Showing posts with label eropa. Show all posts
Showing posts with label eropa. Show all posts

Friday, 17 October 2014

, , , , , , , , ,

Kisah Wanita Hindu yang Menemukan Kebenaran


Saya berasal dari keluarga hindu murni, di mana kami selalu diajari untuk memandang diri kami (yaitu perempuan) sebagai manusia yang kelak akan dinikahkan, melahirkan anak-anak, dan melayani suami -entah suami itu baik atau tidak.

Saya juga menemukan bahwa ada begitu banyak ajaran yang sangat nyata mengekang perempuan, seperti:

Jika seorang perempuan telah janda, ia diharuskan memakai pakaian putih, memakan makanan yang hanya berasal dari tumbuh-tumbuhan, memendekkan rambut, dan tidak diperbolehkan menikah lagi. Mempelai wanita harus menyiapkan mahar untuk menikah. Dan suami boleh meminta mahar apa pun tanpa penghargaan, meskipun hal itu akan menyulitkan mempelai wanita.

Tidak hanya itu, jika setelah menikah si wanita tidak mampu membayar penuh maharnya, ia akan disiksa perasaan dan fisiknya. Dan bahkan tidak bisa dikatakan sebagai sebuah korban penyiksaan meskipun ia meninggal, apabila suami atau ibu mertua dan suami bersekutu untuk membunuh istri dengan membuat jebakan api yakni ketika istri menyalakan kompor kemudian kompor tersebut meledak dan si istri meninggal, namun hal tersebut hanya dianggap sebagai kecelakaan yang tidak disengaja. Kejadian ini terjadi berulang kali, seperti yang dialami anak teman ayah saya tahun lalu.

Laki-laki dalam ajaran hindu diperlakukan sebagai bagian dari para dewa. Dalam salah satu perayaan hari raya hindu, perempuan yang belum menikah berdoa dan menyembah berhala yang berwujud dewa (Shira), supaya mereka mendapatkan suami seperti dia. Bahkan ibu saya sendiri menyuruh saya melakukan ini. Hal ini membuat saya sadar bahwa agama hindu, yang didasarkan pada tahayul dan hal-hal yang tak memiliki bukti nyata melainkan hanya tradisi-tradisi yang mengekang perempuan, bukanlah agama yang benar.

Kemudian, ketika saya pergi ke Inggris untuk melanjutkan studi, saya berpikir, setidaknya negara ini memberikan kesetaraan hak bagi laki-laki dan perempuan dan tidak mengekang mereka (perempuan). Saya kira, kita semua memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan. Ketika saya mulai mengenal orang-orang di sini, berteman, mempelajari masyarakat baru, dan ikut pergi ke setiap tempat untuk bersosialisasi (bar, dugem, dll.), saya sadar bahwa kesetaraan ini tidak benar dalam praktiknya sebagaimana dalam teori.

Pada asalnya, perempuan terlihat diberikan kesetaraan hak dalam pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya, namun dalam kenyataannya, perempuan tetap dikekang dengan cara lain, yang lebih halus. Ketika saya pergi bersama teman saya ke tempat-tempat ia sering nongkrong, saya dapati semua orang tertarik ngobrol dengan saya dan waktu itu saya berpikir hal itu normal. Namun kemudian barulah saya sadar betapa naif diri saya ketika saya ketahui apa yang sebenaranya mereka cari. Sesegera saya mulai merasa tidak nyaman, seolah ini bukan diri saya. Saya harus berpakaian sedemikian rupa supaya orang lain menyukai saya dan berbicara dengan gaya tertentu untuk menyenangkan mereka. Hingga saya merasa semakin tak nyaman dan saya semakin merasa tidak menjadi diri saya, namun saya tidak bisa keluar dari dunia ini. Semua orang mengatakan mereka menikmati gaya hidup seperti itu, namun saya tidak menganggap ini sebagai kesenangan.

