca Al-Qur’an. Saya terkejut dengan informasi pertama yang saya dapatkan: Al-Qur’an memberikan jawaban atas keraguan saya terhadap agama yang saya peluk sejak kecil. Saya selalu bertanya-tanya tentang ajaran bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dari apa yang telah saya baca saya akhirnya tahu bahwa kepercayaan ini berasal dari agama berhala: Zeus, Odin, dan agama-agama berhala lain yang percaya bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dalam ajaran Odin, pengikutnya percaya bahwa Odin menempel di sebuah pohon, hampir sama dengan pemeluk Kristen yang percaya bahwa Yesus menempel di sebuah salib. Odinis, nama bagi pengikut agama kuno dari Eropa Utara ini, juga meyakni trinitas: tuhan bapa sebagai Odin, anak laki-lakinya bernama Thor, dan istrinya bernama Freja. Dengan ini menjadi jelas, inovasi yang dilakukan orang-orang kristen tidak berdasar dari Tuhan, melainkan berasal dari agama berhala yang ada sebelumnya. Saya juga merasa betapa Tuhan bisa begitu tak adil karena menjadikan manusia menanggung dosa yang dilakukan orang lain yang telah mati ribuan tahun silam. Hal ini menurut saya terasa tak adil. Akhirnya saya mengerti konsep dasar ketuhanan; bahwa Tuhan tak mungkin berlaku tak adil. Itulah perkara dosa asli atau dosa turunan yang selama bertahun-tahun membuat saya bertanya-tanya akan keabsahannya.

Saya selalu merasa bahwa ajaran Kristen tak memiliki jawaban tentang perkara tersebut dan jika mereka menjawab, jawabannya hanya akan memperkuat posisi ketidakadilan tersebut. Saya mencoba mempelajari ajaran Yahudi, namun ajaran Yahudi memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawabannya. Sikap mereka terhadap para nabi sungguh tak bisa diterima. Kitab suci mereka mendakwa manusia-manusia ini yang telah melakukan kerusakan besar. Saya menolak meyakini bahwa Tuhan memilih manusia-manusia ini untuk dijadikan pemimpin di bumi ini. Jika ajaran Yahudi seperti ini, bagaimana saya bisa memercayai dan mencari petunjuk melalui agama semacam ini? Dengan ini telah jelas betapa Islam menjawab seluruh keraguan dalam perkara ini.

Islam menjelaskan kebingungan terhadap kebohongan trinitas dan menerangkan dengan jelas peran Yesus (Isa) alaihissalam sebagai nabi, bukan sebagai anak Tuhan. Islam menghormati seluruh nabi alaihisalam jami'an dan mengenal mereka sebagai manusia-manusia pilihan Tuhan. Dengan Islam, saya temukan jawaban dari seluruh permasalahan dan pertanyaan saya selama ini, juga masa depan manusia. Masalah terbesar saya selanjutnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Islam ke dalam kehidupan saya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya memiliki istri yang juga anggota kelompok rasis radikal. Dia tak memiliki bayak waktu untuk berdiskusi dengan saya soal ketertarikan saya dengan hal-hal ini; Islam maupun politik Timur Tengah.

Saya sadar jalan yang saya butuhkan untuk menempuh jalan hidup baru tak mudah ditempuh. Akhirnya telah tiba saatnya, saya menyadari bahwa saya tak akan bisa menerapkan ajaran Islam jika tetap bersama istri saya. Karena itu kami berpisah. 

Sebelum saya meninggalkan Inggris, saya pergi ke sebuah masjid dengan seorang laki-laki lebanon untuk mengikrarkan syahadatain. Ketika saya berpisah dengan mantan istri saya, saya dipaksa untuk segera meninggalkan Inggris. Saya senang tinggal di Inggris, karena kesempatan untuk mempelajari Islam lebih banyak. Tapi Alhamdulillah, Allah telah menentukan jalan saya untuk kembali ke Amerika dan saya bisa mengambil hikmah yang besar dari peristiwa itu.

Dengan cepat saya mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah Amerika di Alaska. Tentu saja, tak banyak komunitas muslim di Alaska. Hanya ada dua komunitas muslim di pusat kota Anchorage dan Fairbank. Sementara tempat saya bekerja jauh dari dua kota tersebut. Karena itu saya memilih untuk mempelajari Islam lewat buku-buku dan internet. 

Saya sering ke Wahington DC. Saya bergabung dengan komunitas muslim di sana. Saat itulah saya mulai berpikir untuk menikah. Saya sedikit kawatir dengan keadaan saya: seorang mualaf. Saya tahu orang-orang muslim berasal dari berbagai latar belakang etnik, karena itu mungkin mereka tidak akan memperbolehkan anak perempuannya dinikahi seorang mualaf Amerika berkulit putih. Hal ini lebih buruk lagi karena saya memiliki tato yang saya dapatkan ketika berusia remaja. Karena itulah saya tak yakin akan memperoleh seorang muslimah dan keluarganya akan menerima saya apa adanya.

