Showing posts with label kisah muslim. Show all posts
Showing posts with label kisah muslim. Show all posts

Thursday, 16 July 2015

, , , , ,

Kisah Perawat dan Pasiennya (Kisah Nyata Perjalanan Menuju Islam)



Segenap kru redaksi Kisah Muslim Dunia mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1436 Hijriah. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga amal kita diterima oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.



Untuk menemani momen bersantai Anda dengan keluarga, kami hadirkan sebuah kisah nyata tentang perjalanan seorang perawat yang awalnya tidak tahu apa pun soal agama akhirnya masuk Islam. 

Namaku Cassie, umur 23 tahun. Aku lulus sertifikasi perawat tahun ini dan mendapat kerja sebagai perawat rumahan. 

Pasien pertamaku adalah seorang lelaki Inggris berusia 80-an tahun yang menderita Dimensia Alzheimer. Dari pertemuan pertamaku dengannya, aku tahu ia seorang muslim. Karena itu aku merasa harus memperoleh beberapa informasi mengenai cara terbaik merawat pasienku itu agar pelayanan yang aku berikan tidak bertentangan dengan keyakinannya. 

Awal-awal aku bekerja kepadanya aku memberikan daging halal dan memastikan tak ada daging babi dan alkohol seperti yang telah kubaca di beberapa literatur Islam. 

Paisienku waktu itu adalah seorang lelaki yang sudah sangat tua, sehingga membuat banyak kawan kerjaku tak habis pikir mengapa aku harus bersusah payah dalam merawatnya. Tapi aku secara pribadi berkeyakinan bahwa seseorang yang telah memegang suatu prinsip agama maka ia harus kita hormati sebaik mungkin. 

Setelah beberapa minggu merawatnya, aku mulai heran dengan sebuah gerakan yang ia kerjakan berulang-ulang. 

Awalnya kukira itu adalah gerakan yang ia tiru dari seseorang, tapi dalam batin aku selalu bertanya mengapa gerakan itu terus ia ulang-ulang dalam waktu-waktu tertentu: pagi, siang, malam. 

Gerakannya berbentuk mengangkat tangan, rukuk, dan meletakkan kepala di lantai. Aku tidak paham sama sekali. Aku juga melihatnya mengulang-ulang bacaan-bacaan dengan bahasa yang aku tak pahami sama sekali. 

Hal aneh lain adalah ia tak mengizinkanku menyuapinya makan dengan tangan kiri (karena aku seorang kidal).

Salah seorang rekan kerjaku memberiku saran untuk ke Paltalk sebuah situs online untuk debat dan berdiskusi melalui video chat. Aku pikir karena aku tidak mengenal satu pun muslim kecuali pasienku itu tak ada salahnya jika aku mencoba bertanya tentang Islam kepada muslim secara langsung. Akhirnya aku buka laman Islam dan masuk ke kelas ‘Risalah Kebenaran’.

Di sana aku bertanya tentang gerakan yang selalu diulang-ulang seperti yang aku lihat dari pasienku. Hingga aku mendapat jawaban bahwa itu adalah gerakan ibadah. Aku tidak mempercayainya hingga seseorang menunjukkanku sebuah video di YouTube yang menampilkan gerakan shalat. 

Aku sangat terkejut. 

Seseorang yang telah kehilangan ingatannya tentang anak-anaknya dan pekerjaannya, hanya bisa makan dan minum, mampu mengingat bukan hanya gerakan shalat tetapi juga bacaan-bacaan shalat secara lengkap. 

“Luar biasa,” aku hanya bisa mengatakan itu dalam hati.

Aku tahu pasienku seorang yang taat beragama. Karena itu aku ingin memperlajari Islam lebih dalam untuk memberikan pelayanan terbaik. 

Aku datang ke Paltalk sesering mungkin. Suatu saat aku ditunjukkan seseorang untuk membaca Al-Qur’an dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an.  

Aku sangat suka dengan Surat Lebah (An-Nahl:16). Aku sering mendengarkan lantunan ayat-ayatnya secara berulang-ulang dalam sehari.

Aku menyimpan rekaman Al-Qur’an di iPodku. Kemudian kuberikan ke pasienku dan dia tersenyum dan menangis. 

Aku sering memberikan banyak hal yang aku dapat dari paltalk kepada pasienku hingga aku menyadari sesuatu. 

Selama ini, aku tidak pernah melihat sejenak ke dalam diriku sendiri: aku tidak tahu wajah ayahku, ibuku meninggal ketika aku berusia 3 tahun. Aku dan saudara laki-lakiku dibesarkan oleh kekek yang empat tahun lalu juga meninggal. Jadi kini aku hanya berdua dengan saudaraku. 

Namun meskipun begitu banyak kehilangan dalam hidupku, aku tetap merasa bahagia. 

Tapi setelah bersama pasienku itu beberapa waktu, aku merasa ada sesuatu yang sangat aku rindukan. Aku rindu perasaan damai dan tenang seperti yang terlihat dari aura tubuh pasienku, meski ia mengalami banyak penderitaan tapi ia masih merasa sangat tenang. 

Aku ingin merasakan perasaan memiliki yang luar biasa yang bisa membuat pasienku itu merasa tetap tenang meski sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. 

Aku diberi alamat beberapa masjid yang ada di sekitarku oleh seorang perempuan yang aku kenal di paltalk. Hingga suatu hari aku berkunjung ke salah satu masjid itu. Sampai di sana aku melihat orang-orang tengah melaksanakan shalat dan jatuhlah air mataku. Aku terisak. 

Aku sangat tertarik dengan masjid. Setiap hari aku ke sana. Imam masjid dan istrinya sering memberikanku buku-buku dan rekaman pengajian atau murotal. Mereka selalu memberi jawaban dengan sangat baik atas pertanyaan-pertanyaanku . 

Setiap pertayaan yang aku ajukan kepada imam masjid dan saat berada di paltalk dijawab dengan gamblang, jelas, dan mendalam. Hingga tak ada yang bisa aku lakukan kecuali menerimanya. 

Suatu petang ketika aku mengikuti sebuah kajian di paltalk, pembicara yang memberikan ceramah tiba-tiba menanyaiku apakah aku masih memiliki pertanyaan. Aku katakan padanya tidak. Apakah jawabannya memuaskan. Aku katakan ya sangat memuaskan. 

Kemudian dia berkata,”Lalu apa yang menghalangi Anda untuk masuk Islam?”

Aku tak bisa menjawabnya.

Keesokannya aku pergi ke masjid untuk melihat orang-orang mengerjakan shalat subuh. Kemudian aku bertemu dengan imam masjid. Ia juga menanyaiku dengan pertanyaan yang sama. Dan lagi-lagi aku tidak bisa menjawab. 

Lalu aku pulang dan menemui pasienku. Aku menyuapinya makan. Aku menatap matanya lekat-lekat. Saat itulah aku sadar, pasienku itu hadir dalam hidupku untuk sebuah alasan dan satu-satunya yang mencegahku masuk Islam adalah karena ketakutanku. Bukan ketakukan dengan sesuatu yang buruk, tapi sebaliknya ketakutan untuk menerima sesuatu yang baik. Dan aku selalu berpikir bahwa aku tidak pantas masuk Islam. 

Sore itu pun akhirnya aku datang lagi ke masjid untuk menemui imam masjid. Aku katakatan padanya bahwa aku siap mengikrarkan syahadatain: lā ilāha illà al-Lāh, Muhammadun rasūlu Al-Lāh. Tak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Imam masjid menuntunku membaca kalimat syahadatain dan memberikan wejangan kepadaku tentang apa-apa yang harus dilakukan berikutnya. 

Tak ada kata yang pas untuk menggambarkan perasaanku saat itu. 

Seolah seseorang baru saja membangunkanku dari tidur panjang dan kemudian aku bisa melihat segalanya lebih jelas. 

Perasaanku dipenuhi kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan. 

Orang pertama yang aku beri tahu bukan saudaraku melainkan pasienku. Aku menemuinya dan sebelum aku membuka suara ia telah terisak dan tersenyum kepadaku. Aku sesenggukan di hadapannya. Aku merasa berhutang banyak padanya. 

Kemudian aku masuk ke paltalk dan mengikrarkan syahadatain. Mereka banyak membantuku. Meskipun aku tidak pernah bertemu langsung dengan mereka, aku merasa mereka lebih dekat ketimbang saudaraku. 

Akhirnya aku menghubungi saudaraku dan mengatakan bahwa aku telah berislam. Meski ia tak bahagia mendengar itu tapi ia sangat mendukung keputusanku. 

Setelah minggu pertama aku menjadi muslimah, pasienku itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Ia meninggal dengan tenang. Aku satu-satunya orang yang bersamanya. Ia seperti ayahku yang tak pernah ada dalam hidupku dan ia adalah jalanku untuk masuk Islam. 

Setelah hari pertamaku masuk Islam hingga kini, aku selalu mendoakannya.

Aku mencintainya karena Allah. 