Saya pikir perempuan dalam cara hidup seperti ini tengah dikekang: mereka diharuskan berpakaian sedemikian rupa untuk menyenangkan orang lain dan berpakaian semenarik mungkin serta berbicara dengan gaya tertentu supaya orang-orang menyukainya. Selama saya menjalani kehidupan seperti ini, saya belum berpikir tentang Islam, mekipun saya memiliki beberapa kenalan muslim. Namun saat itu, saya merasa harus melakukan sesuatu untuk menemukan "sesuatu" agar mendapatkan kebahagiaan, rasa aman, dan perasaan dihargai. Sesuatu yang harus diyakini karena hal itu adalah keyakinan yang benar, karena semua orang memiliki keyakinan dan mereka hidup di atas keyakinan itu. Jika bersenang-senang dengan semua orang adalah sebuah keyakinan, mereka telah melakukan itu. Jika uang adalah keyakinan, mereka telah melakukan segala hal untuk mendapatkan uang. Jika mereka yakin dengan mabuk mereka menikmati hidup, mereka melakukan ini. Namun saya pikir semua ini akan sia-sia, tak seorang pun merasa benar-benar puas, dan penghormatan terhadap perempuan semakin berkurang dalam cara hidup yang demikian itu.

Di era yang begitu banyak ideologi kesetaraan hak bagi seluruh masyarakat disuarakan, anda diharap memiliki pacar atau anda akan dianggap aneh dan bahkan anda tidak diharuskan untuk tetap perawan. Hal ini merupakan bentuk-bentuk pengekangan meskipun banyak perempuan yang tidak menyadarinya. Ketika saya masuk Islam, rasa aman itu datang dengan begitu sempurna. Sebuah agama, sebuah keyakinan yang begitu lengkap dan jelas di setiap aspek kehidupan. Banyak orang beranggapan bahwa Islam adalah agama yang mengekang pemeluknya, di mana perempuan diharuskan menutup seluruh tubuhnya dan tidak membolehkan hak kebebasan. Namun sebenarnya, Islam memberikan lebih banyak kebebasan dan telah berlangsung selama lebih dari 1400 tahun. Dan tentu saja hal ini tidak bisa dibandingkan dengan kebebasan yang baru-baru ini disuarakan oleh para perempuan nonmuslim dari beberapa negara Barat dan masyarakat lain. Namun di zaman ini masih ada beberapa tatanan masyarakat yang mengekang perempuan, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, yang berkaitan dengan perempuan hindu.

Perempuan muslim memiliki hak untuk mendapatkan warisan. Mereka memiliki hak untuk menjalankan perdagangan atau bisnis. Mereka memiliki hak penuh atas kepemilikan barang dan pembagian/pemisahan harta yang mana suami tidak memiliki hak untuk mengambil sedikit pun atas harta istri kecuali istri mengijinkan. Mereka memiliki hak pendidikan, mereka berhak menolak perjodohan, selama penolakan tersebut didasarkan pada alasan yang bisa dipertimbangkan dan dapat dibenarkan. Al-qur’an, sebagai Kalam Allah, memuat begitu banyak ayat yang menyuruh laki-laki untuk berbuat baik kepada istri dan memberikan hak-hak istri. Islam memberikan hak peraturan, karena ini tidak dibuat oleh laki-laki, namun dibuat oleh Allah, karena itulah, inilah agama yang paling sempurna.

Begitu sering perempuan muslim ditanya mengapa mereka menutupi tubuh mereka dan dikatakan hal ini merupakan bentuk pengekangan. Tidak. Dalam Islam pernikahan merupakan bagian penting dalam hidup. Oleh karena itu, perempuan tidak diperbolehkan mempertontonkan tubuhnya ke semua orang, namun hanya untuk suaminya. Bahkan laki-laki tidak diperbolehkan memperlihatkan bagian tertentu dari tubuhnya kecuali kepada istri. Allah telah memerintahkan perempuan muslim untuk menutupi seluruh tubuhnya agar terjaga kesuciannya:

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Ahzab: 59).