Seorang kawan baru memberi informasi bahwa ada seorang muslimah yang sedang mencari pendamping hidup. Kemudian ia memberikan nomor teleponnya kepada saya. Ketika pulang kerja, saya mencoba menghubunginya, tapi ia tidak berada di rumah, sehingga saya hanya meninggalkan pesan. Hari berikutnya saya menghubunginya dan kami berbicara selama beberapa jam. Kami bertukar alamat email dan selama tiga hari berikutnya kami berbicara selama berjam-jam. Saya mengantuk sekali setelah itu, bahkan saya tertidur di tempat kerja. Kami berbicara banyak hal tentang apa pun yang berkaitan dengan bagaimana membangun pernikahan yang sukses. Saat itu saya telah melihat bahwa banyak persamaan antara kami berdua yang seluruhnya berporos pada penghambaan kami kepada Allah. Saya memiliki feeling dengannya, bahwa ia sangat berarti bagi saya.

Ia seorang muslimah yang taat dan memiliki ilmu agama yang banyak sehingga bisa mengajari saya. Tak hanya bisa mengajari saya ilmu agama, ia juga bisa mengajari saya bahasa Arab, karena ia memang berasal dari Arab. Kami berbicara lewat telepon dan email selama beberapa bulan. Berbicara lewat telepon dan email memang sangat menyenangkan, tapi kami sadar kami harus bertatap muka langsung untuk memperoleh kecocokan secara langsung. Selalu tanamkan ajaran Islam pada diri, bahwa yang kami lakukan untuk membuat semuanya halal dan tepat berada pada tempatnya.

Dengan persetujuan keluarganya, saya memutuskan akan berkunjung ke rumahnya di bulan Ramadhan agar bisa berbuka bersama dengan seluruh keluarganya. Saya sangat gugup dan saya memiliki alasan yang jelas untuk itu. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya dan pastinya anda sadar; calon istri saya dan keluarganya adalah orang asli Arab. Sementara saya adalah orang yang selama ini rasis dan memiliki masalah dengan perbedaan budaya dan kini saya akan bertemu dengan calon istri dan keluarganya yang notabene berasal dari Arab. Dengan berbekal tawakal dan kerongkongan yang terasa tercekat saya mempersiapkan pertemuan dengan perempuan mengagumkan ini dan keluarganya yang terlihat menakutkan bagi saya. Saya tiba di Washington DC tepat sebelum matahari tenggelam. Dengan membawa tas, saya menunggu taxi lewat. Hingga datanglah sebuah taxi dan saya menaikinya.

Di depan stir, seorang sopir taxi mengenakan gutra merah bercorak petak-petak dan sorban Arab di kepala. Ketika berada di dalam, saya mengucapkan salam,”Assalamualaikum.” Dan ia membalas salam saya. Matahari telah tenggelam, saya lihat ia berbuka dengan sebutir kurma. Ia bertanya,”Apakah anda berpuasa?” “Ya” jawab saya. Kemudian ia menawarkan kurma kepada saya. Saya kira laki-laki tua ini asli Afganistan. Saya pikir ini pertanda baik bagi saya.

Setelah meletakkan barang-barang di hotel, saya bergegas menuju rumah keluarga calon istri saya. Saya membawa kurma dan parfum sebagai hadiah. Setelah keluar dari taxi, saya berjalan mantap hingga ke depan pintu rumah. “Bismillah” ucap saya dalam hati. Saya yakin Allah memilihkan yang terbaik untuk saya. Gambaran-gambaran adegan setelah ini berputar-putar dalam pikiran saya: ia akan menyukai saya namun keluarganya akan menolak saya mentah-mentah atau keluarganya tak akan keberatan tapi ia tak tertarik dengan saya. Bagaimana jika mereka menyukai saya namun saya tak menyukai mereka? Jarak 10 meter dari pintu rumah itu terasa seperti 10 mil. Begitu lama.

Akhirnya saya tiba di depan pintu rumah itu dan segera memencet bel. Saya rasa seluruh isi rumah menjawab panggilan saya: orang tua, orang-orang seusia saya, laki-laki, perempuan, dan semuanya. Dengan hangat mereka semua menyambut kedatangan saya. Alhamdulillah, semua kekhawatiran saya telah sirna. Mereka cepat akrab dengan saya. Setelah berbincang saat makan malam, akhirnya semuanya jelas: kami telah merasa serasi.