Islam adalah agama yang terbuka, oleh karena itu siapa saja yang ingin memasukinya... Sesungguhnya Allah Maha Penyayang lagi Maha Bijaksana. 

Catatan: saudari kita Cassie ini telah meninggal dunia di Bulan Oktober 2010 yang lalu, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, setelah ia memberi dakwah kepada saudara laki-lakinya yang juga akhirnya masuk Islam, Alhamdulillah.     

www.muslimlinkpaper.com

    

Tuesday, 16 June 2015

, , , , ,

Kisah Mualaf Yahudi: Alhamdulillah Aku Terlahir Kembali


Dari Syalom ke Salam

Sharon

Kami bertemu dan akhirnya menikah ketika kami sama-sama bekerja sebagai konselor narkoba di sebuah pusat rehabilitasi. Kami sangat berbeda karena kami memang berasal dari latar kehidupan berbeda. Suami saya seorang kulit hitam, sementara saya kulit putih. Suami saya seorang muslim, sementara saya seorang yahudi. 

Meski ia tidak meminta saya masuk Islam sebelum menikah, namun ia selalu memberikan dakwah tak langsung kepada saya. Suami saya memiliki ruangan perpustakaan yang berisikan buku-buku tentang Islam, karena saya seorang kutu buku, makanya saya banyak membaca buku-bukunya. Saya juga mengamati kesantunannya dalam bertindak, shalat lima waktu yang ia kerjakan, pergi shalat jumat ke masjid, dan puasa di bulan Ramadhan. Karena itu secara alami saya mulai tertarik dengan Islam.  

Suatu ketika, saya dan suami pergi ke masjid untuk mengikuti pengajian. Itulah kali pertama suami mengajak saya ke masjid sejak setahun kami menikah. Saat kami tiba di masjid, suami saya menunjuk pintu masuk masjid untuk wanita-di lantai bawah tanah. Kami setuju akan bertemu lagi di parkiran setelah pengajian selesai. 

“Baik, saya bisa melakukan ini,” saya berkata dalam hati. Saya masuk ke jalan masuk itu yang sedikit gelap dan lembab, menuruni tangga ke bawah. 

Saya termasuk tipe orang yang tidak terlalu sulit beradaptasi dengan orang banyak. Saya sudah terbiasa berada di sebuah pertemuan dengan berbagai orang yang berlatar berbeda. Karena itu saya tidak canggung lagi dalam situasi semacam ini. 

Suami saya telah meminta saya untuk mengenakan pakaian yang patut dalam acara ini. Saya mengenakan pakaian lengan panjang. Saya yakin, para wanita di sana akan menerima penampilan saya. 

Saya belum pernah melihat begitu banyak muslimah berkumpul dalam satu tempat seperti yang saya saksikan saat itu. Sebagian besar dari mereka mengenakan hijab biasa. Saat itu ada dua wanita muslimah mengenakan pakaian tertutup rapat mulai dari kepala hingga kaki, hanya menyisakan kedua matanya. Mereka terus mengamati saya. Beberapa muslimah yang duduk bersamanya mengenakan hijab yang agak lebar. 

Satu dari mereka berdiri dan berjalan mendekati saya. Ia mengenalkan dirinya, bernama Basimah. Ia tampak bersahaja.   
  “Hai,” saya menyapanya. 
  “Nama saya Sharon. Saya ke sini untuk menghadiri pengajian,” lanjut saya. 
  “Ada orang lain yang menemani anda?” ia bertanya.
  “Suami saya, ada di atas,” jawab saya. 
  “Oh! Suami anda muslim?” ia bertanya dengan sedikit keheranan.
  “Ya,” jawab saya.
  “Alhamdulillah,” ia berucap.
  “Duduklah bersama kami,” ia mengajak saya duduk bersama dengan kawan-kawannya yang lain.

Ia mempersilakan saya duduk di samping tiga muslimah lain yang telah duduk. Mereka semua adalah wanita paling menyenangkan yang pernah saya temui. Mereka semua memperkenalkan diri mereka masing-masing, saya lupa nama mereka. Basimah kemudian berdiri kembali dan menyambut kedatangan muslimah yang lain. 

  “Dari mana asal anda?” salah seorang muslimah menanyai saya. 
   Saya katakan padanya bahwa saya berasal dari Amerika, lahir di New York. 
  “Apakah anda berniat menjadi muslim?” muslimah lain tiba-tiba bertanya dengan ekspresi wajah sumringah. 
  “Tidak, saya seorang yahudi,” jawab saya. 
  “Apakah anak anda muslim?” muslimah lain bertanya. 
  “Tidak, saya belum punya anak,” jawab saya. 

Ketika pengajian itu dimulai, para muslimah langsung berkumpul di ruang masjid dan duduk di karpet mewah. Namun setelah lima menit berjalan, para muslimah mulai ngobrol sendiri hingga suaranya menandingi suara penceramah yang terdengar melalui speaker. (Ini catatan untuk para muslimah).

Setelah pengajian selesai, beberapa muslimah pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Basimah meminta saya untuk tetap duduk tenang hingga makanan siap dihidangkan. 

  “Biar saya membantu anda?” tawar saya. 
  “Oh tidak perlu repot-repot, anda tamu kami. Beberapa wanita Amerikan juga datang ke sini. Akan saya kenalkan kepada anda nanti,” jawab Basimah. 

Basimah memanggil seorang wanita yang duduk di sudut masjid. Wanita itu pun datang kepada kami, kemudian Basimah dan wanita itu pun bertegur sapa dengan salam. Lalu keduanya menoleh kepada saya. 

  “Ini Sharon. Dia seorang yahudi. Bisakah kamu menemaninya hingga tiba waktu makan?” pinta Basimah kepada wanita itu. 
   ***
Sebelum saya keluar dan menemui suami, Basimah memberi saya nomor telepon dan meminta saya menelponnya. Ia juga merencanakan untuk berkunjung ke rumah saya. Dan benar saya menelponya. Hingga kami berkawan akrab. Ia mengatakan segalanya tentang Islam kepada saya. 

Ia tahu saya tertarik dengan Islam dan bisa merasakan bahwa hati saya tengah mencari dan menginginkan kedamaian spiritual. Suatu petang ketika saya dan suami mengunjungi rumahnya, ia menawari saya untuk masuk Islam. Ia mengatakan bahwa seluruh dosa saya akan terhapuskan jika saya masuk Islam. Pernyataan itulah yang menjadi titik perubahan bagi saya.

Dia mengatakan bahwa saya akan terlahir kembali, seperti bayi yang baru dilahirkan tanpa dosa dan diberi kesempatan baru. Perasaan saya sangat terenyuh dan akhirnya saya menangis. Saya ingin mendapat kesempatan baru untuk mendekatkan diri kepada Allah. Saya selalu mencinta Tuhan, namun saya tersesat selama ini. Kemudian akhirnya kami meminta suami Basimah untuk menuntun saya membaca kalimat syahadatain.

Ketika saya katakan hal ini kepada suami, ia sangat kaget dan terlihat bahagia sekali. Awalnya ia menanyakan apakah saya benar-benar yakin dengan pilihan saya ini. Saya katakan padanya bahwa saya sangat yakin. Ia tampak tidak percaya.

Tak ada konflik batin saat itu, tak ada ketakutan dan keraguan. Setelah saya mengikrarkan syahadatain, suami Basimah berkata,”Mabruk (selamat), anda muslim sekarang.”

Sebelum kami pulang, Basimah memberi saya sebuah buletin tentang kesucian diri setiap wanita muslimah. Ia juga memberi saya sajadah, mukena, dan hijab. Saya kenakan hijab sejak hari itu, alhamdulillah. Saya tak pernah menanggalkannya bahkan ketika peristiwa 11 september terjadi. Ketika kami sampai rumah, suami memberi saya hadiah Al-Qur’an dan ringkasan Shahih Bukhari.  

Setelah saya masuk Islam, ayah saya mencela saya habis-habisan. Ia sangat marah kepada saya karena telah menikah dengan lelaki muslim dan beliau tak mau menganggap suami saya sebagai menantunya. 

  “Tapi Sharon, muslim itu membenci kita!” kata ayah sambil terisak. 

Seluruh usaha saya untuk menerangkan perbedaan antara Islam dan gerakan politik dalam masalah Palestina dan Israel tak berhasil. 

Tak apa bagi saya, karena beliau sendiri adalah anggota keluarga pertama yang menikah dengan wanita selain yahudi. Ibu saya dulu seorang Katolik. Yang membuat ayah saya semakin terluka adalah suami saya juga seorang Afrika Amerika. 

Ayah meninggal di bulan Agustus 2001, satu bulan sebelum peristiwa 11 September terjadi. Ibu meminta semua orang untuk tak mengabari saya soal kematian ayah hingga setelah penguburan beliau. Apakah mereka takut saya muncul dengan pakaian islami di Sinagog dengan ditemani lelaki berkulit hitam? Dalam Islam kita diajari bahwa agama Islam ini diperuntukan bagi semua manusia dan untuk setiap zaman. 

