Showing posts with label muslim amerika. Show all posts
Showing posts with label muslim amerika. Show all posts

Sunday, 31 May 2015

, , , , ,

Saya Mencintai Keluarga, Tapi Saya Lebih Mencintai Islam

Saya Mencintai Keluarga, Tapi Saya Lebih Mencintai Islam

Nama saya Ismail. Saya berdarah campuran Rumania dan Hungaria. Saat ini saya tinggal di California. Saya masuk Islam sekitar 5 tahun yang lalu di usia 17 tahun. 

Semuanya dimulai ketika saya bermain basket. Ketika saya bertemu seseorang yang hingga sekarang masih akrab dengan saya. Ia mendakwahi saya. Dan kami berdebat soal agama selama empat tahun. Saya seorang Kristen dan ia seorang muslim. Ia sering memberi saya pertanyaan yang tak bisa saya jawab, hingga pertanyaan-pertanyaan itu memunculkan keraguan dalam hati saya tentang ajaran Kristen.

Sejak saya bertemu dengannya, saya semakin menghargai Islam. Dan saya sangat kagum melihat muslim berhenti bermain basket sejenak untuk melaksanakan shalat. Hal itulah yang membuat saya akhirnya berdoa,”Ya Tuhan, jika Kristen adalah agama yang benar, kumpulkanlah aku dengan kawan-kawan yang beragama Kristen. Tapi jika Islam adalah agama yang benar, maka masukkanlah aku ke dalam Islam.” Sekitar seminggu setelah itu, akhirnya saya mengikrarkan syahadatain di lapangan basket. Alhamdulillah itulah keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. 

Setelah masuk Islam, saya sembunyikan Islam dari keluarga. Keluarga saya datang ke Amerika sejak tahun 1989 dari Rumania. Saat itu Rumania adalah negara komunis. Keluarga saya beragama Kristen dan kebanyakan mereka adalah Kristen taat. Mereka disiksa dan banyak mengalami masa-masa sulit dalam menjalakan ajaran agama. Karena itu mereka berkepribadian keras. Saya tahu jika saya katakan bahwa saya telah berislam, mereka akan menentang saya habis-habisan. Karena itu saya merahasiakannya selama beberapa bulan dan ada beberapa peristiwa yang membuat mereka hampir mengetahui rahasia ini. 

Awalnya saya tidak lagi memakan daging babi, yang mana sekitar 80 % makanan masyarakat Rumania dibuat dari daging babi. Ketika ibu saya menanyai saya perihal itu, saya tunjukkan ayat di Injil bahwa ada larangan memakan daging babi, beliau menunjukkan persetujuannya dan menyuruh saya untuk melanjutkan penjelasan. Saya juga menanyakan kepada beliau apakah boleh beribadah dengan bersujud, beliau mengatakan bahwa itu diperbolehkan karena beliau pernah melihat kakek juga bersujud ketika beribadah. 

Pada mulanya, saya melakukan shalat lima waktu secara penuh meski dengan perasaan was-was jika terlihat. Saya shalat Isya’ malam hari ketika orang-orang terlelap tidur, sehingga mereka tidak akan melihat saya. Saya sembunyikan itu hingga saya merasa cukup kuat untuk menghadapi apa yang bakal terjadi jika mereka tahu rahasia saya. Suatu hari, saya berdebat dengan sepupu di Facebook untuk membela Islam. Setelah berdebat selama beberapa jam, akhirnya sepupu saya itu memberikan pertanyaan sindiran kepada saya,”Kamu muslim ya?” Saat itu saya merasa tidak bisa berbohong lagi. Ada keyakinan yang kuat bahwa Allah akan menolong saya. Karena itu saya katakan sejujurnya padanya. Setelah itu keluarga saya akhirnya tahu bahwa saya telah berislam. Awalnya mereka tidak mau mempercayai itu. 

Sebelum berislam, saya selalu diistimewakan sebagai anggota keluarga. Setelah berislam, saya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang paling dibenci. Nenek saya tak mau lagi menganggap saya sebagai cucunya lagi. Sepupu-sepupu saya menyebut saya sebagai penyembah setan. Bibi dan paman saya memberikan saya ratusan halaman penelitian mereka soal Islam dan selama berjam-jam berdebat dengan saya mencoba mengubah pemikiran saya.

Mereka terus-menerus mengatakan hal-hal berbau kebencian kepada Islam dan Nabi Muhammad ﷺ yang membuat saya selama beberapa malam tidak dapat tidur karena terus-menerus menangis. Sebelum berislam, keluarga adalah segalanya bagi saya. Saya mengorbankan apapun untuk keluarga, karena itu ketika mereka akhirnya mengatakan hal-hal buruk tentang saya, saya sangat terluka dan sedih. Namun saya tahu alasan mengapa mereka melakukan ini pada saya. Mereka sangat menyayangi saya. Mereka menginginkan yang terbaik bagi saya. Saya juga bisa bayangkan betapa hancurnya jika anak kandung saya berganti agama. Peristiwa itu pasti sangat sulit diterima, sebab itu saya tidak menyalahkan mereka. Itu adalah ujian dari Allah untuk saya. 

Setelah itu, ibu mengekang saya. Saya tidak lagi diizinkan keluar bersama kawan-kawan muslim. Saya hanya diperbolehkan di rumah dan ke lapangan basket. Selama saya mendapat penjagaan ketat itu, saya hanya bisa melaksanakan shalat pukul 2 dini hari. Keadaan itu terjadi selama beberapa minggu. Sementara mereka masih terus mengajak saya pergi ke gereja. Ibu terlihat semakin murka setelah melihat saya tak juga berubah. Sementara saya semakin kuat memegang agama ini. Karena itu, suatu malam, beliau berkata kepada saya,”Tinggalkan Islam dan tinggallah di sini atau tinggalkan tempat ini dan lakukan apapun yang kau inginkan. Keputusan ada di tanganmu, tapi kau tak bisa terus tinggal di sini semnetara kau masih muslim.” Saya katakan pada beliau,”Baiklah Ibu. Ibu telah membuat keputusan yang akan saya ambil semakin mudah, saya tidak akan meninggalkan Islam.” Demikianlah akhirnya saya meninggalkan rumah. 

Ketikan saya meninggalkan rumah, sebuah keluarga Somalia mengajak saya untuk tinggal di rumah mereka. Semoga Allah memberkahi mereka. Saya masih merasa berhutang banyak kepada mereka, karena mereka selalu membantu saya dalam setiap kesulitan yang saya alami, hingga saya benar-benar menganggap mereka sebagai keluarga saya. Setiap malam Ibu selalu menelpon dan mengatakan kerinduannya kepada saya juga meminta saya untuk kembali ke rumah. Namun saya selalu mengatakan kepada beliau bahwa saya tidak akan meninggalkan agama yang indah ini. Ibu selalu mengatakan bahwa beliau dipaksa anggota keluarga yang lain untuk mengusir saya, jika saya tidak meninggalkan Islam. Dalam hati kecil beliau, sebenarnya beliau tidak ingin melakukan ini kepada saya. Sepanjang hidup beliau, beliau hanya tinggal bersama kami, anak-anaknya. Kami adalah prioritas utama bagi beliau. Beliau melakoni dua hingga tiga pekerjaan perhari untuk menghidupi kami. Ayah sama sekali tak berjuang untuk kehidupan kami, karena mereka telah bercerai ketika saya masih berumur tiga tahun. 

Berkali-kali Ibu meminta saya untuk kembali ke rumah. Tetapi saya tetap mengatakan bahwa saya tidak akan meninggalkan Islam. Hingga beliau membuat perjanjian bahwa jika saya pulang ke rumah, saya akan pergi (tidak harus) bersama mereka ke gereja setiap minggu, saya tidak diizinkan shalat di dalam rumah, dan sebagai gantinya saya boleh tinggal lagi di rumah, beliau akan memasakkan makanan halal untuk saya. Dan saya menyetujui itu. Ada kejadian lucu setelah beberapa kali saya shalat di luar rumah. Suatu ketika, ketika saya tengah berada di rakaat keempat shalat Isya’ tiba-tiba alat pemadam kebakaran otomatis menyemprotkan air ke muka saya. Lain waktu ketika saya shalat Subuh, seorang tetangga sebelah melihat saya dalam keadaan sujud dan mengira saya tengah semaput, sehingga ia bergegas memanggil ambulans. Alhamdulillah saya selesai shalat sebelum ia menelpon ambulans dan saya langsung mengatakan kepadanya bahwa saya tengah melakukan ibadah.   