Di bulan Januari kami melangsungkan pernikahan di hadapan kawan dan keluarga. Bulan madu kami sangat menyenangkan. Kemudian saya kembali ke Alaska untuk menyelesaikan pekerjaan hingga akhir April. Setelah selesai, saya pindah ke Washington DC dan bekerja di cabang perusahaan saya di sini. Saya sudah sekitar dua tahun di sini. Ini sangat mengagumkan. SubhanaAllah, bagaimana Allah menuntun saya dari seorang kafir yang tinggal di sebuah rumah yang penuh kebencian hingga menuju Islam. 

Sekilas, tampak memang saya tak diberikan sosok ayah dalam hidup saya oleh Allah, tapi itu bukan masalah buat saya. Allah selalu mengawasi saya. Dia menuntun saya melewati setiap bahaya dan masa-masa pahit untuk menjadi seorang lelaki sejati dan seorang muslim. Orang-orang mengatakan keajaiban tak pernah datang sekarang, tapi kisah saya membuktikan kata-kata itu salah.


Thursday, 20 November 2014

, , , , , ,

Keyakinan Ini Membawa Saya Kepada Islam


Kristin Szremski adalah seorang ibu Illionis berumur 53 tahun dari Palo Hills. Lahir dalam ajaran Kristen Missouri-Synod Lutheran yang kemudian berpindah meyakini ajaran Kristen Katolik hingga akhirnya menemukan Islam.

Perjalanan Menuju Islam

Di tahun 2000-an, saya bekerja sebagai reporter sebuah surat kabar bernama Star di pinggiran Chicago. Saya ditugaskan untuk meliput berita yang berkaitan dengan masyarakat Arab. Saat itu saya tak mengerti apa pun tentang Islam. Saya tumbuh dalam ajaran Missouri-Synod Lutheran dan kami selalu diajari bahwa semua agama dan nabi yang datang setelah Yesus adalah sesat.

Selama enam minggu, saya melakukan riset, menanyai banyak Muslim Arab. Perpindahan saya menuju Islam tidak terjadi dalam waktu semalam; mungkin butuh waktu sekitar 18 bulan untuk meyakinkan saya hingga akhirnya masuk Islam. Saya sangat tertarik mempelajari Islam karena Islam juga memiliki kisah-kisah nabi yang sama seperti dalam Injil.

Saya tumbuh dalam ajaran Lutheran, namun kemudian pindah menjadi Katolik ketika berumur 40 tahun. Saya selalu ingin bersama masyarakat luas dan saat itu saya tertarik mempelajari ajaran Kristen Katolik. Karena suami saya seorang Katolik, saya memutuskan untuk mengikutinya. Hal ini berdampak besar bagi saya untuk kemudian memeluk Islam, karena ajaran Lutheran memercayai ajaran Injil secara harfiah dan tak boleh ada pertentangan, sementara ajaran Katolik mendorong pemeluknya untuk terus menggali ilmu, bertanya, dan sering mengajarkan kepada pemeluknya konteks-konteks historis yang mengiringi adanya aturan-aturan dalam Agama Kristen. Hal ini membuka pikiran saya untuk meneliti kemungkinan adanya kebenaran Al-Qur’an bahwa kitab itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan.

Setelah saya memercayai ini, mudah bagi saya untuk memercayai bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasul dan nabi. Hal tersulit untuk dihilangkan adalah ajaran bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Namun kemudian, akhirnya saya temukan ayat dalam Al-Qur’an bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan dan juga kenyataan bahwa Islam meyakini bahwa Yesus (Isa) alaihissalam adalah nabi dan rasul, sehingga saya tak perlu membuang sosok Yesus dalam pikiran saya, hanya meluruskan pemikiran saya tentang Yesus.

21 Juli 2001, dan akhirnya, tiba saatnya saya mengikrarkan syahadatain. Saat itu saya sedang berada di sebuah kamar hotel di Washington DC, di mana saya akan menghadiri rapat untuk membahas majalah yang saya juga menulis di dalamnya. Tergeletak muskhaf Al-Qur’an di atas tempat tidur dengan terbuka dan saya menghadapnya, saya berlutut dan berdoa kepada Tuhan untuk memberikan jalan kebenaran kepada saya dan seketika itu pula saya mengikrarkan syahadatain. Setelah itu, saya mengikrarkan syahadatain di hadapan khlayak muslim dalam komunitas Arab.

Saya mencintai Islam karena kemurnian, kesederhanan, dan kebenarannya. Masyarakat muslim yang saya temui sangat baik, sabar, dan berakhlak mulia.

Monday, 3 November 2014

, , , , ,

Saya Tinggalkan Dunia Hitam Demi Islam


Nama saya Meliha Senol, dari Sydney Australia. Alhamdulillah, sekitar empat tahun lalu saya masuk Islam. Saya ingin berbagi cerita tentang kisah saya masuk Islam.