Tak ada masalah jika seorang muslim itu berkebangsaan Mesir, Pakistan, Amerika, Saudi, Indonesia, atau Palestina. Tak masalah pula jika seorang muslim itu berkulit putih, hitam, merah, atau kuning. Tak masalah jika seorang muslim itu berbahasa Arab, Inggris, Spanyol, atau Urdu. Perbedaan budaya kita tak perlu menjadi pemecah belah umat. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat:13)

Semoga kisah ini bermafaat bagi kita semua.


, , ,

Akhirnya Kutemukan Tuhan



Ioni Sullivan

Saya menikah dengan lelaki muslim dan kini telah dikaruniai dua anak. Kami tinggal di Lewes, yang mana mungkin saya satu-satunya wanita berhijab di daerah ini. 

Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga kelas menengah yang menganut ateis. Ayah saya seorang profesor sementara ibu seorang guru. Setelah saya menyelesaikan gelar MPhil di Cambridge di tahun 2000, saya bekerja di beberapa negara: Mesir, Jordan, Palestina, dan Israel. Saat itu saya memiliki stereotip buruk tentang Islam, tapi berangsur-angsur terkesan dengan keteguhan para pemeluk Islam yang terpancar dari iman mereka. Kehidupan mereka tampak payah, namun setiap muslim yang saya jumpai terlihat aura dari dalam diri mereka ketenangan dan keteguhan, sangat kontras dengan gaya hidup yang dulu saya jalani. 

Di tahun 2000, saya jatuh hati dengan seorang pria muslim berkebangsaan Yordania dan akhirnya saya menikah dengannya. Ia bukan tipe muslim taat. Awalnya kami hidup dengan gaya hidup ala barat: pergi ke bar, klub malam dan semisalnya. Namun pada masa itu pula saya mulai kursus bahasa Arab dan mencoba membaca Al-Qur’an terjemahan Inggris. Setelah saya membaca Al-Qur’an saya menemukan bukti nyata bahwa Tuhan itu ada, yaitu adanya alam semesta ini dengan keindahan tanpa batas dan keteraturan alam semesta ini. Bukan dari seseorang yang meminta saya meyakini bahwa Tuhan itu berjalan di bumi dalam wujud manusia. Saya tak butuh pendeta yang akan memberkati saya atau tempat sakral untuk beribadah. 

Setelah itu saya mulai mencari ajaran-ajaran ibadah yang lain yang selama ini saya ingkari. Saya temukan puasa, zakat wajib, menjaga kesucian diri, dan sebagainya. Saya berhenti melihat semua ritual ibadah itu sebagai PENGEKANG KEBEBASAN PRIBADI, dan mulai menyadari bahwa ibadah-ibadah itu sebagai PENGONTROL DIRI.

Dalam hati, saya mulai menyatakan diri sebagai muslim. Namun saya merasa tak perlu mengatakannya kepada semua orang. Saya masih mencoba menghindari konflik dengan keluarga dan kawan-kawan. Pada akhirnya hijablah yang membuat saya terkesan “keluar” dari lingkungan sosial saya sendiri. Tapi saya merasa tak jujur pada diri sendiri bila tak mengenakan hijab. Karena saya mengenakan hijab ada beberapa gesekan hubungan antara saya dengan beberapa kenalan, bahkan ada hal-hal yang menurut saya seperti lelucon: orang-orang terus-menerus menanyai saya dengan nada memaksa apakah saya memiliki penyakit kangker.  

Sunday, 31 May 2015

, , , , ,

Saya Mencintai Keluarga, Tapi Saya Lebih Mencintai Islam

Saya Mencintai Keluarga, Tapi Saya Lebih Mencintai Islam

Nama saya Ismail. Saya berdarah campuran Rumania dan Hungaria. Saat ini saya tinggal di California. Saya masuk Islam sekitar 5 tahun yang lalu di usia 17 tahun. 

Semuanya dimulai ketika saya bermain basket. Ketika saya bertemu seseorang yang hingga sekarang masih akrab dengan saya. Ia mendakwahi saya. Dan kami berdebat soal agama selama empat tahun. Saya seorang Kristen dan ia seorang muslim. Ia sering memberi saya pertanyaan yang tak bisa saya jawab, hingga pertanyaan-pertanyaan itu memunculkan keraguan dalam hati saya tentang ajaran Kristen.

Sejak saya bertemu dengannya, saya semakin menghargai Islam. Dan saya sangat kagum melihat muslim berhenti bermain basket sejenak untuk melaksanakan shalat. Hal itulah yang membuat saya akhirnya berdoa,”Ya Tuhan, jika Kristen adalah agama yang benar, kumpulkanlah aku dengan kawan-kawan yang beragama Kristen. Tapi jika Islam adalah agama yang benar, maka masukkanlah aku ke dalam Islam.” Sekitar seminggu setelah itu, akhirnya saya mengikrarkan syahadatain di lapangan basket. Alhamdulillah itulah keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. 

Setelah masuk Islam, saya sembunyikan Islam dari keluarga. Keluarga saya datang ke Amerika sejak tahun 1989 dari Rumania. Saat itu Rumania adalah negara komunis. Keluarga saya beragama Kristen dan kebanyakan mereka adalah Kristen taat. Mereka disiksa dan banyak mengalami masa-masa sulit dalam menjalakan ajaran agama. Karena itu mereka berkepribadian keras. Saya tahu jika saya katakan bahwa saya telah berislam, mereka akan menentang saya habis-habisan. Karena itu saya merahasiakannya selama beberapa bulan dan ada beberapa peristiwa yang membuat mereka hampir mengetahui rahasia ini. 

Awalnya saya tidak lagi memakan daging babi, yang mana sekitar 80 % makanan masyarakat Rumania dibuat dari daging babi. Ketika ibu saya menanyai saya perihal itu, saya tunjukkan ayat di Injil bahwa ada larangan memakan daging babi, beliau menunjukkan persetujuannya dan menyuruh saya untuk melanjutkan penjelasan. Saya juga menanyakan kepada beliau apakah boleh beribadah dengan bersujud, beliau mengatakan bahwa itu diperbolehkan karena beliau pernah melihat kakek juga bersujud ketika beribadah. 

Pada mulanya, saya melakukan shalat lima waktu secara penuh meski dengan perasaan was-was jika terlihat. Saya shalat Isya’ malam hari ketika orang-orang terlelap tidur, sehingga mereka tidak akan melihat saya. Saya sembunyikan itu hingga saya merasa cukup kuat untuk menghadapi apa yang bakal terjadi jika mereka tahu rahasia saya. Suatu hari, saya berdebat dengan sepupu di Facebook untuk membela Islam. Setelah berdebat selama beberapa jam, akhirnya sepupu saya itu memberikan pertanyaan sindiran kepada saya,”Kamu muslim ya?” Saat itu saya merasa tidak bisa berbohong lagi. Ada keyakinan yang kuat bahwa Allah akan menolong saya. Karena itu saya katakan sejujurnya padanya. Setelah itu keluarga saya akhirnya tahu bahwa saya telah berislam. Awalnya mereka tidak mau mempercayai itu. 

Sebelum berislam, saya selalu diistimewakan sebagai anggota keluarga. Setelah berislam, saya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang paling dibenci. Nenek saya tak mau lagi menganggap saya sebagai cucunya lagi. Sepupu-sepupu saya menyebut saya sebagai penyembah setan. Bibi dan paman saya memberikan saya ratusan halaman penelitian mereka soal Islam dan selama berjam-jam berdebat dengan saya mencoba mengubah pemikiran saya.

Mereka terus-menerus mengatakan hal-hal berbau kebencian kepada Islam dan Nabi Muhammad ﷺ yang membuat saya selama beberapa malam tidak dapat tidur karena terus-menerus menangis. Sebelum berislam, keluarga adalah segalanya bagi saya. Saya mengorbankan apapun untuk keluarga, karena itu ketika mereka akhirnya mengatakan hal-hal buruk tentang saya, saya sangat terluka dan sedih. Namun saya tahu alasan mengapa mereka melakukan ini pada saya. Mereka sangat menyayangi saya. Mereka menginginkan yang terbaik bagi saya. Saya juga bisa bayangkan betapa hancurnya jika anak kandung saya berganti agama. Peristiwa itu pasti sangat sulit diterima, sebab itu saya tidak menyalahkan mereka. Itu adalah ujian dari Allah untuk saya. 

Setelah itu, ibu mengekang saya. Saya tidak lagi diizinkan keluar bersama kawan-kawan muslim. Saya hanya diperbolehkan di rumah dan ke lapangan basket. Selama saya mendapat penjagaan ketat itu, saya hanya bisa melaksanakan shalat pukul 2 dini hari. Keadaan itu terjadi selama beberapa minggu. Sementara mereka masih terus mengajak saya pergi ke gereja. Ibu terlihat semakin murka setelah melihat saya tak juga berubah. Sementara saya semakin kuat memegang agama ini. Karena itu, suatu malam, beliau berkata kepada saya,”Tinggalkan Islam dan tinggallah di sini atau tinggalkan tempat ini dan lakukan apapun yang kau inginkan. Keputusan ada di tanganmu, tapi kau tak bisa terus tinggal di sini semnetara kau masih muslim.” Saya katakan pada beliau,”Baiklah Ibu. Ibu telah membuat keputusan yang akan saya ambil semakin mudah, saya tidak akan meninggalkan Islam.” Demikianlah akhirnya saya meninggalkan rumah. 