Alhamdulillah setelah saya kembali ke rumah, situasi berangsur-angsur membaik. Dulu saya tidak diizinkan memiliki sajadah, sekarang saya memiliki almari yang penuh dengan pakaian islami dan rak buku dengan berbagai buku Islam. Pada akhirnya saya sangat mencintai Ibu dan Islam mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi anak yang berbakti kepada beliau sekaligus menjadi saudara yang baik bagi kakak dan adik saya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, agar mereka juga dapat merasakan kedamainan dan ketenangan hidup ketika berada dalam rengkuhan agama yang indah ini.



Monday, 26 January 2015

, , , , ,

Setelah Kejadian 9 September, Seorang Anggota Marine Corps Masuk Islam


9 September adalah hari perenungan bagi saya karena beberapa sebab. 
Pada tanggal 9 September saya akhirnya menyadari bahwa:
1. Saya dulu adalah seorang Marine
2. Saya dulu bersedia mati demi negara
3. Islam bukan hanya agama perdamaian, melainkan juga agama yang paling benar

Kebanyakan orang menerima pengakuan saya yang pertama dan kedua tanpa pertentangan apa pun ketika saya ceritakan kembali kisah saya ini. Namun pengakuan saya yang ketiga selalu menemui pertentangan. Saya tak akan menceritakan seluruh kisah saya, saya hanya akan membicarakan tiga poin penting. 

Pengakuan pertama: saat itu terkesan berbeda ketika saya bergabung dengan Marine Corps di tahun 1998. Sebagian besar kawan satu angkatan saya yang bergabung dengan Marine hanya menjadikannya sebagai alasan agar tidak hanya menganggur di rumah atau agar tidak harus kuliah. Banyak orang lain juga, seperti saya, bergabung dengan Marine untuk menjadi bagian dari organisasi militer terhebat sedunia. Saya tak pernah bermimpi akan ada perang, betapapun banyak latihan perang yang telah saya ikuti. Bisa saja saya melakoni berbagai peperangan, namun saya sudah terlanjur senang berada di depan meja kerja setiap hari atau bepergian bersama Presiden Clinton ke pabrik pembuatan motor Harley David Son di Pennsylvania atau ke pantai selatan, Miami. Hal itu itu berlangsung terus hingga peristiwa 9 September terjadi. 

Hari itu, saya akhirnya benar-benar menyadari bahwa saya adalah anggota Marine. Hari itu, perasaan untuk berperang tiba-tiba muncul dalam diri, dan tak ada yang lebih saya ingin lakukan kecuali berperang melawan para begundal yang telah berani menyerang Amerika, negeri terbesar di jagat ini! Hari itu saya tahu, bahkan para penjahat kota, jajaran pemerintah, hingga para kru perusahaan penerbangan, siap melakukan apa yang Marine lakukan. 

Hari itu, elang, dunia, pelaut, bersatu dan prajurit perang yang tak pernah saya tahu adanya, tiba-tiba hidup. Hari itulah yang membuat saya sadar, saya adalah seorang Marine!

Pengakuan kedua: Karena gawatnya hari itu, saya sadar sesuatu harus dilakukan. Saya tak tahu dengan pasti, tapi saya tahu sesuatu itu harus dilakukan. Saya mulai berpikir tentang semua piala kehormatan para pemenang yang telah mengorbankan hidupnya demi kepentinan orang lain. Saya tak pernah benar-benar mengerti hal itu sebelumnya, tapi setelah peristiwa 9 September sesuatu yang berbeda datang kepada saya. Jika para pembunuh berdarah dingin memiliki kemauan keras untuk melakukan ini, saya juga akan memiliki kemauan keras dan melakukan segala cara untuk mengalahkan mereka.  

Saya tak tahu harus melakukan apa, tapi satu hal yang saya tahu: jika saya memang harus mati, saya ingin mati demi negara saya. Saya tak pernah merasakan perasaan semacam ini. Sebelum peristiwa 9 September, seragam yang saya kenakan hanyalah simbol pekerjaan saya. Namun setelah peristiwa 9 September, saya bersumpah demi almamater dan negara, saya siap bertempur apa pun yang terjadi. 

Saya ingat saat itu sekitar jam 10 malam, sebelum pangkalan telepon mati, saya menelpon ibu saya dan beliau terus berbicara sambil menangis. Kata-kata yang bisa saya ucapkan hanya “Ibu aku mencintaimu dan katakan pada semua orang, aku mencintai mereka, tapi saat ini aku harus menjalankan tugas yang aku digaji karenanya.” Saya juga katakan pada beliau bahwa mungkin ini adalah percakapan terakhir. Saya tahu apa yang harus dilakukan dan saya tak terlalu peduli lagi dengan gaji, yang saya tahu Amerika harus menang. 

Pengakuan ketiga: peristiwa ini mungkin menjadi sesuatu hal yang paling sulit untuk diterangkan dan masih berada di momen 9 September. Kami semua masih tetap siaga selama lebih dari 14 jam setiap hari. Kami tidak tahu aksi apa yang perlu dilakukan. Kami hanya menunggu dan menunggu. Setelah itu, 9 Oktober, ketika keadaan karena peristiwa menyeramkan itu berangsur-angsur pulih, saya mulai merenung. Kebanyakan tentang pengakuan saya yang pertama dan kedua, namun berangsur-angsur saya mulai bertanya-tanya dalam hati: Siapa sesungguhnya orang-orang yang melakukan ini? Mengapa mereka melakukan ini? Benarkah keyakinanan mereka sedemikian gila: melakukan bunuh diri untuk membunuh orang lain? Saya terus-menerus bertanya dalam hati. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menggali berbagai informasi. Saya ingin mengetahui dulu profil musuh saya sebagai persiapan untuk mengalahkan mereka. Sebagai seorang kristen yang taat, pemandu suara di gereja, dan seorang ketua perkumpulan studi injil, saya ingin mengetahui buku pedoman yang digunakan oleh si pembunuh ini, supaya nanti saya bisa memberi tahu kawan atau para jemaat. Saya belum pernah bertemu seorang muslim pun. Satu-satunya hal yang saya ketahui tentang agama adalah gereja (kristen). Jadi saya mulai dengan membaca Al-Qur’an. 

Ketika kondisi di pengkalan mulai longgar, saya memutuskan untuk pergi ke toko buku dan membeli Al-Qur’an. Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris, tanpa bahasa Arab. Dengan penuh kedongkolan dan pandangan hina, saya mulai membaca. Bacaan pertama adalah:

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan.
Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apa ini! Saya sangat terkejut dengan apa yang saya baca. Saya pikir saya akan membaca tentang seruan untuk membunuh orang-orang kristen atas nama Tuhan yang lain atau sesuatu hal yang lain. Di mana pernyataan-pernyataan keras dan seruan-seruan untuk memerangi Amerika? Bacaan ini seperti doa yang sering saya baca, karena itu saya lanjutkan untuk membaca.

Setelah saya membaca banyak, saya berlajar banyak hal, seperti Tuhan itu tunggal, perang hanya diwajibkan untuk mempertahan diri terhadap penyerangan, menghargai agama lain dan tempat ibadah lain, muslim percaya kepada Nabi Isa (Yesus). Saya sangat terkejut bahwa ada orang lain di seberang sana yang percaya kepada Yesus (Isa). Dengan kata lain, saya tak menemukan apa pun yang saya harapkan, saya tak temukan para begundal dengan senjata api di tangan yang disebutkan di dalamnya. Kekerasan-kekerasan yang saya temukan hanyalah kisah-kisah tentang kaum terdahulu. Saya malah banyak menemukan seruan tentang kesabaran, shalat, dan keseimbangan. Al-Qur’an bukan murni buku tentang sejarah meski ada berbagai kisah sejarah di dalamnya. Al-Qur’an juga bukan murni buku yang berisikan dogma-dogma, meski tersemat dogma-dogma di dalamnya. Bagi saya, hal luar biasa yang saya temukan adalah ketika membaca Al-Qur’an, “pengarang” seolah berbicara secara langsung kepada saya, bukan melalui perantara orang ketiga atau keempat. Setiap pertanyaan yang saya tanyakan pasti ada jawabannya dan setiap jawaban yang diberikan selalu ada pertanyaan balik kepada saya. 