Jika kita melihat ke masyarakat, sebagian besar persoalan penganiayaan atau pelecehan terhadap perempuan disebabkan oleh pakaian yang mereka kenakan. Hal lain yang ingin saya tekankan adalah bahwa dalam Islam peraturan atau hukum-hukum tidak hanya berlaku pada perempuan namun juga bagi laki-laki. Tak ada campur baur antara laki-laki dan perempuan. Apa pun yang telah digariskan oleh Allah adalah benar, berfaedah, bersih, bermanfaat bagi seluruh manusia, dan tak ada keraguan atasnya. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu ayat Al-Qur’an berikut:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (An-Nur: 31).

Ketika saya memakai hijab, saya sangat bahagia melakukannya dan saya benar-benar ingin melakukannya. Ketika saya memakai hijab, saya merasakan kepuaasan dan kebahagiaan: yakni kepuasan karena saya telah menaati perintah Allah dan bahagia atas kebaikan dan keberkahan yang datang bersamanya. Saya semakin merasa aman, karena kenyatannya, orang lain lebih menghargai saya. Saya benar-benar bisa melihat dan merasakan perbedaan sikap yang ditujukan kepada saya.

Terakhir, saya katakan bahwa saya masuk Islam bukan tanpa pertimbangan atau dengan paksaan. Dalam sebuah ayat Al-Qur’an telah menegaskan:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) (Al-Baqarah:256).

Saya masuk Islam dengan pendirian yang teguh. Saya telah melihat, merasakan, bahkan melakukan apa pun di luar Islam. Dan saya sadar saya telah melakukan hal terbaik. Islam tidak mengekang perempuan, namun sebaliknya Islam membebaskan mereka dan memberikan penghormatan yang pantas mereka terima. Islam adalah agama yang telah dipilihkan oleh Tuhan kepada seluruh manusia. Mereka yang menerimanya berarti telah benar-benar bebas dari segala belenggu manusia yang telah menguasai dan melegalkan hukum buatan manusia. Hal itu tidak lain hanyalah pengekangan satu kelompok terhadap kelompok lain dan eksploitasi dan pengekangan laki-laki terhadap perempuan. Hal itu tidak ada dalam Islam yang benar-benar membebaskan perempuan dan memberikan mereka kebebasan diri yang tidak diberikan dari otoritas lain.  

baca versi Inggrisnya di islamcan.com
 

Saturday, 11 October 2014

, , , , , ,

Kisah Wanita Mualaf dari Eropa


Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Saya lahir di kota kecil di Rumania, sebuah negara di Eropa Tenggara. Sekitar 97% penduduknya beragama kristen ortodoks, namun banyak yang tak melaksanakan ajarannya. Agama telah berubah menjadi semacam tradisi, kearifan lokal, dan budaya. Agama dipandang sebagai sesuatu yang dimiliki oleh setiap orang, namun tak patut untuk diperlihatkan kepada orang lain. Anda harus menyimpannya untuk diri anda sendiri, atau membicarakannya sepintas saja.

Sejak muda, saya sangat terpikat dengan agama. Saya senang berdoa dan hadir di gereja. Bibi ibu saya yang selalu mengajak saya ke gereja dan mengajarkan saya tentang ajaran kristen. Saya memanggilnya Mamaitza. Orang tua saya tidak pernah senang dengan tindakan saya untuk terlalu agamis, tapi tidak melarang saya untuk mendengar cerita-cerita Mamaitza atau pun pergi bersamanya.

Ketika saya berumur 16 tahun, saya pinda ke Amerika untuk menamatkan SMA hingga kemudian meneruskan sekolah di universitas. Hingga saya berumur 23 tahun, saya masih di Amerika untuk bekerja dan menyelesaikan pendidikan master saya. Saya tak mengetahui apa pun tentang Islam ketika pertama kali pidah ke sini. Bahkan saya tidak tahu bahwa Islam adalah sebuah keyakinan, namun hanya melihatnya sebagai sebuah rezim politik. Selama belajar di universitas, saya mempelajari ajaran Islam dasar, yakni seperti tak makan daging babi, berhijab, dan mungkin beberapa cara ibadah. 