Ketikan saya meninggalkan rumah, sebuah keluarga Somalia mengajak saya untuk tinggal di rumah mereka. Semoga Allah memberkahi mereka. Saya masih merasa berhutang banyak kepada mereka, karena mereka selalu membantu saya dalam setiap kesulitan yang saya alami, hingga saya benar-benar menganggap mereka sebagai keluarga saya. Setiap malam Ibu selalu menelpon dan mengatakan kerinduannya kepada saya juga meminta saya untuk kembali ke rumah. Namun saya selalu mengatakan kepada beliau bahwa saya tidak akan meninggalkan agama yang indah ini. Ibu selalu mengatakan bahwa beliau dipaksa anggota keluarga yang lain untuk mengusir saya, jika saya tidak meninggalkan Islam. Dalam hati kecil beliau, sebenarnya beliau tidak ingin melakukan ini kepada saya. Sepanjang hidup beliau, beliau hanya tinggal bersama kami, anak-anaknya. Kami adalah prioritas utama bagi beliau. Beliau melakoni dua hingga tiga pekerjaan perhari untuk menghidupi kami. Ayah sama sekali tak berjuang untuk kehidupan kami, karena mereka telah bercerai ketika saya masih berumur tiga tahun. 

Berkali-kali Ibu meminta saya untuk kembali ke rumah. Tetapi saya tetap mengatakan bahwa saya tidak akan meninggalkan Islam. Hingga beliau membuat perjanjian bahwa jika saya pulang ke rumah, saya akan pergi (tidak harus) bersama mereka ke gereja setiap minggu, saya tidak diizinkan shalat di dalam rumah, dan sebagai gantinya saya boleh tinggal lagi di rumah, beliau akan memasakkan makanan halal untuk saya. Dan saya menyetujui itu. Ada kejadian lucu setelah beberapa kali saya shalat di luar rumah. Suatu ketika, ketika saya tengah berada di rakaat keempat shalat Isya’ tiba-tiba alat pemadam kebakaran otomatis menyemprotkan air ke muka saya. Lain waktu ketika saya shalat Subuh, seorang tetangga sebelah melihat saya dalam keadaan sujud dan mengira saya tengah semaput, sehingga ia bergegas memanggil ambulans. Alhamdulillah saya selesai shalat sebelum ia menelpon ambulans dan saya langsung mengatakan kepadanya bahwa saya tengah melakukan ibadah.   

Alhamdulillah setelah saya kembali ke rumah, situasi berangsur-angsur membaik. Dulu saya tidak diizinkan memiliki sajadah, sekarang saya memiliki almari yang penuh dengan pakaian islami dan rak buku dengan berbagai buku Islam. Pada akhirnya saya sangat mencintai Ibu dan Islam mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi anak yang berbakti kepada beliau sekaligus menjadi saudara yang baik bagi kakak dan adik saya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, agar mereka juga dapat merasakan kedamainan dan ketenangan hidup ketika berada dalam rengkuhan agama yang indah ini.



Thursday, 14 May 2015

, , , , , ,

Demi Allah, Saya Masuk Islam


Assalamualaikum. Nama saya Anne, umur 24 tahun. Saya masuk Islam di akhir bulan Maret 2015 lalu.

Saya tumbuh besar dalam pengasuhan keluarga Kristen Katolik di Inggris. Saya dan saudara laki-laki saya tumbuh dalam pengasuhan ibu yang berasal dari keluarga Katolik dan bahkan kakek saya seorang Katolik taat.

Saya sekolah di sekolah Katolik. Pendidikan dan keyakinan agama banyak saya dapat dari sana. Namun sejak kecil, saya sudah mulai mempertanyakan ajaran-ajaran yang saya dapatkan dari sana yang membuat saya mengingkari namun di saat yang bersamaan saya juga merasa bersalah. Hingga di tahun kedua, (usia saya baru 6 tahun) kami, murid-murid di sana, melakukan persiapan untuk Ritual Komuni Suci -skramen kedua dari tiga sakramen untuk pengukuhan diri sebagai Katolik (Babtis, Komuni, dan Konfirmasi). Setelah menjalani Ritual Komuni pertama, seorang Katolik boleh mengikuti kegiatan semacam pesta di Gereja: makan roti dan minum anggur yang oleh pedeta Katolik dikatakan sebagai jelmaan tubuh dan darah Yesus Kristus. Untuk persiapan menghadapi Ritual Komuni, saya diharuskan mengkuti ceramah-ceramah di kelas tentang Yesus, Injil, Gereja, dan jalan hidup umat Katolik. Selain itu juga, untuk pertama kalinya saya harus mengikuti Ritual Konfesi. 

Kami semua mengantri di luar Gereja saat itu, satu per satu dipanggil untuk berbicara empat mata dengan pendeta mengenai dosa yang telah kami perbuat. Hingga giliran saya tiba. Saat itu, saya berjalan menuju Altar, lalu duduk di hadapan pendeta. Saya merasa tak yakin dengan apa yang akan saya katakan. Beberapa saat saya mendengar ia berbicara tentang pengampunan. Kemudian menanyai saya tentang dosa-dosa yang telah saya perbuat. Saat itu saya sangat malu dan bingung. Saya katakan padanya bahwa saya telah berkelahi dengan saudara laki-laki saya, namun sudah baikan lagi. Apakah saya orang jahat? Apakah saya telah berbuat dosa? Bahkan saya tak tahu dosa itu apa. Apakah saya berbohong kepada pendeta jika saya katakan bahwa saya belum pernah melakukan dosa? Si pendeta terus menanyai saya, berusaha menggali lebih banyak tentang dosa-dosa yang telah saya lakukan. Ia berusaha membuktikan bahwa saya adalah pedosa. Hingga saya keluar dengan perasaan tak terima atas kejadian itu.

Masa kanak-kanak saya dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan. Mengapa harus ada pajangan gambar orang-orang alim? Mengapa harus ada patung Maryam? Bagaimana bisa kita tahu wajah Yesus? Apakah roti itu benar-benar jelmaan tubuh Yesus? Apa saya benar-benar terlahir dengan dosa? Apa itu Roh Suci? Dan apa itu Trinitas? Apakah itu semacam zat gas? Mengapa semuanya harus emas? Mengapa pemeluk Katolik tidak boleh bercerai? Saya merasa sangat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan itu hingga mencapai remaja. Setelah itu saya memutuskan untuk meninggalkan agama. Sementara teman-teman saya di sekolah telah mendapatkan Pengukuhan sebagai Katolik di Gereja, saya menolak. Saya tak bisa berbohong kepada Tuhan dengan apa yang sebenarnya saya yakini.

Karena itu, saya tinggalkan agama secara total. Saya berpikir, jika agama begitu membingungkan seperti ini, saya tak mau memiliki agama. Namun hati kecil saya tak pernah mengatakan kalau Tuhan tidak ada, sehingga saya menjadi agnostik.

Saat remaja, orang tua saya bercerai setelah bertahun-tahun ibu mendapat perlakuan kasar dari ayah. Saya juga memiliki masalah dengan cara beradaptasi di sekolah karena ayah juga mengajar di sana. Saya sangat berbeda dari anak-anak lain dan terlihat sangat tak bahagia, karena itu saya jadi bahan olok-olok di sekolah. Ibu juga mengalami masa-masa sulit saat itu, sehingga tak bisa secara maksimal mencurahkan rasa kasih sayangnya kepada kami sebagaimana ketika kami masih kecil. Makan malam bersama hanya menjadi khayalan belaka. Beberapa hari hanya makan roti bakar dan sereal adalah hal biasa. Keluarga saya hancur berantakan, ayah tak mau lagi mengenal saya. Karena malu, saya tak pernah bercerita kepada teman-teman di sekolah tentang masalah itu. Saya berlari ke internet untuk mengungkapkan rasa sakit yang saya alami dan untuk menciptakan sosok Anne yang sama sekali berbeda dari yang dikenal di sekolah.