Kitab itu memaksa saya untuk berpikir, menantang saya, dan memberi bukti kepada saya. Inilah buku tentang bukti, inilah buku tentang diskusi. Kitab ini membuat keinginan saya lebih kuat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Tentu saja hal ini menyulitkan saya pada mulanya. Emosi mulai mereda. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan, namun saya menyadari satu hal: saya percaya dengan ayat-ayat ini dan ingin menjadi bagian dari pemeluknya. Yang pasti, para begundal yang telah menyerang Amerikan tak mungkin membaca buku yang sama seperti yang saya baca. Pasti kami membaca dua buku yang berbeda. 

Saya mulai tak peduli lagi dengan para begundal yang telah menyerang Amerika dan malah semakin terkagum-kagum dengan isi dari Al-Qur’an. Sementara mereka (para begundal) sibuk dengan pembunuhan dan kekerasan, saya memperoleh ketenangan akan cinta Tuhan, manusia, dan perdamaian. Hingga saya percaya bahwa orang yang tidak memercayai seperti apa yang saya percayai akan dimasukkan ke dalam neraka. Sekarang barulah saya bisa merasa adanya kesatuan iman. Saya percaya bahwa setiap manusia diperintah untuk menyembah Tuhan dan Tuhan mencintai setiap insan, bukan hanya kelompok pilihan. 

Karena semua yang saya baca ini membuat pondasi keimanan (kristen) saya menjadi goyah, saya mencoba mendiskusikannya dengan keluarga dan pastur, kakek saya. Saya berharap dia akan membersihkan pikiran saya dan akan mengatakan kepada saya bahwa setan telah membuat bingung jalan saya. Namun sebaliknya, dia malah mengatakan bahwa ia percaya bahwa Islam juga berada di jalan yang sama seperti Yahudi dan Kristiani. Ia percaya bahwa ketiganya memiliki sumber yang sama dan bermuara pada satu hal yang sama. Ia berkata bahwa meskipun keluarga Ibrohim alaihissalam tidak selalu setuju dengan banyak hal, ketiganya tetaplah satu keluarga. Pada saat itu saya sadar bahwa jalan pikiran baru ini bukan sebuah halangan atau jalan setan yang menyesatkan, namun sebuah jalan baru bagi saya untuk menuju Tuhan. 

Peristiwa ini terjadi di minggu-minggu 9 Oktober. Bayangkan bertapa terkejutnya orang-orang, ketika saya beri tahu bahwa saya telah memeluk Agama Islam. Bayangkan betapa mengejutkannya, ketika saya mengubah tanda pengenal saya dari kristen ke Islam. Banyak yang tak menerima kenyataan itu, bahkan hingga sekarang, mereka tetap menentang. Tapi begitulah keyakinan. Kita kadang tak punya banyak kuasa ketika kita ingin memercayai sesuatu. Jika kita benar-benar yakin, kita akan sanggup melewati segala rintangan yang ada. 

Dan berbicara tentang apa yang telah saya alami setelah memeluk Islam, saya telah banyak menceritakannya. Saya dikatai seorang naif, penghianat, penipu, dan sebagainya. Saya sering dikatakan sebagai seorang yang tak pernah memeluk kristen atau bukan seorang kristen yang baik. Saya banyak ditanya bagaimana saya bisa berubah menjadi musuh agama (kristen) sementara negara sedang dalam bahaya. Hingga pangabdian dan kesetiaan saya sering dipertanyakan.  

Permasalahannya adalah banyak orang tidak bisa atau tidak mau memisahkan agama dari pekerjaan yang dilakoni seseorang, kecuali tentu saja mereka selalu berpikir agama adalah kristen atau yahudi, selain itu adalah kekonyolan. 

Tidak mengapa, karena saya mengabdi selama 3 tahun di Marine sebagai seorang muslim. Tidak mengapa, karena saya telah bekerja di negeri besar ini sebagai seorang muslim. Tidak mengapa, karena saya telah bekerja dan mengabdi di Marine Corps, di sebuah lembaga yang orang Amerika lain hanya bisa bermimpi untuk berada di dalamnya, di sebuah lembaga yang orang lain hanya bisa melihatnya dari luar dan bahkan banyak orang belum tahu keberadaannya. Semua itu saya saya jalani setelah saya menjadi muslim!

Tetapi saya sangat menyayangkan, setelah beberapa tahun berlalu, tak banyak yang berubah. Banyak orang masih membenci Islam dan muslim dan banyak muslim yang masih mempertahankan imannya, dan masih banyak muslim yang melakukan aksi-aksi yang bisa menyulut api kebencian. 

Saya hanya berdoa pada hari perenungan ini, bahwa kita sebagai orang Amerika, bahwa kita sebagai manusia harus mulai banyak merenung tentang persamaan kita dan kemudian perbedaan kita. Saya berdoa, bahwa suatu hari nanti kita akan mampu mengatasi prasangka buruk dan kebodohan kita, dan belajar untuk bekerja bersama. Saya berdoa bahwa suatu hari nanti kita bisa bekerja bersama untuk menghancurkan radikalisme dan ekstremisme dalam segala bentuknya. Saya berdoa bahwa suatu hari nanti kita bisa sadar bahwa perbedaan kita ini bukan hanya merupakan bukti kebesaran Tuhan, namun juga akan memberikan kita alasan dan dorongan untuk mengenal satu sama lain. 

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Al-Hujurat:13).

Robert Salaam


Monday, 29 December 2014

, , , , , , ,

Saya Temukan Cinta Sesungguhnya Dalam Islam


Assalamualaikum. Saya merasa tersanjung untuk berbagi kisah saya masuk Islam.

Nama saya Fatimah Clarisse. Saya seorang perawat dan telah bercerai tanpa memiliki anak dari pernikahan saya sebelumnya. Saya beruntung sekali karena bisa diberi kesempatan bekerja di salah satu rumah sakit besar di Riyadh, Arab Saudi. Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga kristen.

Ketika di Riyadh, saya bertemu dengan banyak orang yang kebanyakan adalah muslim. Rasa ingin tahu saya besar sekali terhadap Islam. Saya menyaksikan sendiri dan kagum betapa diberkahinya masyarakat Riyadh. Ketika suara azan dikumandangkan, saya selalu merasakan perasaan yang begitu dalam dan tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Keinginan saya untuk belajar Islam meningkat hari demi hari, terutama untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Saya sering berdiskusi dengan orang Islam untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Saya sering berdoa, agar jika Tuhan memang menakdirkan saya untuk terus belajar Islam, Tuhan akan mengirimkan seseorang yang akan mengajarkan saya Islam dan menjadi pemimpin hidup saya agar lebih baik.

Sungguh, Allah memberikan takdir yang tak disangka-sangka. Allah mengirimkan Ali, seorang lelaki baik kepada saya. Ali adalah lelaki yang sangat berpengaruh dalam saya meniti jalan menuju Islam. Dia mengajari saya setiap hari, tentang Islam, misalkan, bagaimana menjadi muslim yang baik. Darinya, saya menemukan keindahan Al-Qur’an dan membuat saya yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Ali membuat saya mengerti tentang 5 rukun Islam dan cara shalat lima waktu. Hingga akhirnya saya mengerti bahwa dalam kehidupan ini selalu ada tujuan dan akhirnya saya sadari betapa Allah menyayangi saya karena telah mengirim saya ke Riyadh untuk menemukan Islam. Bahkan tak hanya itu, Allah juga menyadarkan saya tentang arti cinta yang sesungguhnya. Ali membuat saya selalu berpikir dan merenungkan kembali masa lalu saya. Dia membuat saya sadar betapa beruntungnya diri saya karena Allah masih menyayangi saya dengan menuntun saya kepada jalan kehidupan baru dan lebih baik yang InsyaAllah akan membawa saya kepada surga-Nya.