Setelah tamat, saya bertemu seorang pria muslim yang memperlakukan saya lain daripada yang lain, dia begitu menghargai saya, mempertanyakan kepercayaan saya. Dialah yang kemudian menjadi teman baik saya, dan orang yang akan saya terus sampaikan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya. Dia membawa pengetahuan saya mengenai Islam ke level yang lebih tinggi, mengajukan pertanyaan kepada saya tentang kepercayaan saya tanpa mengharapkan jawaban, dan menunjukkan kepada saya kelogisan dan kebenaran Al-Qur’an. Namun rasa keingintahuan saya meningkat jauh melebihi pengetahuan yang dia punya, dan itu membangkitkan minat saya untuk terus belajar, haus untuk mengetahui lebih dalam.

Saya selalu berpikir bahwa Allah pelan-pelan menyiapkan musim panas itu untuk saya memeluk Islam. Sejak dulu, saya selalu tertarik dengan agama, meski saya tak banyak melaksanakan ajarannya. Saya hadir ke gereja dan senang berdoa. Datang ke Amerika mencegah saya untuk menyembah foto orang-orang suci, dan membuat saya menyembah satu-satunya Dzat, satu-satunya Tuhan, Allah subahahuwata'ala. 

Kemudian, saya berhenti minum muniman keras, bahkan berhenti bersosialisasi karena saya mulai stres dan mulai punya masalah besar. Saya berhenti pergi ke klub malam dan mulai pergi ke gereja lagi, sebuah pengalaman lama yang membantu saya menyadari kedangkalan agama saya. Setelah mencapai tahap akhir itu, Allah menunjukkan Islam kepada saya.

Selama musim panas tahun 2011, saya sangat terobsesi dengan Islam. Saya mulai mencari sendiri, tapi pemahaman yang sedikit mengenai Islam membatasi saya. Karena itu, saya menghubungi sepasang suami-istri yang telah lama saya kenal, di mana si laki-laki yang telah masuk Islam menjadi sangat berilmu tentang Islam. Dia memberitahu saya di mana harus mencari sumber informasi tentang Islam, apa yang perlu didengar, dan membantu saya melepaskan perasaan stres yang telah saya alami. Saya merasa saya sedang menyingkap tabir siapa diri saya sebenarnya dan karena itu saya langsung bentrok dengan orang tua saya.

Meskipun terjadi berbagai keraguan dan kejadian menyedihkan, saya tak bisa berhenti untuk mencari tentang Islam. Ada beberapa hal yang membuat saya sangat tertarik meski ada banyak hal yang saya tak mengerti atau tidak cukup paham tentang Islam. Saya hanya tak bisa membuang ketertarikan itu begitu saja. Lalu apa yang membuat saya meneruskan pencarian?

Saya percaya kepada Allah dan suatu saat saya berdoa kepada-Nya,"Saya tahu ada hal-hal yang mungkin saya tak pahami tapi saya tetap memercayai-Nya biar pun saya tak mendapatkan semua jawaban itu, tapi jika ini adalah jalan-Nya untuk menunjuki saya pada sebuah jawaban pasti, maka akan saya lanjutkan pencarian ini." Saya manangisi diri saya sendiri dan meminta pertolongan. Saya bertanya kepada Allah apakah yang saya lakukan dulu keliru dan saya meminta Dia untuk memberikan apa yang saya butuhkan. Itulah doa yang kemudian menganugerahi saya Islam dan itulah doa yang mendorong saya untuk terus mencari dan mencari hingga akhirnya saya temukan jawabannya.