Saya tumbuh dalam keluarga yang begitu keras, di mana narkoba dan minuman keras menjadi suatu hal yang biasa dalam kehidupan kami. Kami (saya dan saudara kandung saya) harus menjalani kehidupan semacam itu. Saya memiliki bibi bernama Marj yang begitu peduli kepada kami, yang sering mengajak kami ke gereja kapan pun ia bisa. Saya senang ke gereja dan hari Minggu adalah hari terbaik dalam seminggu untuk ke sana. Hal itu karena saya selalu menjaga cinta saya kepada Tuhan dan Yesus dan juga ajaran agama. Saya selalu mencintai Tuhan dan sering meminta kepada Tuhan agar diberi kekuatan, petunjuk, dan perlindungan dalam menjalani kehidupan saya.

Mejelang saya dan saudara kembar saya menginjak 14 tahun, kami harus bertahan seorang diri. Saat itu kami berada dalam dunia yang di penuhi narkoba dan minuman keras dan kami masuk ke dalamnya.

Ketika berusia 20 tahun, saudara kembar saya meninggal akibat narkoba dan saya berdoa saat itu agar diberi kekuatan untuk menghadapinya. Saya berdoa kepada Tuhan agar menghilangkan kesakitan dan penderitaan yang dialami saudara kembar saya di dunia ini. Dan saya percara setelah ia meninggal, itulah cara Tuhan menghilangkan kesakitan dan penderitaannya. Setelah itu, saya mencoba membersihkan diri dan melakukan pencarian spiritual. Saya berdoa setiap malam agar mendapatkan petunjuk. Saya mencoba mempelajari ajaran Buddha dan Kristen namun tak bisa menemukan apa yang jiwa saya perlukan. Saya tersesat kembali dan kembali menikmati minuman keras. Hidup saya telah hancur, namun saya percaya bahwa Tuhan memiliki maksud kepada saya.

Dan Alhamdulillah, Allah mengirim kawan yang baik bernama Ahmet. Kami kemudian sering berdiskusi tentang Islam, tentang nabi-nabi terdahulu dan tentunya Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam. Ahmet menceritakan kepada saya tentang cerita Nabi Isa dan Maryam yang sesungguhnya. Saya membaca Al-Qur’an terjemahan Inggris dan sungguh sempurna apa yang ada di dalamnya. Kemudian saya dan Ahmet menikah. Ketika saya bangun tidur di suatu pagi dan saya katakan padanya bahwa saya percaya kepada Allah dan Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam dan ingin masuk Islam. Ia berkata,”Itulah yang baru saja kau lakukan.” Itulah hari terbaik dalam hidup saya.

Sekarang saya bebas dari jeratan narkoba dan minuman keras yang telah menghancurkan hidup saya dan InsyaAllah akan terus demikian hingga akhir hayat. Saya sangat bersyukur kepada Allah atas limpahan rahmat-Nya, yang telah menganugerahi saya suami yang mengagumkan yang telah menjadi guru dan teladan bagi saya. Semoga Allah menempatkannya kelak di surga tertinggi karena telah memberikan apa yang selama ini butuhkan dan melihat saya sebagai sesuatu yang sangat berharga.

Alhamdulillah, kini saya mencintai Islam dan Allah. Dan saya sangat bersyukur kepada Allah kerena telah memasukkan saya ke dalam Islam serta atas rahmat yang tak ternilai ini. Saya terus berdoa semoga Allah selalu memberikan petunjukkan kepada saya. Amin.

Wasallam

Meliha Senol

, , , ,

Saya Temukan Islam Untuk Kedua Kalinya


Nama saya Wardah, berumur 30 tahun, seorang mualaf. Saya merasa tersanjung untuk berbagi kisah saya masuk Islam.

Saya masuk Islam ketika saya menikah di usia 18 tahun. Saat itu, saya masuk Islam hanya karena saya ingin menikah dengan mantan suami saya. Mantan suami saya memberikan syarat menikah jika saya mau masuk Islam. Saya mengikrarkan syadatain dengan keyakinan yang keliru. Saya masih sangat muda saat itu. Saya juga tak mengenal muslim lain, jadi apa pun yang mantan suami saya nasehatkan, saya pikir itu adalah benar. Di masa menikah dulu, mantan suami saya bukanlah seorang muslim yang taat dan bahkan ia juga tak pernah belajar tentang Islam. Pernikahan saya dengannya hanya bertahan 4 tahun, setelah itu kami bercerai.

Setelah perceraian saya, saya tak kembali masuk agama Kristen, karena ada yang mengatakan kepada saya bahwa setelah menjadi muslim seseorang tidak boleh berganti agama lagi, apa pun keadaannya. Meskipun saya tak berganti agama, saya juga tak pernah hidup secara Islami -saya tak memakai hijab, tak pernah menundukkan pandangan, bergaul dengan kawan-kawan yang buruk, dan sering pergi ke diskotik. Gaya hidup semacam ini saya lakoni selama beberapa tahun, hingga hidayah Allah datang.