Di 7 Juni 2011, Ali membawa saya ke sebuah Islamic Senter di Riyadh, di mana akhirnya saya masuk Islam dengan penuh kesadaran dan keyakinan. Ketika saya mengikrarkan syahadatain, saya merasa seluruh kesakitan dan kepiluan dalam hidup saya sirna dan digantikan oleh cinta dan kedamaian dari Allah. Saya sangat bahagia saat itu. Setelah itu ramadhan datang dan saya bersyukur bisa merasakan keberkahan bulan itu untuk pertama kali. Saya juga bisa pergi berumroh dan mengunjungi Makkah dan Madinah. Itulah hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya, semua doa saya dijawab oleh Allah.

Setelah memeluk Islam, Allah memberikan saya hadiah yang besar -Ali akan menikahi saya, dan ia juga berkata bahwa Imam di Islamic Senter juga menyambut baik rencanya. Tangis saya pecah, bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan, karena bukan hanya Allah telah memberikan ksempatan kedua untuk hidup lebih baik, teapi Allah juga memberikan saya cinta. Cinta murni yang dibangun atas dasar kepercayaan dan dikuatkan oleh kecintaan kami kepada Allah sebagai dasar hubungan saya dan Ali.

Setelah masuk Islam, hidup saya juga diterpa ujian. Hubungan saya dan Ali diuji oleh Allah. Saya telah mengajukan proses perpindahan ke Amerika, tetapi saya harus pergi dahulu sebelum Ali, karena itu saya tak bisa menikah. Saya tak ingin meninggalkan Ali. Dan inilah yang Allah takdirkan kepada kami. Allah menginginkan saya pergi terlebih dahulu kemudian Ali akan menyusul InsyaAllah. Dan akhirnya kami akan menikah, memulai hidup baru, mewujutkan mimpi kami untuk membagi dan menyebarkan risalah Islam kepada semua orang. Saya berusaha untuk istiqomah dalam memegang agama di Amerika. Saya belum memiliki banyak kawan muslim. Kecintaan dan keyakinan kepada Allah menjadi penguat untuk saya dalam menempuh jalan Islam di sini. Meskipun jauh, Ali selalu mendukung saya. Kami percaya kepada Allah bahwa suatu hari kami akan bersatu dan akan mampu mewujutkan mimpi dan misi kami, InsyaAllah!

Saya berharap kisah saya bisa menginspirasi semua orang untuk mendekatkan kepada Islam. Terima kasih.

Fatimah Clarisse


Tuesday, 25 November 2014

, , , , , , ,

Dari Kristen Rasis Menuju Islam



Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Marc dan beginilah kisah saya masuk Islam

Perjalanan saya menuju Islam, boleh dikatakan, tak biasa. Sebagian besar mualaf yang telah saya temui berasal dari latar belakang liberal dan paham-paham lain yang cukup terbuka. Latar belakang saya jauh dari itu semua. Kedua orang tua saya adalah anggota militer Amerika sehingga mendidik saya begitu keras. Ayah saya sangat rasis, karena itu, saya juga tumbuh dengan pemahaman rasis hingga berumur 24 tahun. Saya ingat, ketika kecil saya sering mendengar ayah mencerca dan menyerang orang-orang arab, muslim, agama mereka, cara hidup mereka, dan ras mereka. Karena ini merupakan ajaran yang ditumbuhkembangkan dalam hidup saya, akhirnya saya juga bersikap demikian. Masa kecil saya sangat bermasalah, sebagaimana akan saya ceritakan selanjutnya.

Ayah saya seorang pemabuk dan seorang yang sangat kasar. Saya tumbuh dalam ketakutan permanen akan kekerasan terhadap diri saya, ibu, dan saudara-saudara saya. Karena saya tumbuh dalam latar belakang semacam itu, sangat maklum jika saya mencari orang-orang yang bisa menggantikan kehidupan yang tak saya dapat dari keluarga. Namun masalah selanjutnya muncul: saya mendapatkan kawan-kawan yang sangat buruk.

Selama beberapa tahun saya bergabung dengan kelompok rasis radikal. Meski sebenarnya, saya tak pernah merasa tenang dengan jalan hidup seperti ini. Namun saya senang karena menjadi pemimpin yang disegani. Ketika itu, saya terkenal dan ditakuti oleh orang-orang di kota lahir saya. Kerinduan saya akan keluarga dan kawan-kawan tak menghilangkan benih-benih kebencian dalam hati. Saya tak pernah sadar bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kekeliruan besar dan ketidakadilan yang nyata. Ketika berumur 16 tahun, kawan karib saya yang seorang Mexiko pernah bertanya kepada saya,”Mengapa kamu berkumpul dengan orang-orang jahat, kamu lebih baik keitimbang mereka.” Dia benar. Tapi ada bagian dari diri saya yang, meskipun saya sangat membenci ayah saya dengan apa yang telah ia lakukan kepada keluarga saya, tapi saya ingin menjadi seperti ayah. Itulah sikap rasis dan kebencian saya bermula. Kondisi semakin buruk, ketika saya dipaksa pergi dari rumah. Saya pikir inilah yang mengunci kemungkinan Islam bisa masuk dalam kehidupan saya. Jauh dari ayah saya, kebencian yang saya rasakan, dan memahami dunia dan masyarakat dengan cara saya sendiri.

Selama beberapa tahun saya menjalani kehidupan yang berat dan saya melanjutkan kehidupan seperti itu. Saya sering mabuk, memakai narkoba, dan mendapat masalah serius dengan hukum negara. Orang-orang yang saya cari untuk bisa menggantikan keberadaan keluarga saya adalah orang-orang yang paling buruk perangainya; kekerasan, tak jujur, dan tak pernah bisa dipercaya. Itulah pertama kalinya saya bisa merasakan hidup tanpa figur seorang ayah yang selama ini membayang-bayangi hidup saya.

Saya mulai sadar, kebohongan ini berasal dari lingkungan tempat saya bernaung. Saya mulai bisa melihat kebenaran, betapa hidup saya telah hancur. Inilah titik balik, di mana saya mulai mempertanyakan setiap sisi kehidupan saya, termasuk spiritual saya. Saya mulai mengambil sikap, bahwa seluruh kehidupan saya telah terjangkit keburukan dan harus ditata ulang. 

Kesenangan saya dalam membaca membuat saya memiliki perpustakaan kecil, yang kini berisi hampir seribu buku, mulai buku-buku tentang Kant, Ramadhan, hingga kata-kata bijak Edward. Saya memiliki pacar waktu itu, yang kemudian saya nikahi. Ia juga aktiv dalam kelompok rasis yang saya ikuti. Selalu ada kekhawatiran dalam diri saya jika ia akan merasa tersinggung dengan pemikiran baru yang saya miliki. Saya jadi pecandu buku dan saya selalu membaca buku di mana pun berada selama beberapa tahun.

Selama peristiwa Intifada bergejolak di Palestina, ayah saya, sebagai orang yang rasis dan antiorang arab dan yahudi, ia sangat mendukung ekspansi Israel. Saya pikir, ia memang membenci yahudi dan orang-orang nonputih, tetapi kebenciannya terhadap arab melebihi kebenciannya terhadap yahudi, karena itulah ia mendukung yahudi-israel. Ketika saya melakukan pemikiran ulang tentang apa yang saya pelajari di masa muda dulu, saya memutuskan untuk lebih mendalami kecamuk yang terjadi di Timur Tengah. Saya mulai membaca buku-buku umum yang membahas sejarah Timur Tengah dan politik nasional di sana. Lagi-lagi saya menemukan kesulitan dalam mempelajari itu, karena saya tidak paham soal Islam. Ketika kecil dulu saya sering datang ke Gereja, namun tidak memiliki dasar keinginan yang kuat untuk menengok agama lain.

Ayah saya memiliki kebencian yang kuat terhadap Islam, sehingga ketika berusia belasan tahun saya juga membenci Islam dan menyebarkan kebencian itu tanpa memiliki alasan yang kuat dan tanpa mengetahui ajaran Islam yang sesungguhnya serta bagaimana muslim memahami Islam. Kebencian itu terus tertanam dalam pikiran, bahkan tanpa pernah menemui seorang muslim sekali pun. Oleh karena itu, saya mulai mempelajari Islam; ajaran dan sejarahnya. Masa itu bertepatan ketika internet mulai populer, sehingga saya mencari sumber-sumber dari buku-buku dan internet untuk membantu saya memahami Islam. Saat itu saya tinggal di Washington dan tidak mengetahui komunitas muslim di sana, sehingga tak seorang muslim pun yang bisa saya ajak diskusi. 