Kala itu akhirnya saya menemukan Islam dari seorang kawan yang saya kenal di internet. Sebut saja namanya Y. Kami sering berbincang soal agama, namun karena privasinya yang tinggi, kami tak banyak berbicara tentang Islam. Hingga waktu berlalu, akhirnya saya memiliki hubungan asmara dengan Y di usia 23 tahun. Terkadang kami berbincang soal Islam, hingga saya merasa ingin beriman lagi. Tak ada Trinitas, tak ada Pendeta, tak ada Konfesi, dan kisah Yesus yang lebih dapat diterima hati dan akal pikiran. Saya merasa seseorang telah menghidupkan lagi cahaya setelah bertahun-tahun redup. Seolah saya merasa, akhirnya ada begitu banyak orang di dunia ini yang setuju dengan pemikiran saya selama ini yang sebelumnya tak saya ketahui apakah orang-orang itu benar-benar ada. Karena bertahun-tahun saya merasa jadi orang yang paling mengerikan di dunia karena memiliki pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Namun saat itu saya tak lekas masuk Islam. Hubungan saya dengan Y diwarnai ketegangan. Kadang-kadang ketika ia berbicara tentang Islam, ia seperti menutup-nutupi atau terkesan rendah diri. Sikapnya keterlaluan pada saya. Ia sering menghina dan begitu mudah menghakimi. Karena itu saya tak masuk Islam hingga ia meninggalkan saya.

Malam itu saya bermimpi. Saya berada di sebuah jembatan di atas kali. Saya ingin menyebrangi jembatan itu, karena saya merasa ada bahaya di belakang. Seorang wanita berawajah bengis, yang terlihat seperti ibu saya, ingin menangkap saya. Di samping saya ada perempuan kecil berambut pirang, yang terlihat seperti wajah saya ketika kecil, ia meminta bareng menyebrang dengan saya. Saya katakan padanya bahwa lebih aman ia tetap di situ. Kemudian saya menuju ke tepian sungai. Setelah itu saya mulai menenggelamkan diri. Air kali itu berwarna hitam pekat dengan digenangi banyak potongan tubuh manusia, kuku jari, dan rambut. “Saya tenggelam!” Hingga terus tenggelam. Sekejap kemudian saya sudah berada di tepian sungai lagi. Saya mencoba naik dan ketika akan melompat melalui pagar pembatas sungai, sebuah wajah tiba-tiba muncul di hadapan saya. Wajah itu milik lelaki yang sangat tampan hingga membuat saya bertanya apakah ia suami saya. Pipinya terlihat sangat jelas. Warna kulitnya coklat pirang keemasan. Matanya berkilauan. Ada cahaya berkilauan di sekitar wajahnya. Rambutnya seolah tertaik ke atas. Dan ia memiliki jenggot.

Ketika saya menanyainya ia hanya menunduk dan mengacuhkan saya. Ia berbicara terus-menerus dengan bahasa yang saya tak mengerti. Saya terus menanyai hingga ia menunjukkan sesuatu. Sebuah mutiara dengan lima garis horisontal dan lima ukiran tangan mungil di setiap akhir garis. Tentu saja saya tak paham sama sekali sehingga saya mengatakan padanya bahwa saya tak paham apa maksudnya. Setelah berulang kali menanya, ia akhirnya jadi tak sabar. Suaranya meninggi dan ia menatap mata saya kemudian mengatakan, ‘Waktu!’ Sontak saya kaget dan bangun. 

Saat itu kira-kira pukul 4.30 malam. Saya tahu mimpi ini penting dan sepertinya ada hubungannya dengan Tuhan atau Islam. Saya mencari kata kunci itu di internet dengan Smartphone saya: Islam, tangan, lima, mutiara. Dan saya temukan beberapa jawaban. Saya duduk terpekur di kegelapan, merenungi lima rukun Islam, tangan Fatimah dan merasa hening. Lampu Smartphone mati. Saya masih duduk dan berpikir ketika tiba-tiba ada secercah cahaya yang berkedap-kedip di sudut kamar saya. Kemudian saya hidupkan kembali Smartphone dan menyorotkan cahaya Smartphone ke sudut cahaya itu berada. Tak ada apa-apa. Belum ada orang bangun saat itu. Cahaya Smartphone saya mati lagi. Kemudian cahaya aneh itu kembali muncul.  

Keesokannya setelah saya bangun, saya ceritakan mimpi itu kepada ibu dan juga saya katakan padanya saya akan membaca Al-Qur’an. Saya coba menghubungi Y lagi untuk menanyakan takwil mimpi saya. Karena ia satu-satunya muslim yang saya kenal. Ia tak bisa menakwilkan mimpi itu dan mengatakan pada saya untuk menyembunyikan mimpi itu. Kami berhenti bicara setelah itu dan saya mulai membaca.

Saya pindah ke lain kota di mana di sana banyak muslimah yang membantu saya menemukan Islam. Mereka juga membantu saya menakwil mimpi. Meski takwil mereka belum membuat saya puas. Seorang muslimah mengatakan pada saya bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam memberikan mutiara hikmah kepada saya berupa: perhatikan lima hal sebelum lima hal terjadi; masa mudamu sebelum masa tua, masa sehatmu sebelum masa sakit, masa kayamu sebelum masa miskin, masa luangmu sebelum masa sibuk, dan hidupmu sebelum matimu. Dan saat itu saya berpikir selama ini saya memang yang terus menerus menyia-nyiakan waktu dengan meratapi hancurnya hubungan saya dengan Y dan terus-menerus angkuh untuk mengakui kebenaran Islam. 

Muslimah yang lain mengatakan kepada saya tentang Surah Al-Asr yang mana salah seorang member Hadith Of The Day memberi rekomendasi kepada saya untuk melihat video kajian tafsir Surah Al-Asr yang disampaikan oleh Ustad Nouman Ali Khan. Dari video itu saya menangkap pernyataan bahwa manusia benar-benar tenggelam dalam kesesatan dan tentunya tak memiliki cukup waktu ketika tenggelam. Kita semua tengelam dalam kesesatan lantaran kita menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah. Salah satu hal yang mengagumkan dari surat ini adalah karena ia berhubungan dengam mimpi saya.

Karena itu, hanya masalah waktu hingga akhirnya saya mengikrarkan syahadatain, melalui bantuan teman-teman muslimah.

Terima kasih karena telah membaca kisah saya. Saya berharap kisah ini akan menjadi inspirasi buat semua orang yang tengah merasakan momen-momen pahit agar jangan sampai kehilangan keimanan kepada Allah. Hidup adalah perjalanan yang berliku, kita tak pernah tahu pasti jalan mana yang akan kita tempuh selanjutnya.

Anne

  

Friday, 13 March 2015

, , ,

Nama-nama Bulan Hijriah dan Penjelasannya


Sebagai salah satu usaha kita untuk menerapkan ajaran Islam ke dalam kehidupan kita, sudah sewajarnya kita mengenal nama-nama bulan dalam tahun Islam, Tahun Hijriah, hingga kemudian kita bisa membiasakan diri dengan bulan-bulan Islam. Karena itu mari simak penjelasan berikut.

Muharam: dinamai muharam karena masyarakat Arab dahulu dilarang berperang dalam bulan itu.

Safar: dinamai safar karena masyarkat Arab dahulu biasa meninggalkan rumah mereka di bulan ini untuk berperang. Dikatakan juga hal ini karena di bulan ini masyarakat Arab meninggalkan rumah untuk menghindari kekeringan di musim panas.

Rabi’ al-awal: dinamai Rabi’ al-awal karena bertepatan dengan musim semi.

Rabi’ al-akhar: dinamai Rabi’ al-akhar karena bertepatan dengan musim dingin.

Jumada al-‘Ula: dinamai Jumada al-‘Ula karena air mulai membeku di musim dingin dan hal itu bertepatan dengan waktu Jumada al-‘Ula.

Jumada al-‘Ukhra: dinamai Jumada al-‘Ukhra karena bertepatan dengan musim dingin. 

Rajab: berasal dari kata bahasa Arab rajaba yang bermakna mensucikan sesuatu. Masyarakat Arab dahulu mensucikan bulan Rajab dengan berhenti berperang.

Sya’ban: berasal dari kata bahasa Arab tasy’aba yang bermakna berjalan ke arah yang berbeda. Dikatakan bahwa nama Sya’ban diambil karena masyarakat Arab dahulu biasa berjalan ke arah yang berbeda untuk berperang melawan musuh. 

Ramadhan: berasal dari kata bahawa Arab Ar-ramda yang mengacu pada makna ‘sangat panas’. Momen ramadhan identik dengan cuac panas ekstrim yang berasal dari Peninsula. 

Syawal: berasal dari kata bahasa Arab tasyawala yang bermakna kekurangan susu unta. 

Dhu al-qo’dah: dinamai Dhu al-qo’dah karena masyarakat Arab dulu menolak berperang dengan musuh karena mereka menyebut bulan ini adalah bulan suci. 

Dhu’l-Hijjah: dinamai Dhu’l-Hijjah karena masyarakat Arab biasa melaksanakan haji di bulan ini. 

Semoga kita bisa lebih mengenal dan menggunakan bulan-bulan Hijriah!

muslimvillage.com

Thursday, 12 March 2015

, , , ,

Abdurrahman, Mualaf yang Meninggal dalam Keadaan Sujud


Ini merupakan kisah menakjubkan dari seseorang yang baru-baru ini masuk Islam, Abdurrahman رحمه الله yang tidak pernah bersujud kepada Allah selama 49 tahun hingga kemudian menemukan cahaya Islam melalui seorang muslimah di Maldives. (ia menolak disebutkan nama aslinya setelah berislam)

Kisah ini ditulis oleh muslimah yang memberikan dakwah kepada beliau رحمه الله dan sebagaimana yang diceritakan oleh beliau sendiri sebelum meninggal. 