Saya tak mampu memjelaskan perasaan saya saat itu, namun saya dapat menceritakan kejadian itu yakni pada 15 Ramadhan 2009. Saya bangun di pagi hari dengan mengucap kalimat syahadat. Ya Rab, saya benar-benar tak mengerti apa yang baru saja terjadi dan apa yang baru saja saya ucapkan. Saya bingung dengan apa yang terjadi namun di sisi lain saya begitu merasakan perasaan tenang dan damai. Kemudian saya datang menemui seorang muslimah yang saya kenal dan menceritakan apa yang baru saja saya alami. Saya melihat kebahagiaan yang tiba-tiba terpancar dari wajahnya. Ia mengatakan kepada saya bahwa saya telah mendapat hidayah. Ia juga mengatakan bahwa Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Saya merasa kehangatan merasuk dalam hati saya demi mendengar kata-katanya. Kemudian ia mengatakan kepada saya bahwa saya harus menjadi seorang muslimah yang taat dan banyak belajar ilmu agama dan itulah yang saya lakukan kemudian. Malam itu juga saya kabarkan kepada orang tua saya bahwa saya ingin menjadi muslim taat dan meninggal dengan bangga sebagai seorang muslim. Alhamdulillah, orang tua saya menerima keputusan saya dan berjanji akan selalu mendukung saya.

Semenjak hidayah datang, hidup saya semakin dipenuhi dengan keberkahan dan kebaikan. Melalui Islam saya menemukan diri saya dan tujuan hidup saya. Karena Islam, saya merasa, hidup saya telah lengkap, karena Islam saya merasa tak akan pernah tersesat, dan semoga ini adalah keberuntungan yang Allah janjikan kepada saya.

Setelah itu, kawan saya mulai mengajari saya dasar-dasar Islam. Saya memutuskan untuk mengambil langkah lebih cepat dan mengikuti sunnah. Saya merasa sangat bernafsu untuk mempelajari ilmu Islam. Di tahun 2010, saya mengikuti program muallaf satu tahun dan Alhamdulillah atas petunjuk dari Allah saya lulus di Desember 2010. Alhamdulillah Allah semakin menguatkan iman saya. Januari 2011, saya mendaftar sebagai peserta kuliah muslimah di Islaahul Baanat. Selain belajar saya juga semakin mendapat banyak kawan muslim yang benar-benar menyemangati dan membantu selama masa studi saya.

Saya juga belajar menjadi hafidz. Saya sering meminta kepada Allah dalam Istikharah saya untuk selalu diberi pentunjuk dan Alhamdulillah Allah memberikan petunjuk sehingga saya menemukan sebuah sekolah hafidz, di Ottery, Cape Town. Saya temukan tugas saya di dunia, tujuan dan keberadaan saya di sini tak lain hanyalah untuk menjadi hamba Allah subhanahu wa taala dan beribadah hanya kepada-Nya. Saat ini saya masih menyelesaikan studi hafidz saya secara penuh dan paruh waktu ikut serta sebagai siswa di Qurra Development Program. Keinginan kuat saya sat ini adalah menamatkan hafalan Al-Qur’an 30 Jus dan kemudian mempelajari Qiraah dan memperoleh ijazah dalam bidang membaca Al-Qur’an 10 Qiraah. Alhamdulillah Allah menganugerahi kebaikan kepada saya.

Setiap hari saya mengucap Alhamdulillah dan bersyukur kepada Allah karena telah memilihkan saya jalan hidup terindah, yakni Islam. Tanpa Islam saya bukanlah apa-apa, dengan Islam saya tahu diri saya.

Saya tinggal dengan orang tua saya di Cape Town, Afrika Selatan. Mereka sangat mendukung semua apa yang saya lakukan. Mereka membantu apa pun yang mereka bisa lakukan. Alhamdulillah saya dianugerahi orang tua yang baik. Saya selalu berdoa kepada Allah agar orang tua saya diberi hidayah sebagaimana saya diberi hidayah.

Begitu indah cara Allah memberikan hidayah kepada seorang hamba. Saya yakin muallaf lain bisa merasakan itu. Allahu Akbar! Allah benar-benar memberikan keberkahan dan kebaikan yang begitu banyak dalam hidup kita.

Wardah M.