Setelah itu, istri saya berpindah kerja ke London, sehingga mengubah rencana yang telah saya rancang. Ketika berada di London, ketertarikan saya beralih sejenak. Saya berada di negara baru dengan sejarahnya yang panjang, sehingga selama beberapa tahun saya menghabiskan waktu untuk menjelajahi sejarah dan daerah-daerah di Eropa. Seiring berjalannya waktu, saya tertarik kembali untuk mempelajari Timur Tengah dan situasi politik di sana. Saya berada di negara di mana komunitas muslim terbentuk dengan apik, meski di kota tempat saya tinggal tidak ada komunitas muslim. Saya mulai membaca tentang Islam: keyakinan, ideologi, dan sejarahnya.

Saya juga mulai membaca Al-Qur’an. Saya terkejut dengan informasi pertama yang saya dapatkan: Al-Qur’an memberikan jawaban atas keraguan saya terhadap agama yang saya peluk sejak kecil. Saya selalu bertanya-tanya tentang ajaran bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dari apa yang telah saya baca saya akhirnya tahu bahwa kepercayaan ini berasal dari agama berhala: Zeus, Odin, dan agama-agama berhala lain yang percaya bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dalam ajaran Odin, pengikutnya percaya bahwa Odin menempel di sebuah pohon, hampir sama dengan pemeluk Kristen yang percaya bahwa Yesus menempel di sebuah salib. Odinis, nama bagi pengikut agama kuno dari Eropa Utara ini, juga meyakni trinitas: tuhan bapa sebagai Odin, anak laki-lakinya bernama Thor, dan istrinya bernama Freja. Dengan ini menjadi jelas, inovasi yang dilakukan orang-orang kristen tidak berdasar dari Tuhan, melainkan berasal dari agama berhala yang ada sebelumnya. Saya juga merasa betapa Tuhan bisa begitu tak adil karena menjadikan manusia menanggung dosa yang dilakukan orang lain yang telah mati ribuan tahun silam. Hal ini menurut saya terasa tak adil. Akhirnya saya mengerti konsep dasar ketuhanan; bahwa Tuhan tak mungkin berlaku tak adil. Itulah perkara dosa asli atau dosa turunan yang selama bertahun-tahun membuat saya bertanya-tanya akan keabsahannya.

Saya selalu merasa bahwa ajaran Kristen tak memiliki jawaban tentang perkara tersebut dan jika mereka menjawab, jawabannya hanya akan memperkuat posisi ketidakadilan tersebut. Saya mencoba mempelajari ajaran Yahudi, namun ajaran Yahudi memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawabannya. Sikap mereka terhadap para nabi sungguh tak bisa diterima. Kitab suci mereka mendakwa manusia-manusia ini yang telah melakukan kerusakan besar. Saya menolak meyakini bahwa Tuhan memilih manusia-manusia ini untuk dijadikan pemimpin di bumi ini. Jika ajaran Yahudi seperti ini, bagaimana saya bisa memercayai dan mencari petunjuk melalui agama semacam ini? Dengan ini telah jelas betapa Islam menjawab seluruh keraguan dalam perkara ini.

Islam menjelaskan kebingungan terhadap kebohongan trinitas dan menerangkan dengan jelas peran Yesus (Isa) alaihissalam sebagai nabi, bukan sebagai anak Tuhan. Islam menghormati seluruh nabi alaihisalam jami'an dan mengenal mereka sebagai manusia-manusia pilihan Tuhan. Dengan Islam, saya temukan jawaban dari seluruh permasalahan dan pertanyaan saya selama ini, juga masa depan manusia. Masalah terbesar saya selanjutnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Islam ke dalam kehidupan saya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya memiliki istri yang juga anggota kelompok rasis radikal. Dia tak memiliki bayak waktu untuk berdiskusi dengan saya soal ketertarikan saya dengan hal-hal ini; Islam maupun politik Timur Tengah.

Saya sadar jalan yang saya butuhkan untuk menempuh jalan hidup baru tak mudah ditempuh. Akhirnya telah tiba saatnya, saya menyadari bahwa saya tak akan bisa menerapkan ajaran Islam jika tetap bersama istri saya. Karena itu kami berpisah. 

Sebelum saya meninggalkan Inggris, saya pergi ke sebuah masjid dengan seorang laki-laki lebanon untuk mengikrarkan syahadatain. Ketika saya berpisah dengan mantan istri saya, saya dipaksa untuk segera meninggalkan Inggris. Saya senang tinggal di Inggris, karena kesempatan untuk mempelajari Islam lebih banyak. Tapi Alhamdulillah, Allah telah menentukan jalan saya untuk kembali ke Amerika dan saya bisa mengambil hikmah yang besar dari peristiwa itu.

Dengan cepat saya mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah Amerika di Alaska. Tentu saja, tak banyak komunitas muslim di Alaska. Hanya ada dua komunitas muslim di pusat kota Anchorage dan Fairbank. Sementara tempat saya bekerja jauh dari dua kota tersebut. Karena itu saya memilih untuk mempelajari Islam lewat buku-buku dan internet. 

Saya sering ke Wahington DC. Saya bergabung dengan komunitas muslim di sana. Saat itulah saya mulai berpikir untuk menikah. Saya sedikit kawatir dengan keadaan saya: seorang mualaf. Saya tahu orang-orang muslim berasal dari berbagai latar belakang etnik, karena itu mungkin mereka tidak akan memperbolehkan anak perempuannya dinikahi seorang mualaf Amerika berkulit putih. Hal ini lebih buruk lagi karena saya memiliki tato yang saya dapatkan ketika berusia remaja. Karena itulah saya tak yakin akan memperoleh seorang muslimah dan keluarganya akan menerima saya apa adanya.

Seorang kawan baru memberi informasi bahwa ada seorang muslimah yang sedang mencari pendamping hidup. Kemudian ia memberikan nomor teleponnya kepada saya. Ketika pulang kerja, saya mencoba menghubunginya, tapi ia tidak berada di rumah, sehingga saya hanya meninggalkan pesan. Hari berikutnya saya menghubunginya dan kami berbicara selama beberapa jam. Kami bertukar alamat email dan selama tiga hari berikutnya kami berbicara selama berjam-jam. Saya mengantuk sekali setelah itu, bahkan saya tertidur di tempat kerja. Kami berbicara banyak hal tentang apa pun yang berkaitan dengan bagaimana membangun pernikahan yang sukses. Saat itu saya telah melihat bahwa banyak persamaan antara kami berdua yang seluruhnya berporos pada penghambaan kami kepada Allah. Saya memiliki feeling dengannya, bahwa ia sangat berarti bagi saya.

Ia seorang muslimah yang taat dan memiliki ilmu agama yang banyak sehingga bisa mengajari saya. Tak hanya bisa mengajari saya ilmu agama, ia juga bisa mengajari saya bahasa Arab, karena ia memang berasal dari Arab. Kami berbicara lewat telepon dan email selama beberapa bulan. Berbicara lewat telepon dan email memang sangat menyenangkan, tapi kami sadar kami harus bertatap muka langsung untuk memperoleh kecocokan secara langsung. Selalu tanamkan ajaran Islam pada diri, bahwa yang kami lakukan untuk membuat semuanya halal dan tepat berada pada tempatnya.

Dengan persetujuan keluarganya, saya memutuskan akan berkunjung ke rumahnya di bulan Ramadhan agar bisa berbuka bersama dengan seluruh keluarganya. Saya sangat gugup dan saya memiliki alasan yang jelas untuk itu. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya dan pastinya anda sadar; calon istri saya dan keluarganya adalah orang asli Arab. Sementara saya adalah orang yang selama ini rasis dan memiliki masalah dengan perbedaan budaya dan kini saya akan bertemu dengan calon istri dan keluarganya yang notabene berasal dari Arab. Dengan berbekal tawakal dan kerongkongan yang terasa tercekat saya mempersiapkan pertemuan dengan perempuan mengagumkan ini dan keluarganya yang terlihat menakutkan bagi saya. Saya tiba di Washington DC tepat sebelum matahari tenggelam. Dengan membawa tas, saya menunggu taxi lewat. Hingga datanglah sebuah taxi dan saya menaikinya.