Abdurrahman adalah kawan karib saudara laki-laki saya. Ia berasal dari Kristen Katolik. Orang tuanya berlatar agama Katolik Roma. Ia anak sulung. Ayah dan kakeknya adalah pendeta Kristen yang sangat taat kepada agamanya. Namun Abdurrahman selalu berpikir kritis. Ia selalu bertanya,”Mengapa Tuhan mengirim seorang anak untuk menyelamatkan umat manusia? Bagaimana mungkin Tuhan memiliki nafsu seperti manusia sehingga melahirkan seorang anak? Mengapa Tuhan menciptakan seorang anak melalui mahkluk hidup (melahirkan)? Mengapa Dia tidak menciptakan seorang anak seperti Dia menciptakan Adam dan Hawa? Apakah Tuhan memiliki kekurangan? Mengapa Tuhan memiliki nafsu dan pikiran seperti manusia?”

Abdurrahman sering menanyakan semua pertanyaan itu kepada para pendeta di kotanya. Namun mereka tidak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka malah berkata kepada Abdurrahman untuk tidak bertanya apa pun yang dilakukan Tuhan. Hal itu tentu saja sulit diterima oleh Abdurrahman. Karena banyaknya keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan di kepalanya, ia akhirnya menyimpang dari agamanya. Malangnya ia lupa dengan Sang Pencipta dan menjadi seorang ateis, memercayai bahwa tak ada Tuhan Sang Pencipta! Ia mulai memercayai jawaban atas penciptaan manusia dan seluruh alam semesta berdasarkan ilmu pengetahuan. 

Alam semesta menciptakan dirinya sendiri dan manusia adalah evolusi dari kera. Kita adalah hasil dari mutasi genetis. Semua makhluk hidup yang lain juga tercipta atas dasar proses yang sama seperti manusia. Pulau-pulau terpisah karena adanya “ledakan dahsyat” (big bang) yang terjadi milyaran tahun yang lalu. 

Dan jadilah ia di usia 16 tahun, tak percaya lagi kepada agamanya dan Tuhan. Hingga ia menghabiskan 33 tahun sebagai ateis. 

Seiring berjalannya waktu, Abdurrahman bertemu saudara laki-laki saya hingga mereka berteman akrab. Ia datang bersama saudara laki-laki saya ke Maldives dalam sebuah kunjungan untuk menjelajahi sebuah wilayah. Ia berkata tentang saat-saat pertama ia menginjakkan kaki di Maldives:

Aku berharap akan menjumpai para ekstremis agama di Maldives, dan aku sering membaca dan mendengar bahwa orang-orang muslim adalah para ekstremis sejati. Sepengetahuanku, Maldives adalah 100 % negara yang penduduknya Islam dan aku takut memikirkan itu. Namun asumsiku berubah ketika melihat pemandangan yang jauh berbeda dengan yang selama ini kupikirkan. Aku melihat pantai-pantai yang memukau, wanita-wanita yang berbusana mini, dan bar-bar. Semuanya ada di sini, kecuali agama. Ketika aku menanyakan hal ini kepada kawanku, aku menyadari aku tengah berada di sebuah tempat bersenang-senang. Kawanku berkata pulau yang lain akan berbeda. Namun malangnya pulau yang  kutempati juga tak jauh beda. Banyak wanita yang tak berpakaian dengan layak, ada masjid yang sangat sedikit jamaahnya -ini bukan apa yang sebelumnya  kuharapkan. 

Suatu ketika saudara laki-laki saya membawa Abdurrahman ke rumah saya untuk bertemu anggota keluarga yang lain. Namun, ia berkata bahwa meskipun ia menemukan banyak kasih sayang, ia tidak melihat adanya kesalehan dalam keluarga saya. 

Dalam tulisannya tentang kunjungan kali keduanya di Maldives, ia mengatakan keterkejutannya ketika melihat saudara perempuan kawannya (yaitu saya). Hal ini karena saya mengenakan niqab. Ia menulis: 

Perempua itu bukan perempuan modern pertama yang pernah saya lihat. Saya tidak bisa melihat apa pun darinya kecuali kedua matanya. Dan ia menolak bersalaman dengan saya. Saya mendengar bahwa dalam Islam, perempuan selalu ditindas dan dibatasi hak-haknya. Suaminya menyuruhnya berpakaian hitam pekat dan melarangnya bepergian atau mencari ilmu di sekolah-sekolah atau universitas. Karena apa yang selalu saya lihat di media, saya selalu memiliki kesan buruk terhadap Islam. Saya tak suka dengan itu dan saya berdiskusi dengan kawan saya. Saya sangat marah karena perempuan itu (yaitu saya) dipaksa untuk mengenakan pakaian semacam itu. 

“Perempuan itu seharusnya memiliki kebebasan untuk memperlihatkan kecantikannya jika ia mau! Itu tubuh dia! Ia punya kebebasan! Tak seorang pun punya hak memaksanya berpakaian seperti itu,” kata Abdurrahman kepada karibnya. “Hak apa yang kamu punya untuk memaksanya berpakaian seperti itu dan terus dikunci di dalam rumah?”

Suadara laki-laki saya melihat Abdurrahman dan berkata,”Saya tidak memaksanya untuk berpakaian seperti itu. Itu pilihannya! Bahkan saya juga tidak setuju ia berpakaian seperti itu. Saya juga telah mencoba meyakinkannya untuk tidak berpakaian seperti itu. Namun ia tidak mau merubah pikiran.”

Peristiwa itu adalah momen-momen yang merubah persepsinya tentang Islam. Ia akhirnya sadar, apa yang selama ini ia pelajari dari media lain adalah dusta dan mendiskreditkan Islam. Namun ia tetap tidak percaya akan adanya Tuhan. 

Setelah kejadian itu, saya berdiskusi panjang dengannya dan mencoba dengan keras untuk membawanya kepada Islam, namun ia tidak terlalu memperhatikan ajakan saya. 

Setelah dua tahun, Abdurrahmah kembali datang ke Maldives atas ajakan saudara laki-laki saya. Selama kunjungannya, saya mengundangnya untuk datang ke Islam senter tempat saya bekerja. Meskipun ia tidak terlihat begitu tertarik datang ke Masjid, ia menerima ajakan saya untuk menghargai saya. Ia telah mulai sadar seberapa gigih saya untuk mengajaknya memeluk Islam, namun ia tidak terlalu peduli. 

Ia menulis dalam buku tamu Islam senter:

Saya bersaksi kepada Tuhan yang satu yang tidak ada sekutu bagi-Nya, saya merasakan sensasi aneh ketika pertama kali kaki saya menginjak lantai Masjid. Saya ingin keluar, namun sesuatu seolah menahan saya untuk tetap berada di dalam. 

Ia mendengarkan dengan seksama penjelasan saya tentang masjid -tanggal peresmian masjid dan siapa-siapa yang membatu pembangunan masjid ini. Saya berkata kepadanya bahwa Kaligrafi Arab yang diletakkan di bagian berbeda dari masjid ini merupakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Qur’an adalah Kitab Suci kami. Saya juga berkata kepadanya bahwa Kitab ini diturunkan kepada Nabi kami Muhammad salallahu alaihi wa sallam 1400 tahun yang lalu dan tak satu ayat atau huruf pun berubah sejak pertama Kitab itu diturunkan hingga sekarang.  

Abdurrahman menjawab,”Apa? Itu tidak mungkin!

“Ini benar adanya.” jawab saya. 

Dalam keterkejutaannya Abdurrahman berkata,”Itu tak masuk akal. Bahkan Injil telah berubah berkali-kali. Banyak versi Injil yang beredar di seluruh dunia. Untuk sebuah buku yang dibuat 1400 tahun yang lalu namun tetap utuh terjaga adalah hal yang mustahil!” 

Saya menjawab,”Buku ini adalah wahyu dari Tuhan dan Dia menjaga Buku ini dari kerusakan. Bahkan tidak sebuah titik atau tanda baca lain pernah berubah.”

“Untuk membuktikan perkataan saya, saya akan membacakan sebuah ayat Al-Qur’an. Anda bisa meminta muslim dari negara mana pun untuk membacakannya. Tak peduli seberapa banyak anda meminta muslim untuk membacakannya, ayat itu tidak akan berubah,” tambah saya. 

Saya jelaskan kepadanya tentang keajaiban-keajaiban yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara ilmiah: tentang bagaimana alam semesta ini tercipta (teori big bang), dua arus laut yang tak pernah menyatu, sidik jari, dan bagaimana Al-Qur’an menjelaskan tentang cahaya bulan dan matahari. Ia tetap mendengarkan penejlasan saya. Setelah ia mulai mengutarakan argumennya, saya memberinya Muskhaf Al-Qur’an terjemahan Inggris untuk dibaca. Kemudian ia menjawab,”Jika demikian, Muhammad pasti seorang laki-laki yang pandai, karena bisa menulis buku semacam ini.”