Pencarian saya tentang Islam berlanjut hingga 6 bulan, sampai saya yakin bahwa Islam adalah kebenaran sesungguhnya. Namun saat itu saya ragu untuk segera masuk Islam. Saya takut dengan yang namanya ibadah dan kalau nanti saya melakukan kesalahan. Saat itu saya takut dengan hal-hal detil tentang Islam yang saya sendiri belum mengetahuinya. Namun akhirnya, saya mengikrarkan syahadatain di akhir Januari 2012 di rumah saya sendiri. Dan akhirnya saya melakukan shalat yang sesungguhnya. SAYA TIDAK PERNAH MEARASA SEDAMAI ITU DALAM HIDUP SAYA SEPERTI KETIKA SAYA MASUK ISLAM. 

Saya akui, saat itu saya masih memiliki keragu-raguan, tapi saya selalu meminta kepada Allah untuk memberikan jawabannya, dan Dia pasti memberikannya (SubhanaAllah). Telah ada hari di mana saya sedikit kehilangan arah maka saya akan meminta jawaban, pertolongan, kedamaian kepada-Nya. Saya tidak pernah lagi merasa kesepian sejak saya masuk Islam. Sebaliknya sebanyak apa pun tekanan batin, sebanyak apa pun yang saya butuhkan, sebanyak apa pun kesulitan yang akan saya alami, tak pernah ada lagi perasaan berat yang seolah tertimpa beban yang tak bisa ditanggung, karena saya telah memperoleh apa yang selama ini saya butuhkan (Alhamdulillah): jawaban, solusi, ide, apa pun. Saya akan berdoa atau istikhara dan saya akan mendapatkannya. Dan bahkan ketika saya belum masuk Islam, saya meminta kebenaran, saya mendapatkan Islam sebagai jawaban. Dan ketika saya bertanya apa pun mengenai Islam, saya temukan jawabannya -tak ada yang lebih ajaib daripada itu.

Tak ada yang tak masuk akal dalam ajaran Islam. Tentu ada banyak hal yang kita tak memiliki ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah, karena Allah sendiri telah mengabarkan kepada kita bahwa kita tidak akan pernah memiliki seluruh ilmu di dunia ini. Tapi itu adalah hal-hal yang bersifat tak wajib, bukan merupakan pilar, atau inti dari agama.

Alasan lain saya percaya pada Islam adalah karena banyaknya tanda kebenaran Al-Qur’an. Ini merupakan alasan yang selalu saya berikan kepada orang-orang yang kecewa dengan keislaman saya. Itu menjadi alasan utama bagi saya untuk masuk Islam, tapi banyak orang tak melihatnya, seperti Kisah Firaun -bagaimana Allah mengabarkan kepada kita bahwa Allah akan mengabadikan tubuh Firaun sebagai tanda Kekuasaan-Nya dan tubuhnya sekarang benar-benar abadi dilindungi di sebuah musium di Prancis; kisah tentang semut -bagaimana Allah mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Sulaiman memahami percakapan antarsemut, dan di tahun 2009 ilmuan teleh menemukan bahwa semut memiliki sistem komunikasi tersendiri; kisah besi -bagaimana Allah menyebutkan bahwa Dia menurunkan besi, besi pertama -seperti terdapat pada unsur bumi adalah dari meteor yang menghantam bumi di zaman dinosaurus; bumi -bagaimana Allah menyebutkan bahwa bumi retak atau lautan memiliki dua arus, yakni air panas dan dingin. Saya hanya bisa tersenyum kepada orang-orang suka menyerang Islam karena dalam Al-Qur’an telah dikabarkan bagaimana keadaan setiap kali manusia meminta tanda-tanda kebesaran-Nya, dan ketika tanda-tanda tersebut datang kepadanya, mereka tetap mengingkari-Nya. Mereka akan berkata, "Pasti ini adalah sebuah sihir atau ilusi, ini pasti bukan benar-benar tanda-tanda Kekuasaan-Nya."

Terakhir, alasan puncak yang membuat saya memercayai Islam adalah Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam. Beliau telah mencontohkan teladan hidup dan teladan figur yang begitu mengagumkan. Tindakan, kisah, perjuangan, dan kemenangannya bukan merupakan sesuatu yang sederhana, yang bisa dilakukan oleh setiap manusia. Ketetapan hati dan kekuatannya tidak seperti orang biasa. Hidup dan ajarannya -Masyaallah- begitu dalam dan sebagai pernyataan terang bahwa Islam adalah kebenaran yang membuat saya tak bisa mengingkarinya.