Di depan stir, seorang sopir taxi mengenakan gutra merah bercorak petak-petak dan sorban Arab di kepala. Ketika berada di dalam, saya mengucapkan salam,”Assalamualaikum.” Dan ia membalas salam saya. Matahari telah tenggelam, saya lihat ia berbuka dengan sebutir kurma. Ia bertanya,”Apakah anda berpuasa?” “Ya” jawab saya. Kemudian ia menawarkan kurma kepada saya. Saya kira laki-laki tua ini asli Afganistan. Saya pikir ini pertanda baik bagi saya.

Setelah meletakkan barang-barang di hotel, saya bergegas menuju rumah keluarga calon istri saya. Saya membawa kurma dan parfum sebagai hadiah. Setelah keluar dari taxi, saya berjalan mantap hingga ke depan pintu rumah. “Bismillah” ucap saya dalam hati. Saya yakin Allah memilihkan yang terbaik untuk saya. Gambaran-gambaran adegan setelah ini berputar-putar dalam pikiran saya: ia akan menyukai saya namun keluarganya akan menolak saya mentah-mentah atau keluarganya tak akan keberatan tapi ia tak tertarik dengan saya. Bagaimana jika mereka menyukai saya namun saya tak menyukai mereka? Jarak 10 meter dari pintu rumah itu terasa seperti 10 mil. Begitu lama.

Akhirnya saya tiba di depan pintu rumah itu dan segera memencet bel. Saya rasa seluruh isi rumah menjawab panggilan saya: orang tua, orang-orang seusia saya, laki-laki, perempuan, dan semuanya. Dengan hangat mereka semua menyambut kedatangan saya. Alhamdulillah, semua kekhawatiran saya telah sirna. Mereka cepat akrab dengan saya. Setelah berbincang saat makan malam, akhirnya semuanya jelas: kami telah merasa serasi.

Di bulan Januari kami melangsungkan pernikahan di hadapan kawan dan keluarga. Bulan madu kami sangat menyenangkan. Kemudian saya kembali ke Alaska untuk menyelesaikan pekerjaan hingga akhir April. Setelah selesai, saya pindah ke Washington DC dan bekerja di cabang perusahaan saya di sini. Saya sudah sekitar dua tahun di sini. Ini sangat mengagumkan. SubhanaAllah, bagaimana Allah menuntun saya dari seorang kafir yang tinggal di sebuah rumah yang penuh kebencian hingga menuju Islam. 

Sekilas, tampak memang saya tak diberikan sosok ayah dalam hidup saya oleh Allah, tapi itu bukan masalah buat saya. Allah selalu mengawasi saya. Dia menuntun saya melewati setiap bahaya dan masa-masa pahit untuk menjadi seorang lelaki sejati dan seorang muslim. Orang-orang mengatakan keajaiban tak pernah datang sekarang, tapi kisah saya membuktikan kata-kata itu salah.


Tuesday, 28 October 2014

, , , , , ,

Alahamdulillah, Akhirnya Saya Menemukan Islam


Nama Anne, usia 29 tahun, dan tinggal di Otario, Kanada. Sekitar tujuh tahun yang lalu saya masuk Islam. Saya lepas dari keluarga saya ketika berusia 22 tahun dan tinggal di tempat baru seorang diri. Saya merasakan tekanan jiwa yang begitu hebat selama itu. Saya mencoba menemukan diri saya dan memahami tujuan hidup yang sesungguhnya.

Saya memutuskan untuk mulai membaca Injil. Sejujurnya, sebelum ini saya tak pernah meluangkan waktu untuk sekadar membaca Injil. Selama saya membaca, saya tak bisa memahami isi kandungan Injil, sehingga membuat hati saya ciut. Suatu ketika, beberapa kawan berkunjung ke rumah saya. Setelah beberapa lama, mereka berkata bahwa mereka ingin shalat. Ketika mereka melakukan shalat, saya melihat mereka dan dalam batin saya berkata, saya tak paham dengan apa yang mereka kerjakan. Karena itu, setelah mereka selesai shalat, saya bertanya kepada mereka tentang apa yang baru saja mereka lakukan. Kemudian mereka menjelaskan bahwa mereka adalah muslim. Jujur saja, saya belum pernah mendengar tentang Islam hingga hari itu. Mereka memberikan saran kepada saya untuk membaca Al-Qur’an agar saya mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap.

Di hari berikutnya, saya pergi ke toko buku untuk membeli muskhaf Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris dan meminjam sejumlah buku tentang Islam kepada kawan saya. Saya mulai membaca semua buku-buku itu sendiri sepanjang hari. Setiap kali saya membaca Al-Qur’an saya akan menangis karena selalu ada perasaan berbeda. Hati saya terasa berisi karena kalam-kalam yang saya baca begitu menyentuh hati saya. Kandungan Al-Qur’an begitu mudah dipahami dan kemudian saya sadari bahwa inilah yang selama ini hilang dari saya. Dan saya memiliki niatan untuk masuk Islam. Perasaan bahagia ini menggetarkan jiwa saya. Dua minggu kemudian, saya mengikrarkan syahadatain dan itulah hari terbaik saya.

Saya mulai melakukan shalat. Saya berpuasa senin-kamis karena saya membaca bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam terbiasa berpuasa pada dua hari itu. Saya menemukan grup online yang mewadahi para muallaf yang kantornya berada di daerah saya. Saya bertemu orang-orang yang begitu mengagumkan, terbuka, baik, dan peduli. Menjadi seorang muslim membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dan ini adalah hadiah yang lebih baik daripada hadiah-hadiah yang ada di dunia.

Nasehat saya kepada para mualaf, agar selalu masuk ke dalam komunitas muslim dan selalu mencoba tetap berhubungan dengan mualaf lain. Penting untuk kalian tetap berada dalam lingkungan Islami agar mendapatkan ilmu dan menambah keimanan. Kalian pasti merasakan masa-masa sulit karena saya sendiri merasakannya, tetapi bersabarlah, karena Allah tengah memberi hikmah di balik semua itu.

Insya Allah Hadith of the Day membantu saya dengan selalu memberikan semangat berislam setiap kali saya membaca tulisan-tulisan yang diposkan dan juga mengajari berbagai hal yang belum saya mengerti.

Anne Marie

Sunday, 26 October 2014

, , , , ,

Subhanaallah, Islam Memberi Segala yang Dicari Perempuan Tunanetera Ini


Nama saya Aisha, lahir di Sanford, Florida di tahun 1990, dalam keadaan tunanetra. Saat berumur sekitar 2 tahun, saya mulai tinggal bersama nenek di Las Vegas. Saya tumbuh dalam keluarga yang tak agamis. Saya tinggal bersamanya hingga ia meninggal dunia ketika usia saya menginjak 20 tahun. 


Saya tak memiliki saudara. Saya tak bisa tinggal bersama ibu karena beliau seorang bramacorah dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang. 



Tumbuh sebagai tunanetra membuat nenek saya selalu mengajari saya untuk menjadi pribadi yang kuat, lakukan apa yang ingin dilakukan, gapailah cita-cita, dan jangan biarkan apa pun masuk dalam hidupmu. Dulu saya bersekolah di Kompleks Gereja Unitari, di mana saya akan bertemu banyak teman dan bersuka ria. Hari libur, seperti hari Paskah dan Natal adalah hari-hari di mana saya dulu bersuka ria, mendapatkan banyak hadiah, dan makan banyak permen. 



Ketika kira-kira umur saya menginjak 10 tahun, nenek saya menyekolahkan saya di sekolah terbaik bagi penyandang tunanetra di daerah itu, sehingga kami harus pindah ke Jalan Augustine, FL di mana Florida School (sekolah bagi penyandang tunarungu dan netra) berada. 