Tuesday, 28 October 2014

, , , ,

Ternyata, Perjalanan Ini Membawa Saya Kepada Islam


Nama saya Kimberly dan saya masuk Islam di April 2011. Saya tumbuh sebagai seorang kristen, namun saya tak pernah mengamalkan ajaran kristen. Saya tak tertarik dengan agama. Ketika kuliah, barulah saya mulai tertarik mempelajari sejarah Agama Kristen. Bukan untuk membuat diri saya memercayai Agama Kristen, namun sebaliknya, untuk membuktikan bahwa Agama Kristen bukanlah agama yang benar. Suatu hari, dosen profesor saya meminta para mahasiswanya untuk mengikuti seminar mengenai Islam sebagai tambahan SKS. Pembicaranya adalah seorang profesor dari Mesir dan ia berbicara dengan sangat mengagumkan mengenai Islam dan kedamaian. Ketika itu tahun 2006, dan saya belum mendengar satu pun kabar positif tentang Islam bahkan hingga saya mengahadiri seminar itu. Alhamdulillah, karena profesor itu, persepsi saya tentang muslim dan Islam berubah drastis.

Suatu hari di tahun 2010, saya menonton film dokumenter yang diproduksi oleh National Geographic yang menampilkan bagaimana Islam sebenarnya menurut pemeluknya. Ini adalah kali pertama saya mendengar perempuan muslim menerangkan betapa mengagumkannya menjadi seorang muslim. Setelah itu, saya mulai tak henti-hentinya membaca semua hal tentang Islam. Saat itu saya tengah diberhentikan kerja, jadi saya bisa pergi ke perpustakaan dan membaca buku tentang Islam sepanjang hari. Setelah semakin memahami Islam, saya merasa semakin ingin memeluk Islam. Sudah tak terbayangkan, berapa banyak buku yang saya baca saat itu. Kemudian, saya memberanikan diri untuk membeli muskhaf Al-Qur’an, sehingga kapan pun saya merasa jenuh dalam hidup, saya akan membaca Al-Qur’an. Seakan saya merasa, Al-Qur’an ditulis hanya untuk saya. Ketika saya membacanya, seketika itu saya merasakan kedamaian merasuk dalam relung-relung jiwa.

Akhirnya, saya mencari masjid terdekat di internet dan saya temukan Sekolah Islam yang dekat dengan rumah saya. Saya pergi ke sana karena saya butuh seorang muslim untuk diajak bicara. Seolah ada semacam kebutuhan mendesak yang mendorong saya untuk pergi ke sana. Beruntunglah saya bertemu imam masjid di sana.

Setelah berdiskusi dengan beliau, saya merasa telah siap untuk mengikrarkan syahadatain. Beliau kemudian memanggil 4 atau 5 orang sebagai saksi (guru-guru di sana) dan saya mengikrarkan syahadatain. Seketika saya merasa seperti menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari saya. Dada saya dipenuhi kebahagiaan yang tak terkira. Beberapa muslimah mempersilakan saya untuk ke sekolah agar saya bisa belajar shalat bersama anak-anak ketika shalat dhuhur. Saya menjadi sukarelawan di kantin sekolah semenjak saya tak bekerja dan mereka mengajari saya begitu banyak.

Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya berpindah keyakinan menjadi Islam. Insya Allah perjalanan saya menuju Islam akan diberkahi. Alhamdulillah untuk Islam.

Kimberly H.

, , , , , ,

Alahamdulillah, Akhirnya Saya Menemukan Islam


Nama Anne, usia 29 tahun, dan tinggal di Otario, Kanada. Sekitar tujuh tahun yang lalu saya masuk Islam. Saya lepas dari keluarga saya ketika berusia 22 tahun dan tinggal di tempat baru seorang diri. Saya merasakan tekanan jiwa yang begitu hebat selama itu. Saya mencoba menemukan diri saya dan memahami tujuan hidup yang sesungguhnya.

Saya memutuskan untuk mulai membaca Injil. Sejujurnya, sebelum ini saya tak pernah meluangkan waktu untuk sekadar membaca Injil. Selama saya membaca, saya tak bisa memahami isi kandungan Injil, sehingga membuat hati saya ciut. Suatu ketika, beberapa kawan berkunjung ke rumah saya. Setelah beberapa lama, mereka berkata bahwa mereka ingin shalat. Ketika mereka melakukan shalat, saya melihat mereka dan dalam batin saya berkata, saya tak paham dengan apa yang mereka kerjakan. Karena itu, setelah mereka selesai shalat, saya bertanya kepada mereka tentang apa yang baru saja mereka lakukan. Kemudian mereka menjelaskan bahwa mereka adalah muslim. Jujur saja, saya belum pernah mendengar tentang Islam hingga hari itu. Mereka memberikan saran kepada saya untuk membaca Al-Qur’an agar saya mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap.

Di hari berikutnya, saya pergi ke toko buku untuk membeli muskhaf Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris dan meminjam sejumlah buku tentang Islam kepada kawan saya. Saya mulai membaca semua buku-buku itu sendiri sepanjang hari. Setiap kali saya membaca Al-Qur’an saya akan menangis karena selalu ada perasaan berbeda. Hati saya terasa berisi karena kalam-kalam yang saya baca begitu menyentuh hati saya. Kandungan Al-Qur’an begitu mudah dipahami dan kemudian saya sadari bahwa inilah yang selama ini hilang dari saya. Dan saya memiliki niatan untuk masuk Islam. Perasaan bahagia ini menggetarkan jiwa saya. Dua minggu kemudian, saya mengikrarkan syahadatain dan itulah hari terbaik saya.