Ketika anda menggabungkan seluruh alasan dan kisah-kisah mualaf yang mengagumkan, hal itu benar-benar membuat sulit untuk mengingkari agama yang indah ini. Tak ada satu hal pun yang lebih saya percayai ketimbang Islam. Saya berdoa, Insyaallah akan bertambah dan bertambah orang-orang yang melihat dan merasakan apa yang telah saya lihat dan rasakan.

Alhamdulillah dan JazakAllah Khair karena telah membaca kisah saya


Alina C
 Hadith of the Day

Wednesday, 10 September 2014

, , , , , , ,

Nama saya Dalanda dan beginilah kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama lahir saya Dawn. (Sekarang Dalanda)

Saya lahir di Kota Camden, London tahun 1975. Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Waktu kecil saya adalah tipe anak yang selalu dalam masalah. Saya seorang anak yang cukup liar dengan berbagai masalah yang selalu mengikuti. Saya selalu diolok-olok nyaris selama SD dan SMP.

Saya tak tumbuh dengan segenap kemudahan hidup. Saya selalu mendengar orang tua saya bertengkar sepanjang hari. Ayah saya meninggal ketika saya berusia 23 tahun. Saya semakin terpuruk ketika adik perempuan saya harus bersekolah di SLB dan penyakit asma dan ginjal saya yang sering kambuh. Orang tua saya pindah dari London ke Essex. Ketika usia saya menginjak 4 tahun, saya berharap jalan hidup saya akan berbeda. Tapi itu tak terjadi, semuanya menjadi lebih buruk.

Saya diperkosa saat berusia 15 tahun dan membuat saya menempuh jalan hitam dengan mulai mengkonsumsi minuman keras dan narkoba. Saya menikah dan dikaruniai 5 anak yang menggemaskan. Saya juga pernah kehilangan dua bayi ketika dalam kandungan. Umur pernikahan saya hanya 5 tahun dan hal itu menyebabkan anak perempuan sulung saya menjadi sangat kasar kepada saya. Hidup saya menjadi lebih hancur dengan perceraian itu.

Saya masuk Islam setelah saya bertemu dua wanita muslim yang sangat menyenangkan dan anak perempuannya. Mereka sering mengundang saya untuk hadir ke sebuah perkumpulan ibu-ibu yang diadakan oleh para muslimah. Saya menyambut baik ajakan itu dengan datang setiap minggu. Saya memperoleh banyak teman yang membantu saya melewati masa pasca perceraian dan masalah-masalah saya yang lain. Setelah tiga bulan bersama dengan para muslimah itu dan mendengar kajian-kajian Islam beserta hadis-hadis nabi salallahu alaihi wa sallam, saya memutuskan untuk mengikrarkan syahadatain. Saya senang, saat ini saya tengah dalam masa ta’aruf dengan pria Tunisia dan berencana menikah di Tunisia 12 Agustus 2014 mendatang. Satu hal yang saya pelajari dari Islam adalah seberapa berat kesulitan yang kita hadapi, jangan pernah membuat iman kita kepada Allah luntur, karena Dia selalu mendengar doa kita dan selalu bersama kita. Saya bahagia telah memilih Islam sebagai agama saya dan saya merasa lebih bahagia sekarang. Semoga Allah selalu mencurahkan kedamaian dan keberkahan kepada kita semua.

Semenjak saya masuk Islam, banyak teman saya yang merubah sikapnya terhadap saya. Hal itu tidak mudah untuk dihadapi. Saya kira hal itu memang berat sebagaimana dihadapi oleh mualaf lain, khususnya ketika mulai mengenakan hijab di muka umum. Mendapat pandangan buruk dan komentar cemoohan itu sudah pasti saya terima. Saya pernah diludahi dan wajah saya dipukul di jalan, tapi menurut saya hal itu tambah membuat saya semakin kuat dari luar dan dari dalam. Satu hal yang bisa saya katakan, Islam adalah agama yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Saya yakin Allah memilih saya (dari sekian banyak manusia, pen) karena sebuah alasan.