“Muhammad adalah seorang buta aksara. Beliau anak yatim. Beliau dulu seorang pengembala, sebelum beliau akhirnya menikah,” jawab saya. 

Menurut Abdurrahman, ia dulu menjadi tak yakin tentang apa yang harus diyakini setelah keluar dari masjid. Ia percaya kepada ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan telah diturunkan kepada seorang lelaki buta aksara yang tinggal di padang pasir Makkah 1400 tahun yang lalu. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ia meninggalkan masjid dengan membawa beberapa buku dan buletin Islam dan sering membacanya di waktu senggang. “The Unchangeable Miracles in Qur’an” adalah salah satu buku yang ia baca dan sebuah Muskhaf Al-Qur’an terjemahan Bahasa Inggris. Ia sering bertanya. Ia berkata bahwa ia sering membaca buku-buku tentang keajaiban dan kemudian memeriksanya dalam Al-Qur’an. Setiap kali ia melakukan itu, ia mendapati keajaiban-keajaiban itu selalu cocok dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Ia meninggalkan Maldives dengan membawa banyak buku yang kami berikan hingga kemudian ia percaya dengan adanya Pencipta. Sejak ia memutuskan untuk semakin mempelajari Islam, kami semakin banyak memberinya buku-buku Islami. 

Setelah kembali ke negaranya, Abdurrahman menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku-buku yang kami berikan dan semakin giat mempelajari Islam. Ia mengatakan bahwa ia sering pergi ke klub dan mabuk-mabukan dengan kawan-kawannya di akhir pekan (sabtu dan minggu). Namun setelah ia kembali ke negaranya ia tidak pernah lagi minum alkohol agar bisa fokus membaca buku-buku yang kami berikan. Ia tahu ia tak akan bisa memahami apa yang ia baca jika dalam keadaan mabuk. Ia menghabiskan waktu senggangnya untuk membaca buku-buku tentang Islam. Ia juga berkunjung ke masjid dan bertemu dengan Imam masjid dan para jamaah. Ia menanyakan banyak pertanyaan tentang Islam. Meskipun lokasi masjidnya sekitar satu jam perjalanan dengan berkendara dari daerahnya, hal itu tidak menghentikan keinginannya untuk menemukan apa yang ia ingin ketahui. Hingga ia mulai mengunjungi masjid secara teratur dan semakin mendapatkan banyak ilmu dari buku-buku yang ia baca. Ia mulai mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab ketika ia masih anak-anak. Semua keraguan dan ketakpastian dalam hatinya mulai memudar dan ia mulai merasakan cahaya hidayah Islam. Dalam sebuah E-mail, ia menulis bagaimana ia akhirnya memeluk Islam:

Mengapa muslim tidak minum alkohol? Aku selalu heran! Akhirya aku mendapatkan jawabannya! Akhirnya aku mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya miliki tentang agama dan kesalahpahaman saya selama ini berangsur-angsur hilang. Saya melihat bukti dari Al-Qur’an tentang adanya Sang Pencipta. Saya melihat bukti bahwa Allah adalah Tuhan yang satu yang tiada sekutu bagi-Nya. Untuk lebih meyakinkan diri saya, saya mencari tahu apa yang Al-Qur’an terangkan mengenai Yesus (Isa). Ketika saya tanyakan hal ini kepada Imam masjid, ia membacakan beberapa ayat Al-Qur’an kepada saya. Dari ayat-ayat itu akhirnya saya tahu bahwa Yesus adalah nabi Allah, bukan anak Allah. Dan Imam membacakan kepada saya beberapa ayat yang menerangkan keajaiban kelahiran Nabi Isa. Ia membacakan kepada saya keesaan Allah dan Dia tidak membutuhkan apa pun atau siapa pun. Saat itu seolah-olah saya telah mendapatkan semua yang ingin saya cari. Saya meningglkan Kristen karena banyak ajaran yang tak bisa saya terima, seperti Tuhan yang seolah memiliki kekurangan karena Dia membutuhkan bantuan manusia. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an, Allah adalah Dzat yang satu, tidak membutuhkan bantuan makhluk dan Dia tidak memiliki keinginan atau nafsu seperti manusia. Dan saat itulah saya yakin bahwa saya telah menemukan agama saya! Saya telah menemukan Tuhan saya! Saya menemukan Allah! Air mata ini menetes ketika mendengar Imam membacakan ayat-ayat itu. Dan dalam perjalanan pulang, saya menangis dalam mobil. Saya tidak ingin menyia-nyiakan detik berikutnya, karena saya telah menyia-nyiakan 30 tahun dalam hidup saya! Tanpa membuang-buang waktu lagi, saya memeluk Islam. 

Di hari itu, ia mandi kemudian pergi ke masjid. Imam mengajarinya berwudhu dan mengucapkan syahadatain. 

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasulullah. Saya juga bersaksi bahwa Yesus (Isa alaihissalam) adalah nabi Allah bukan anak Allah.” 

Setelah ia memeluk Islam, Abdurrahman mengirimi saya E-mail bahwa ia telah masuk Islam. 

Ia mengungkapkan perasaannya dalam sebuah E-mail: 

Ketika momen-momen saya masuk Islam terjadi, seolah banyak angsa menghantam tubuh saya dan udara dingin merasuk ke dalam tulang punggung saya. Saya merasa terbebas dari beban berat yang selama ini membebani. Seolah dosa saya sirna semua dan hati saya bercahaya, jiwa saya terasa damai dan saya merasa berada di tempat yang sangat tenang, damai dan tentram. Tak ada kata yang pas untuk menggambarkan perasaan saya saat itu; kebahagiaan, kepuasan, kedamaian, dan perasaan tentram. Saya berlutut sujud. Cucuran air mata terus membasahi pipi saya. Saya menangis lama sekali dalam sujud. Saya menangis dengan keras. Saya merasa jiwa ini baru saja menerima cinta dan kasih sayang dari Allah. Saya merasa dosa saya keluar dari pundak saya. Perasaan itu membuat saya menangis terus. Ketika saya bangun dari sujud, orang-orang di sekitar saya melihat saya dan mereka terlihat menangis, air mata membasahi janggut mereka. Mereka semua merangkul saya dan mengucapkan selamat atas keislaman saya. Mereka juga mengatakan saat ini saya adalah saudara mereka. 

Abdurrahman memeluk Islam pada 26 November 2014. E-mail yang kirimkan membawa air mata kegembiraan. Semua orang yang bekerja di masjid berharap menjadi muslim suatu hari nanti. Hari berikutnya saya sampaikan berita ini kepada mereka. Air mata kegembiraan mengalir di pipi-pipi mereka dan mereka melakukan sujud syukur. Kami merasa memperoleh kabar dari seorang anggota keluarga yang telah lama hilang, bahkan hal itu lebih menggembirakan. Berita ini menjadi sumber pendorong besar bagi dakwah kami. Kami sebarkan berita itu kepada semua orang dan kami memutuskan untuk merayakannya. Banyak dari kami mengirimkan E-mail kepada Abdurrahman untuk mengucapkan selamat atas keislamannya. Ia sangat gembira ketika menerima E-mail dari kami. Ia kini menganggap kami adalah keluarga dekatnya. Kasih sayang dan sikap kekeluargaan yang ia terima dari kami menjadi sumber kepuasaannya. 

Dari salah seorang muslimah yang mengirimkan E-mail kepadanya, ia tahu bahwa hal pertama yang harus ia lakukan setelah memeluk Islam adalah melaksanakan shalat. Apa yang ingin ia lakukan setelah itu adalah shalat. Ia sangat ingin berbakti kepada Allah, namun ia tidak tahu tata cara shalat: bacaan atau pun gerakan. Ia mencoba belajar shalat dari video di Youtube, namun tidak mengerti kata-kata bahasa Arab. Ia sangat kebingungan. Keinginnannya yang kuat untuk segera melaksanakan shalat membuatnya mengirimkan sebuah E-mail kembali kepada muslimah itu: 

Salam Ukhti Muslimah, saya ingin meminta bantuan kepada anda! Saya tahu bahwa telah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk melaksanakan shalat, tapi saya tidak tahu tata cara shalat. Saya tidak tahu yang harus dibaca dalam shalat. Bagaimana mungkin saya bisa pergi ke masjid setiap waktu shalat? Jaraknya begitu jauh dari rumah saya. Waktu shalat Maghrib bahkan sangat larut ketika mendekati musim dingin. Saya bis ashalat di rumah, namun tidak tahu tata cara shalat. Tolong bantu saya Ukhti!