Setelah lama bersekolah di sana, saya menjadi bintang lapangan dalam olah raga Goal Ball. Goal Ball adalah olah raga bagi penyandang tunanetra, setiap tim terdiri atas tiga pemain dan dimainkan di dalam sebuah lapangan basket. Dipermukaan lapangan dipasangi pita dengan benang yang membentang, sehingga setiap pemain dapat merasakan satu sama lain, dan di dalam bola terdapat lonceng. Tujuan permainan itu adalah memasukkan bola ke gawang dan menjaga gawang bagi tim lain.



Suatu hari, seorang gadis muslim datang ke sekolah kami selama beberapa waktu, tapi hal itu tak pernah membuat saya lantas menerimanya. Kami selalu mengejek suara dan cara dia berbicara. Ada juga seorang anak laki-laki muslim yang bersekolah di sana yang kemudian pindah ke Mesir. 



Desember 2007, nenek saya mengajak saya dan teman saya berwisata ke Eropa. Perjalanan wisata tersebut juga memuat paket perjalanan ke Maroko. Saya rasa Maroko sangat mengagumkan. Bahasa Arabnya membangkitkan minat saya, masyarakatnya begitu santun, dan makanannya sangat enak. 



Pemandu perjalanan memperkenalkan dirinya bernama Ali. Saya sangat tertarik ketika ia mengatakan Allah dan apa artinya? Saya bertanya-tanya. Ia menerangkan kepada saya bahwa ia seorang muslim dan Allah adalah Tuhan dan ia menyembah-Nya. Tak ada Tuhan selain-Nya dan Muhammad adalah utusan-Nya. 



Namun hal itu tidak terlalu menarik hati saya hingga saya kembali ke Amerika dan memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang seorang perempuan Arab yang dipermainkan oleh suaminya. Untuk menciptakan alur cerita yang natural, saya harus mempelajari Islam karena dulu saya pikir Islamlah yang memperlakukan perempuan dengan sangat buruk. Saya melakukan riset tentang pakaian, bahasa, apa yang sering dikenakan laki-laki dan perempuan Islam, mengapa perempuan mengenakan pakaian seperti itu, dan tentunya berbagai hal tentang Islam. 



Selama beberapa tahun saya menghentikan penulisan cerita itu untuk mempelajari Islam. Dan saya begitu takjub dengan apa yang saya temukan. Segala hal dalam Islam tak ada yang bertentangan dengan logika. Kita beribadah hanya kepada Allah dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasul terakhir. Saat itu, akhirnya saya tahu bahwa Yesus berdiri di atas kebenaran Islam, karena meskipun saya tidak berasal dari keluarga agamis, saya masih tetap berdoa kepadanya. Namun ketika saya mengetahui bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah rasul Allah, hal itu meningkatkan spiritual saya. Segalanya masuk akal. Setiap kali saya membaca tentang Islam, selalu ada yang mendorong saya untuk terus mendekat dan mendekat, seolah-olah saya sedang berada di sebuah pesawat yang terbang jauh dan hampir mendarat ke tempat tujuan. Rasanya seperti ada yang menarik saya keluar pesawat yang saya tumpangi dengan meloncat keluar. 



Suatu ketika, seorang perempuan berbincang dengan saya tentang anaknya yang tiba-tiba masuk Islam. Perempuan ini penganut ajaran Katolik yang kuat, sehingga memiliki pandangan bahwa segala tentang Islam adalah salah dan bisa dibayangkan betapa ia membenci anaknya itu. Saya memutuskan untuk mengunjungi anaknya. Ketika berada di dalam rumahnya, saya menanyakan pertanyaan mendasar tentang Islam, meskipun saya sebenarnya telah mengetahui jawabannya, namun saya ingin mendengar langsung jawaban dari seorang muslim, tidak hanya mengetahui jawaban seperti yang selama ini saya baca di berbagai artikel dan internet. Dan ternyata jawabannya sama seperti yang telah saya ketahui dan bahkan ia menambahkan beberapa informasi. Selama beberapa minggu, saya menemuinya di perpustakaan dan ia juga memberikan beberapa CD tentang Islam. 



Suatu hari, ketika saya berkunjung ke rumah paman saya bersama nenek saya di New Jersey, lima hari sebelum hari Natal, saya bangun di pagi hari dengan sebuah perasaan berbeda. Saya menelpon teman saya dan berkata bahwa saya ingin masuk Islam. Mendengar hal itu, ia sangat gembira, namun kemudian ia mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan bahwa saya telah benar-benar paham dengan apa yang akan saya lakukan. Setelah saya menjawab dengan mantap, ia pun menuntun saya mengikrarkan syahadatain dan akhirnya saya masuk Islam. Setelah itu, saya merasa begitu bahagia dan merinding di sekujur tubuh. Kemudian saya mandi, namun perasaan itu benar-benar tak mau hilang. 



Saya sedikit ragu untuk mengabarkan hal ini kepada nenek saya. Namun saya putuskan untuk memberitahunya. Awalnya ia agak takut dengan apa yang saya lakukan, ia mengira saya telah melakukan tindakan keliru, namun saya berikan kepadanya beberapa artikel untuk ia baca dan setelah itu ia bisa menerima. Di bulan Januari, saya bertemu muslimah lain yang kemudian memberikan saya hijab dan mengajari saya shalat. Saat itu saya telah terbiasa memakai blus dan rok panjang. Saya sedikit takut untuk berangkat ke sekolah setelah itu, karena saya bakal jadi satu-satunya muslim di sekolah. Namun saya beranikan untuk tetap datang dan hasilnya beberapa orang menjauh dari saya, namun saya memperoleh begitu banyak pengalaman. 



Alhadulillah, telah 4 tahun saya menjadi muslimah. Meskipun berbagai rintangan telah menghampiri saya, seperti muslim lainnya, hal itu malah membuat keimanan saya semakin kokoh. Dan sekarang saya telah memakai niqab dan saya rasa hidup saya telah sempurna. Saya berusaha untuk menyebarkan risalah Islam. Mencoba menyadarkan kepada yang lain betapa indahnya Islam dan kebahagiaan yang bakal terperoleh setelah masuk Islam. 



Saya percaya, Islam telah menyelamatkan saya dari kehidupan yang saya pilih. Allah itu Maha Penyayang dan betapa tak sadar kita telah sering menyianyiakan ini. Kita harus yakin bahwa Allah selalu bersama kita di mana pun kita berada dan Dia Maha Pemurah!


Aisha F. 

Sunday, 7 September 2014

, , , , , ,

Nama saya Abdul Aleem dan beginilah kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Abdul Aleem, umur 28 tahun, dan tinggal di Lost Angeles, California. Saya bersyukur, Allah telah membuka hati saya untuk menerima Islam. Saya tumbuh dalam keluarga kependetaan umat kristiani. Dulu saya pikir orang-orang Islam adalah kumpulan orang aneh dan bahkan terkadang saya juga mengolok-olok mereka. Hal ini tentu karena manusia memiliki tendensi untuk merasa aneh ketika melihat sesuatu yang belum dipahaminya. Sebelum saya melihat orang-orang muslim di masjid, saya kira orang-orang muslim adalah orang-orang hitam yang mengenakan dasi kupu-kupu dan menjual kue kacang.

Saya pernah dihubungi oleh Negara Islam, tapi saya tidak pernah menindaklanjuti panggilan itu, karena menurut saya ada sesuatu yang tidak benar yang tak bisa saya pahami. Sebelum masuk Islam, saya adalah pengguna narkoba dan banyak melakukan tindakan buruk lainnya. Semasa di penjara, saya berbicara dengan saudara Abu dan Mujahid dan menjadi banyak tahu tentang Islam. Saya membaca lebih banyak lagi buku-buku tentang Islam dan saat itu rasa ingin tahu saya tentang Allah subhanahuwataala dan nabi-Nya Muhammad salallahu alaihi wa sallam benar-benar besar. Dan saya mendapat prespektif baru dalam memandang Yesus. Pengetahuan itu lebih dari yang selama ini saya yakini dan saya menyukai itu. Saya semakin ingin tahu, karena itu saya mulai membaca Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Al-Muwatta’ karya Imam Malik. Setelah itu saya mulai menghadiri kajian-kajian Islam dan shalat Jum’at. Saya mulai membaca Al-Qur’an dan ketika itu, saya selalu merasa gemetar saat mengetahui maknanya, hingga akhirnya saya percaya pada kebenaran Islam.