Menjadi muslimah telah membawa begitu banyak kedamaian ke dalam hidup saya yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Islam membuat saya lebih kuat dan percaya diri dari sebelumnya dan semakin membuat saya bangga dengan jati diri saya sebagai seorang muslimah.

, , , , , , ,

Nama saya Alena Katkova dan beginilah Kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Saya berumur 29 tahun, berasal dari Siberia. Saya orang Rusia. Saya bekerja di sebuah operator call centre di New Zealand.

Saya lahir di Rusia, sebenarnya US SR, sebuah negara tanpa agama dan saya datang ke New Zealand tahun 2008, sebuah negara dengan begitu banyak budaya, kebangsaan, dan agama.

Ketika saya mulai belajar di AUT (New Zealand) saya bertemu beberapa mahasiswa muslim dan serta-merta rasa ingin tahu saya muncul dan kemudian saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Karena itulah saya masuk Islam. Sejujurnya, hal itu telah mengubah kehidupan saya khususnya yang berhubungan dengan kepribadian.

Sebelum memeluk Islam saya sering pergi ke klub malam untuk dugem, tapi semua itu kini tak lagi saya lakukan. Semenjak saya memakai hijab, cara orang memperlakukan saya kini berubah dan saya rasa, saya lebih dihormati dibanding sebelumnya. Dalam Islam, kita tidak dibolehkan berjabat tangan dengan lawan jenis, merangkul, dan mencium siapapun yang bukan mahram dengan kita, dan hal itu saya praktikkan. Ketika saya bertemu pria, saya akan berkata,”Senang bertemu anda, maaf agama saya tidak memperbolehkan saya untuk berjabatangan dengan anda.” dengan sebuah senyuman dan mereka bisa memahami. New Zealand adalah sebuah negara yang begitu baik menerima perbedaan. Namun ada pertentangan dengan keluarga saya, dan bahkan adik saya yang paling kecil masih tidak mau menerima kenyataan bahwa saya adalah seorang muslimah.

“Di Rusia, orang masih berpikir bahwa muslim adalah teroris karena seluruh informasi yang mereka dapat tentang Islam berasal dari media. Saya merasa nyaman mengenakan hijab, tetapi ketika saya memikirkan untuk berganti pekerjaan, karena kecakapan saya ada di dunia mengajar, saya selalu berpikir, mereka pasti menerima saya sebagai guru.”

Friday, 5 September 2014

, , , , , ,

Nama saya Saeed dan beginilah kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Saeed, umur 34 tahun, saya tinggal di Swedia. Juni tahun lalu, saya mengikrarkan syahadatain dan resmi masuk agama yang indah ini. Beginilah cerita saya masuk Islam.

Sebelum saya menemukan Islam, saya tidak tertarik sama sekali dengan agama, saya selalu berkata dalam hati,”Agama hanya untuk orang lain, bukan saya”. Saya dulu beragama Kristen Katolik, tapi saya tak pernah peduli, lagipula saya tidak pernah memahami Agama Kristen, Subhanaallah. Agama menurut saya tak masuk akal. Bertahun-tahun saya menjalani kehidupan ala Barat, tanpa berpikir tentang agama. Bahkan saya kira saya adalah ateis sebelum saya masuk Islam.

Jadi bagaimana bisa orang yang tak mau tahu urusan agama seperti saya masuk Islam? Hal itu bermula di musim gugur 2011, ketika saya mulai ingin mengetahui perbedaan orang-orang muslim di Facebook dan di dunia nyata, melalui kegiatan pro-Palestina. Seperti orang-orang non-Muslim Barat lainnya, saya tidak begitu banyak mengetahui tentang Islam dan saya mulai bertanya berbagai hal kepada teman baru saya yang beragama Islam. Apa yang mengagumkan bagi saya adalah jawaban mereka semua sama. Meskipun mereka bukan muslim yang begitu taat, mereka mengetahui banyak tentang agama mereka dan mereka selalu bisa memberikan jawaban dari Al-Qur’an menngenai pertanyaan yang saya ajukan. Dan hal itu membuat saya sangat terkesan. Semua hal yang mereka katakan masuk akal.