Setelah itu ia juga mengirimkan E-mail yang berisikan kegundahannya karena tidak bisa melaksanakan shalat:

Saya ingin beribadah kepada Tuhan, namun saya hanya tak tahu caranya shalat. Saya berpikir:”Ibadah hanyalah berkomunikasi kepada Allah. Saya tidak perlu ke masjid yang jauh di sana untuk beribadah kepada Allah. Ada Gereja di dekat sini. Saya bisa berbicara sebanyak mungkin dengan Tuhan.” Namun kemudian saya berbicara kepada diri saya,”Syaitan mencoba menggoda saya karena saya kini telah menjadi muslim. Syaitan mencoba memberikan alternatif tempat kepada saya untuk beribadah. Saya tidak akan pernah pergi ke sana!

Ia menghabiskan waktu malam itu dengan menangis. Ia duduk di atas karpet di ruang tengah rumahnya. Dan ia menyeru Allah:

Ampuni saya! Saya tidak tahu caranya shalat! Ya Allah, mudahkanlah saya untuk mengabdi kepada Enkau dan mudahkanlah saya untuk mendirikan shalat seperti Engkau memberi saya pentunjuk kepada Islam. Saya tidak ingin mati dalam keadaan tidak pernah shalat. Saya takut! Ya Allah, saya sangat mencintai Enkau dan saya bisa merasakan Cinta-Mu. Karena itu, saya sangat ingin mengabdi kepada Engkau dengan penuh penghambaan. Apa yang harus saya perbuat jika seandainya saya mati tanpa pernah shalat kepada-Mu, meski hanya sekali? 

Malam itu, ia terlelap tidur dalam keadaan seperti itu dan melihat mimpi yang luar biasa. Dalam sebuah E-mail yang dikirimnya kepada muslimah Maldives yang paling dekat dengannya, ia menulis:

Salam Ukhti Muslimah, jangan kawatir lagi dengan shalatku. Saya shalat dengan Rasulullah salallahu alaihi wa sallam tadi malam. Di seluruh Italy, tidak orang yang setampan beliau salallahu alaihi wa sallam. Jiwa saya meleleh ketika melihat senyum beliau salallahu alaihi wa sallam. Hati terpenuhi cinta kepada beliau salallahu alaihi wa sallam. Allah telah menciptakan beliau salallahu alaihi wa sallam dalam bentuk yang paling sempurna -janggut yang mengagumkan, mata hitam yang menawan, senyum yang memesona, gigi putih yang teratur, dan kulit wajah putih merona. Seolah terlihat ada cahaya dari wajah beliau salallahu alaihi wa sallam. 

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Asslamualaikum Abdurrahman.”

“Siapa Abdurrahman?” kataku. 

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata bahwa itulah saya. Kemudian beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Bukankah itu adalah nama yang diberikan oleh saudari-saudari muslimah kepadamu? Itu adalah nama yang sangat bagus.”

Saya bertanya kepada beliau salallahu alaihi wa sallam apakah Allah masih mencintai saya sedangkan saya belum pernah mendirikan shalat satu kali pun. Sementara shalat adalah kewajiban yang paling penting setelah seseorang mengikrarkan syahadatain. 

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Jangan kawatir! Allah mengetahui segalanya. Allah mengetahui kesulitanmu sebagai mualaf. Ketulusan dan cintamu kepada Allah lebih berat di mata Allah. Jangan khawatir, karena kehidupanmu kelak di akhirat lebih baik dari kehidupanmu di dunia ini. 

Kemudian beliau salallahu alaihi wa sallamm menambahkan,”Mari shalat denganku. Shalat pertamamu sebagai muslim.”

Saya mengikuti perintah beliau untuk shalat bersama beliau. 

Setelah shatal, beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Wahai Abdurrahman! Kapanpun kamu shalat, shalatlah seperti kamu melihatku shalat.”

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Berhati-hatilah dirimu terhadap syaitan! Mereka tidak hanya menipumu dengan waswas. Mereka datang dalam bentuk dan cara yang banyak. Kadang dalam bentuk manusia, kadang dalam bentuk nafsu, dan terkadang dalam bentuk kekayaan. Cobalah untuk menghindar dari perangkap syaitan. Dan mintalah perlindungan kepada Allah dari syatan. Bertaubatlah segera jika kamu terjatuh dalam dosa, meskipun dosa itu tidak kamu sengaja. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Berhati-hatilah terhadap syaitan. Shalatlah tepat waktu. Shalatlah dengan berjamaah. Ini adalah perisai terbaik yang bisa membentengimu dari syaitan.”

Kejaian itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ia menghancurkan mini bar di rumahnya yang biasa ia pergunakan untuk menjual alkohol. Para pekerjanya membuang botol-botol alkohol dan membuang gambar-gambar dinding. Ia menghilangkan gambar-gambar itu karena ia tahu malaikat rahmat tidak akan datang ke tempat yang banyak gambar makhluk. Ia juga membeli banyak buku-buku tentang Islam dan juga membeli AL-Qur’an terjemahan bahasa Itali di kota tetangga. Ia membaca Al-Qur’an setiap hari. 

Abdurrahman mengalami banyak cobaan setelah ia menjalani kehidupan ala Islam. Keluarganya memutuskan tali persaudaraan dengannya dan kawannya menjadi asing baginya. Suatu malam ia mengundang keluarganya makan malam dan berniat mengabarkan keislamannya kepada keluarganya. Reaksi keluarga tidak seperti yang ia harapkan sebelumnya. Mereka smeua memutuskan tali silaturahmi dengannya dan meninggalkan rumahnya dengan berkata,”Kami bahkan tidak mau makan makanan yang dibuat orang Islam.” Tanpa keluarga dan kawan, Abdurrahman sebatang kara. Pada saat itu, adalah muslimah terkdekatnya dari Maldives yang menghibur dan mendukungnya. Ia mengatakan kepadanya,”Saya tidak memiliki siapa pun saat ini, namun saya bahagia dan tentram. Saya tidak bersedih. Hati saya selalu terpenuhi oleh perasaan bahagia.”

Abdurrahman menceritakan kepada kami dalam sebuah E-mail tentang mimpi di malam setelah ia berdiskusi dengan beberapa kawannya:

Saya melihat mimpi yang sangat mengagumkan tadi malam! Malaikat-malaikat berpakaian putih, membawa saya ke tempat yang sangat luar biasa. Mereka datang ketisa saya sengang melaksanakan shalat, menyapa saya dengan salam, dan mensucikan saya dengan air yang wangi. Mereka memakaikan saya pakaian yang wangi dan membawa saya ke sebuah tempat. Dalam perjalanan, banyak malaikat berpakaian putih, tersenyum kepada saya dan memanggil nama saya. Saya tidak tahu ke mana mereka akan membawa saya, saya terlebih dahulu bangun sebelum mimpi itu selesai. Namun hal-hal ganjil masih bisa saya ingat: bau wangi pakaian yang saya kenakan. 

Setelah itu, Abdurrahman berniat berkunjung ke Maldives sesegera mungkin. Ia ingin mempelajari Islam lebih dalam dan membaca Al-Qur’an. Ia berniat menghafal Al-Qur’an 30 Juz, setelah muslimah yang paling dengannya memberitahunya keutamaan menghafal Al-Qur’an. Ia berniat terbang ke Mladives Desember 2014 dan mulai mencoba mengganti nama dan paspornya. Ia juga menulis dua setelah wudhu di selembar kertas dan menempelkannya di dinding. 

Abdurrahman mengalami banyak kejadian yang membuktikan tingkatan keimanannya seperti ketika berada di perusahaan di mana ada beberpa perempuan yang tidak secara layak, kawan-kawannya yang menghinanya juga menghina keyakinannya, dan beberapa kejadian lain.

Dalam setiap kondisi, ia berusaha dengan keras agar tidak terjatuh dalam dosa, karena ia menginginkan surga. 

Dalam E-mail terakhirnya 5 Desember 2014, Abdurrahman menceritakan kisahnya ketika ia pergi menghadiri jamuan makan malam saudari perempuannya. Ia tidak makan apa pun karena saudarinya telah menyiapkan daging babi dan ayam. Ia diberi alkohol, yang mana secara terang-terangan ia menolaknya. Setelah itu, saudarinya juga membawa pendeta Kristen untuk menasehatinya agar meyakinkan ia untuk keluar dari Islam. Abdurrahman menerima jamuan makan saudarinya karena ia berniat memperbaiki tali silaturahmi dengan keluarganya, namun saudarinya malah memliki rencana lain: membuatnya kembali kepada Kristen.

E-mail terkhir Abdurrahman kami terima 5 Desember 2014. Ia menyebutkan bahwa ia akan mengirimkan E-mail lagi selepas shalat Jum’at. Namun kami tidak pernah lagi menerima E-mail darinya, tidak pula pernah menjawab E-mail yang kami kirimkan. Bagaimana mungkin kami menerima jawaban darinya? Ia meninggal pada hari Jum’at itu ketika bersujud. Ia telah menyampaikan perpisahan kepada dunia ini. Ia meninggl dalam keadaan sujud, seperti yang ia saksikan dalam mimpinya.