Setelah itu, saya menyatakan secara terbuka bahwa tak ada tuhan selain Allah dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Akhirnya saya mengucapkan syahadatain setelah shalat Jum’at dibimbing oleh Imam al Amin dari Islam Senter Moreno Valley dan seorang ustad di penjara. Saya bersyukur kepada Allah subhanahuwataala dengan penuh keihklasan yang telah memberikan apa yang selama ini cari.

Saya mengubah seluruh jalan hidup saya masa lampau, yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Saat itu tahun 2008, sejak saat itu saya tak pernah lagi melihat ke belakang. Setelah saya bebas dari penjara, saya mulai mendatangi sekolah-sekolah dan menawarkan diri untuk menjadi konselor bagi pemakai narkoba dan pecandu minuman keras. Saya telah menjadi konselor sejak tahun 2010. Saya membantu orang-ornag dan menunjukkan kepada orang-orang jalan yang lebih baik. Saya juga bekerja dengan beberapa saudara muslim yang memiliki masalah-masalah kecanduan. Saya sangat mencintai pekerjaan yang saya lakukan, Alhamdulillah.

Saya ingin berhubungan dengan saudara-saudara muslim dari seluruh Amerika dan luar Amerika. Terima kasih kepada Hadith of The Day yang telah mengizinkan saya menceritakan kisah saya. Semoga Allah subhanahuwataala memberikan pahala atas usaha kalian semua dan mengapuni kita semua dan memasukkan kita ke dalam Jannatul Firdaus. Amin.

Abdul Aleem.



Friday, 5 September 2014

, , , , , ,

Nama saya Jacop dan beginilah kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Jacop dan saya berasal dari Amerika, tumbuh besar di pemukiman biasa Oklahoma selatan. Saya punya cerita panjang sebelum akhirnya masuk Islam.

Sejak kecil saya selalu percaya tentang adanya tuhan. Ayah saya meninggal ketika saya baru mulai bisa berjalan dan ibu saya tak punya nilai-nilai agama sama sekali yang bisa diajarkan kepada saudara-saudara saya yang lebih tua begitu pun kepada saya. Kakak perempuan saya telah pindah sejak lama, karena itu hanya ada kakak laki-laki saya dan saya sendiri. Waktu itu, kami mencoba ke gereja sesering mungkin dengan siapa pun, tapi saya tumbuh bersama kekecewaan terhadap ajaran protestan dalam beribadah yang termuat di “Bible Belt”.

Pertama kali saya mengetahui bahwa ada orang yang percaya kepada Tuhan namun bukan dari kalangan kristen adalah ketika saya SMA. Perempuan muda yang sangat menyenangkan yang menginspirasi diri saya untuk tidak berpikir picik dalam menyikapi setiap hal, ketika suatu hari saya berbincang dengannya dan dia mengungkapkan perkataan “segala puji bagi tuhan”.

Saya sangat terkejut saat itu. Dia sangat mengagumkan bagi saya dan bagi teman-teman lain (dia punya sekelompok teman) dan dia mengatakan itu? (segala puji bagi tuhan). Saat itu saya seorang agnostis. Saya percaya kepada tuhan, namun saya tak yakin dengan segala bentuk agama. Bahkan, saat itu saya tidak bisa memahami konsep tuhan menurut pemahaman nonkristen. Saya selalu diajari bahwa pemahaman lain hanya akan memberikanmu satu tiket ke neraka.

Singkat cerita, setelah tamat SMA, saya gagal masuk tentara di tahap awal latihan. Rasanya saat itu saya menggelandang ketika saya kembali pulang. Saya marah kepada Tuhan, menyalahkan-Nya karena membuat saya menderita dan tak berguna. Itu terjadi setelah beberapa tahun saya berdikari dan sebelum saya melakukan penyelidikan tentang agama.

Saya telah bertemu dengan beberapa orang Yahudi, Jehovah’s Witnesses, Roman Catholics, Mormons, dan Charismatic Protestants, dan sangat kagum dengan apa yang mereka katakan. Masing-masing memiliki keimanan murni. Masing-masing memberikan jawaban cerdas kepada saya.

Saya berteman dengan beberapa orang seumuran yang juga selalu hadir di Gereja Charismatic Protestant. Setelah setahun, saya hadir di gereja itu, saya memutuskan ikut paduan suara untuk ritual ibadah dan saya mencoba melebur lebih dalam. Satu setengah tahun kemudian, saya mendaftar di Kampus Bible di kota lain. Saat itu, saya tetap mencari, karena tidak yakin secara pasti bahwa ajaran protestan adalah jalan menuju tuhan.

Saya tak lama di kampus itu. Setelah empat bulan, saya memutuskan untuk keluar dan kembali bekerja serta tetap penasaran terhadap tuhan. Saya menghabiskan banyak waktu luang saya di perpustakaan umum, dan di sanalah saat itu saya menemukan Al-Qur’an terjemahan Inggris. Di saat bersamaan, saya juga sedang mendalami katekismus terbaru gereja katolik, dan saya mendapatkan beberapa catatan batin.

Karena saya mahir tentang ajaran katolik, keuskupan lokan mengizinkan saya melewati RCIA (Rite of Christian Initiation for Adults) resmi dan dibabtis kemudian ditetapkan di gereja. Saya mulai mengajukan pertanyaan, mencoba memahami konsep trinitas, dan bagaimana tuhan bisa mati dalam tiga hari. Tak satu pun jawaban masuk akal saya terima. Saya masih tidak mendapat jawaban pasti, tapi saya terpikat dengan peribadatan katolik. Itu sangat menarik. Saya ikut paduan suara, sebagaimana telah saya lakukan sebelumnya, saya mencoba untuk damai dan terus bergembira, tapi setelah beberapa waktu, saya sadar saya tak akan tenang jika seluruh pertanyaan saya belum terjawab.

Karena itu, saya meninggalkan gereja katolik, dan ajaran kristen secara umum. Saat itu, saya tak berada dalam kondisi spiritual yang bagus, dan hal itu berdampak pada batin saya. Saya mulai menerka-nerka barang kali agama lain menyimpan kebenaran sejati di dalam ajarannya. Saya mulai mendalami ajaran Yahudi, juga Budha dan Hindu. Saat itu, saya masih berpikir tentang apa yang telah saya baca dari Al-Qur’an, namun dalam sanubari tetap terlintas ketakutan untuk mempelajari Islam secara mendalam karena adanya stereotip American Islamophobia. saya menyaksikan perlakuan kepada orang-orang nonkristen di Amerika Selatan setelah kejadian September 11, 2011.

Saya pindah ke luar negara di tahun 2005 ke Pantai Barat. Jauh dari rumah dan keluarga untuk pertama kali, saya mempelajari ajaran Yahudi secara kusus selama kurang lebih tujuh tahun. Hingga suatu hari, saya heran pada diri saya sendiri, apa yang sebenarnya saya takutkan? Saya mulai menjelajahi laman-laman situs di internet, mencari segala hal tentang Islam, keyakinan, atau apa pun juga. Saya membeli Al-Qur’an terjemahan Inggris di toko buku. Hingga akhirnya, saya merasa pertanyaan saya selama ini telah terjawab.

Hanya ada satu Tuhan. Kita diciptakan untuk menyembah-Nya semata. Isa, Ibrahim, Musa, Nuh, Daud, dan Muhammad (alaihiwasallam jamian) semuanya mengajarkan risalah yang sama tentang Tuhan yang sama.

Hal itu membutuhkan waktu sekitar empat tahun, hingga akhirnya saya mengucapkan syahadatain pada tangga 14 April 2013. Saya menjadi lebih bahagia daripada sebelumnya. Saya suka mengatakan pada orang lain bahwa saya Muslim. Nenek saya dan saya memiliki ketertarikan khusus untuk berdiskusi tentang surga dan neraka. Beberapa orang menerima, dan beberapa yang lain masih tak mau menerima. Malangnya itu karena persoalan kemanusiaan. Tapi saya berdoa semoga Allah membuka mata dan hati mereka.  

SubhanAllah! Alhamdulillah!