Bahkan sebelum saya mulai berdiskusi dengan orang-orang Islam, saya terbiasa mendengarkan Murotal Al-Qur’an, karena saya merasa suaranya begitu indah meski saya tidak tahu artinya. Saya mendengar beberapa Qori menangis ketika membaca Al-Qur’an dan hal itu begitu menyentuh saya. Kemudian, suatu malam saya bermimpi tentang Murotal Al-Qur’an, dan dalam mimpi itu saya bisa memahami setiap kata dari Al-Qur’an yang dibacakan, meskipun itu berbahasa Arab. Dan saya bisa melihat masjid di dalam mimpi itu.

Setelah mimpi itu, saya mulai menyelidiki tentang Islam, dan hal pertama yang saya lakukan adalah berhenti makan daging babi, saya kemudian saya tahu itu menjijikkan. Di Bulan Maret 2012, saya mulai membaca Al-Qur’an terjemahan Swedia dari awal hingga akhir, dan ketika membaca Al-Qur’an itu kehidupan saya berubah drastis. Saya sangat terkagum-kagum dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an memberikan saya semua jawaban yang saya butuhkan untuk memahami Islam. Ketika saya sedang membaca, kerap kali berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul seperti,”Saya heran mengapa Allah berkata tentang ini dan itu...” dan Subhanaallah ketika membuka halaman selanjutnya saya pasti akan menemukan jawabannya. Karena itulah saya merasa Allah menuntun saya ke jalan yang benar. Dan ketika saya membaca ayat, bahwa Allah hanya menunjuki orang yang Dia kehendaki dan membiarkan yang lain tersesat, saya benar-benar merasa rendah dan saya mulai banyak menangis. Jadi dengan segenap kata pengagungan kepada Allah dan salawat serta salam kepada nabi-Nya salallahu alaihi wasallam saya mulai belajar melaksanakan shalat. Ketika saya membaca Al-Qur’an dan melaksanakan shalat, saya memperoleh ketenangan yang begitu dalam yang tak mudah diterangkan. Saya hanya bisa berkata semuanya tiba-tiba terasa begitu indah dan berbagai hal dalam hidup saya mulai berubah.

Salah satu teman saya mengajurkan saya untuk pergi ke masjid dan berbicara dengan muslimin di sana dan kepada imam masjid dan mendengar apa yang mereka katakan. Jadi di hari Jum’at saya pergi ke masjid lokal di daerah saya dan berbicara dengan imam setelah shalat Jum’at. Beliau sangat senang mendengar pengalaman saya selama ini, begitu pula orrang-orang yang tetap di sana dan mendengar cerita saya. Semua orang begitu baik kepada saya, MasyaAllah dan saya merasa menjadi bagian dari saudara-saudara muslim. Setelah dari sana saya memutuskan untuk masuk Islam. Dalam pikiran saya, saya merasa saya sudah masuk Islam, saya telah melaksanakan shalat secara teratur dan saya telah menghentikan semua perbuatan buruk saya seperti merokok. Tepat di hari Sabtu, 2 Juni saya mengucapkan, “Ash-hadu an la ilaha illa allah, wa ash-hadu anna Mohammadan ‘abduhu wa rasuluhu” dan ketika itu, saya merasa ada seseorang yang menuangkan air es di leher saya.

Dan sejak saya masuk Islam, kehidupan saya menjadi sangat positif, saya bersyukur kepada Allah atas riski yang Dia berikan kepada saya. Dan di bulan Februari tahun ini saya menikah dengan seorang muslimah yang mengagumkan dari Maroko. Kami mendambakan kehidupan yang Islami, Insyaallah.