Saya mulai melakukan shalat. Saya berpuasa senin-kamis karena saya membaca bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam terbiasa berpuasa pada dua hari itu. Saya menemukan grup online yang mewadahi para muallaf yang kantornya berada di daerah saya. Saya bertemu orang-orang yang begitu mengagumkan, terbuka, baik, dan peduli. Menjadi seorang muslim membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dan ini adalah hadiah yang lebih baik daripada hadiah-hadiah yang ada di dunia.

Nasehat saya kepada para mualaf, agar selalu masuk ke dalam komunitas muslim dan selalu mencoba tetap berhubungan dengan mualaf lain. Penting untuk kalian tetap berada dalam lingkungan Islami agar mendapatkan ilmu dan menambah keimanan. Kalian pasti merasakan masa-masa sulit karena saya sendiri merasakannya, tetapi bersabarlah, karena Allah tengah memberi hikmah di balik semua itu.

Insya Allah Hadith of the Day membantu saya dengan selalu memberikan semangat berislam setiap kali saya membaca tulisan-tulisan yang diposkan dan juga mengajari berbagai hal yang belum saya mengerti.

Anne Marie

Sunday, 26 October 2014

, , , , ,

Subhanaallah, Islam Memberi Segala yang Dicari Perempuan Tunanetera Ini


Nama saya Aisha, lahir di Sanford, Florida di tahun 1990, dalam keadaan tunanetra. Saat berumur sekitar 2 tahun, saya mulai tinggal bersama nenek di Las Vegas. Saya tumbuh dalam keluarga yang tak agamis. Saya tinggal bersamanya hingga ia meninggal dunia ketika usia saya menginjak 20 tahun. 


Saya tak memiliki saudara. Saya tak bisa tinggal bersama ibu karena beliau seorang bramacorah dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang. 



Tumbuh sebagai tunanetra membuat nenek saya selalu mengajari saya untuk menjadi pribadi yang kuat, lakukan apa yang ingin dilakukan, gapailah cita-cita, dan jangan biarkan apa pun masuk dalam hidupmu. Dulu saya bersekolah di Kompleks Gereja Unitari, di mana saya akan bertemu banyak teman dan bersuka ria. Hari libur, seperti hari Paskah dan Natal adalah hari-hari di mana saya dulu bersuka ria, mendapatkan banyak hadiah, dan makan banyak permen. 



Ketika kira-kira umur saya menginjak 10 tahun, nenek saya menyekolahkan saya di sekolah terbaik bagi penyandang tunanetra di daerah itu, sehingga kami harus pindah ke Jalan Augustine, FL di mana Florida School (sekolah bagi penyandang tunarungu dan netra) berada. 



Setelah lama bersekolah di sana, saya menjadi bintang lapangan dalam olah raga Goal Ball. Goal Ball adalah olah raga bagi penyandang tunanetra, setiap tim terdiri atas tiga pemain dan dimainkan di dalam sebuah lapangan basket. Dipermukaan lapangan dipasangi pita dengan benang yang membentang, sehingga setiap pemain dapat merasakan satu sama lain, dan di dalam bola terdapat lonceng. Tujuan permainan itu adalah memasukkan bola ke gawang dan menjaga gawang bagi tim lain.



Suatu hari, seorang gadis muslim datang ke sekolah kami selama beberapa waktu, tapi hal itu tak pernah membuat saya lantas menerimanya. Kami selalu mengejek suara dan cara dia berbicara. Ada juga seorang anak laki-laki muslim yang bersekolah di sana yang kemudian pindah ke Mesir. 



Desember 2007, nenek saya mengajak saya dan teman saya berwisata ke Eropa. Perjalanan wisata tersebut juga memuat paket perjalanan ke Maroko. Saya rasa Maroko sangat mengagumkan. Bahasa Arabnya membangkitkan minat saya, masyarakatnya begitu santun, dan makanannya sangat enak. 



Pemandu perjalanan memperkenalkan dirinya bernama Ali. Saya sangat tertarik ketika ia mengatakan Allah dan apa artinya? Saya bertanya-tanya. Ia menerangkan kepada saya bahwa ia seorang muslim dan Allah adalah Tuhan dan ia menyembah-Nya. Tak ada Tuhan selain-Nya dan Muhammad adalah utusan-Nya. 



Namun hal itu tidak terlalu menarik hati saya hingga saya kembali ke Amerika dan memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang seorang perempuan Arab yang dipermainkan oleh suaminya. Untuk menciptakan alur cerita yang natural, saya harus mempelajari Islam karena dulu saya pikir Islamlah yang memperlakukan perempuan dengan sangat buruk. Saya melakukan riset tentang pakaian, bahasa, apa yang sering dikenakan laki-laki dan perempuan Islam, mengapa perempuan mengenakan pakaian seperti itu, dan tentunya berbagai hal tentang Islam. 



Selama beberapa tahun saya menghentikan penulisan cerita itu untuk mempelajari Islam. Dan saya begitu takjub dengan apa yang saya temukan. Segala hal dalam Islam tak ada yang bertentangan dengan logika. Kita beribadah hanya kepada Allah dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasul terakhir. Saat itu, akhirnya saya tahu bahwa Yesus berdiri di atas kebenaran Islam, karena meskipun saya tidak berasal dari keluarga agamis, saya masih tetap berdoa kepadanya. Namun ketika saya mengetahui bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah rasul Allah, hal itu meningkatkan spiritual saya. Segalanya masuk akal. Setiap kali saya membaca tentang Islam, selalu ada yang mendorong saya untuk terus mendekat dan mendekat, seolah-olah saya sedang berada di sebuah pesawat yang terbang jauh dan hampir mendarat ke tempat tujuan. Rasanya seperti ada yang menarik saya keluar pesawat yang saya tumpangi dengan meloncat keluar. 



Suatu ketika, seorang perempuan berbincang dengan saya tentang anaknya yang tiba-tiba masuk Islam. Perempuan ini penganut ajaran Katolik yang kuat, sehingga memiliki pandangan bahwa segala tentang Islam adalah salah dan bisa dibayangkan betapa ia membenci anaknya itu. Saya memutuskan untuk mengunjungi anaknya. Ketika berada di dalam rumahnya, saya menanyakan pertanyaan mendasar tentang Islam, meskipun saya sebenarnya telah mengetahui jawabannya, namun saya ingin mendengar langsung jawaban dari seorang muslim, tidak hanya mengetahui jawaban seperti yang selama ini saya baca di berbagai artikel dan internet. Dan ternyata jawabannya sama seperti yang telah saya ketahui dan bahkan ia menambahkan beberapa informasi. Selama beberapa minggu, saya menemuinya di perpustakaan dan ia juga memberikan beberapa CD tentang Islam. 



Suatu hari, ketika saya berkunjung ke rumah paman saya bersama nenek saya di New Jersey, lima hari sebelum hari Natal, saya bangun di pagi hari dengan sebuah perasaan berbeda. Saya menelpon teman saya dan berkata bahwa saya ingin masuk Islam. Mendengar hal itu, ia sangat gembira, namun kemudian ia mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan bahwa saya telah benar-benar paham dengan apa yang akan saya lakukan. Setelah saya menjawab dengan mantap, ia pun menuntun saya mengikrarkan syahadatain dan akhirnya saya masuk Islam. Setelah itu, saya merasa begitu bahagia dan merinding di sekujur tubuh. Kemudian saya mandi, namun perasaan itu benar-benar tak mau hilang. 



Saya sedikit ragu untuk mengabarkan hal ini kepada nenek saya. Namun saya putuskan untuk memberitahunya. Awalnya ia agak takut dengan apa yang saya lakukan, ia mengira saya telah melakukan tindakan keliru, namun saya berikan kepadanya beberapa artikel untuk ia baca dan setelah itu ia bisa menerima. Di bulan Januari, saya bertemu muslimah lain yang kemudian memberikan saya hijab dan mengajari saya shalat. Saat itu saya telah terbiasa memakai blus dan rok panjang. Saya sedikit takut untuk berangkat ke sekolah setelah itu, karena saya bakal jadi satu-satunya muslim di sekolah. Namun saya beranikan untuk tetap datang dan hasilnya beberapa orang menjauh dari saya, namun saya memperoleh begitu banyak pengalaman. 



Alhadulillah, telah 4 tahun saya menjadi muslimah. Meskipun berbagai rintangan telah menghampiri saya, seperti muslim lainnya, hal itu malah membuat keimanan saya semakin kokoh. Dan sekarang saya telah memakai niqab dan saya rasa hidup saya telah sempurna. Saya berusaha untuk menyebarkan risalah Islam. Mencoba menyadarkan kepada yang lain betapa indahnya Islam dan kebahagiaan yang bakal terperoleh setelah masuk Islam. 



Saya percaya, Islam telah menyelamatkan saya dari kehidupan yang saya pilih. Allah itu Maha Penyayang dan betapa tak sadar kita telah sering menyianyiakan ini. Kita harus yakin bahwa Allah selalu bersama kita di mana pun kita berada dan Dia Maha Pemurah!


Aisha F.