Showing posts with label muslimah amerika. Show all posts
Showing posts with label muslimah amerika. Show all posts

Tuesday, 10 March 2015

, , , , , , , ,

Islam, Inilah Jalanku


Selalu ada daya tarik tersendiri ketika berbicara mengenai kisah mualaf. Sering kali setiap kisah mualaf diwarnai dengan momen perubahan hidup yang dramatis, momen perubahan yang terjadi ketika seseorang ingin keluar dari kehidupan yang penuh loba-laba materi duniawi menuju sebuah kehidupan spiritual yang tinggi. Sebagian besar orang yang mengalami masa-masa cobaan dan kepanikan seperti itu pasti merasakan keputusasaan yang hebat, hingga akhirnya kembali kepada Tuhannya dengan shalat. Dalam setiap kasus demikian, saya tahu, mereka lupa satu hal yang secara naluriah telah ada dalam diri mereka, yakni berdoa secara langsung kepada Sang Pencipta. 

Sebagai contoh, seorang perempuan bercerita tentang kisahnya yang ia namai ‘Terlahir Kembali Sebagai Nasrani’ dalam sebuah acara televisi terkenal umat Kristiani. Perempuan itu bercerita tentang bagaimana kisahnya menjadi satu-satunya penumpang yang selamat dalam sebuah kecelakaan kapal. Ketika terombang-ambing siang dan malam di lautan lepas, ia mengatakan bagaimana Tuhan berbicara kepadanya, menunjukinya, dan melindunginya. Ia meminta pertolongan kepada Tuhan dengan berdoa hanya kepada-Nya semata. Dalam kisahnya yang panjang, ia berulang kali menyebut nama Tuhan dan tak pernah menyebut sekali pun nama Yesus Kristus. Namun pada sebuah momen ketika ia diselamatkan oleh sebuah kapal yang tiba-tiba lewat, ia mengangkat tangannya ke langit dan berteriak,”Terima kasih Yesus!”

Ada pelajaran yang bisa kita petik dari sini. Ketika seseorang mengalami momen-momen kepanikan dan tekanan, manusia secara naluriah berdoa secara langsung kepada Tuhan, tanpa perantara. Itulah fitrah spiritual yang dimiliki manusia. Namun setelah terbebas dari momen-momen sulit, manusia akan kembali kepada ajaran agama yang ia peluk seperti biasa, tak peduli seberapa berat momen itu dirasakan sebelumnya. Semua mualaf merasa Tuhan menyelamatkannya dan keajaiban atas selamatnya ia dari momen-momen pahit membenarkan keyakinannya. Namun tetap hanya ada satu Tuhan. Karena itu, masuk akal jika hanya ada satu agama yang benar dalam seluruh aspeknya. 

Oleh karena itu, hanya ada satu kelompok yang benar dan yang lain keliru. Karena Allah mengajarkan kita dalam Al-Qur’an,"Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya" (13:27). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang Lurus (untuk sampai) kepada-Nya (4:127). Karena bagi orang-orang yang sesat, Allah biarkan mereka memilih jalan apapun yang mereka inginkan. 

Lalu siapa yang akan menjadi muslim karena kisah yang akan saya ceritakan? Hanya satu orang yaitu saya sendiri. Begini ceritanya.

Tahun 1990, itulah tahun terakhir saya berada di laboratorium ilmu mata di Universitas George Washington, Washington DC. Putri kedua saya lahir pada tanggal 10 Oktober. Saya sangat cemas saat itu. Ia lahir dengan warna kulit agak kehitaman, dari dada hingga ujung kakinya berwarna agak kebiru-biruan. Tubuhnya tak memiliki cukup darah. Penyebabnya adalah kelainan batang nadi -penyempitan serius pembuluh darah besar dari jantung. Tak ada yang bisa saya katakan saat itu, kecuali saya hancur. 

Sebagai seorang dokter, saya tahu ia harus segera dioperasi, dengan kemingkinan bertahan hidup cukup kecil. Seorang dokter spesialis bedah kardio-dada dipanggil dari kota seberang dan saya tinggalkan ia di ruangan ICU khusus bayi untuk memeriksa anak saya.

Tanpa seorang kawan kecuali hanya ketakutan, saya keluar menuju ruangan ibadah di rumah sakit itu dan berlutut mendoa. Inilah untuk pertama kali saya mengenal Tuhan. Bahkan ketika saya berdoa, saya berdoa dengan kata-kata skeptis,”Wahai Tuhan, jika memang Engkau ada...” Saya katakan setelah itu bahwa saya berjanji jika memang Tuhan ada, jika Dia menyelamatkan putri saya, dan jika Dia memberi petunjuk kepada saya untuk masuk agama yang Dia ridhoi, saya akan mengikuti titah-Nya. 

Saya kembali ke ruang ICU sekitar 15 menit kemudian, dan sangat terkejut ketika dokter berkata bahwa putri saya akan baik-baik saja. Dan benarlah prediksi dokter, setelah dua hari, kondisi anak saya berangsur-angsur membaik secara ajaib, tanpa obat atau pun operasi. Hingga kini, ia tumbuh seperti anak normal lainnya. 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya adalah seorang dokter. Meskipun dokter menyarankan untuk membeli beberapa obat, namun saya tak membelinya. Saya ingat ia menjelaskan tentang penebalan dinding arteris, lemahnya oksigenasi, dan resolusi spontan. Kemudian saya berkata,”Tidak, putri saya selamat bukan karena keajaiban obat, ia selamat karena Tuhan." Banyak orang yang berjanji kepada Tuhan di momen-momen sulit bisa menemukan atau membuat alasan untuk meluluskan “penawarannya” kepada Tuhan, hingga Tuhan menyelamatkannya dari kesulitan. Saat itu saya bisa dengan mudah menggantungkan kesembuhan putri saya pada pejelasan dokter ketimbang kepada keajaiban Tuhan. 

Namun keimanan telah masuk ke dalam hati saya, dan tak akan pernah keluar lagi. Putri saya telah diperiksa jantungnya dengan metode ultrasounds yang dilakukan sebelum dan setelah, dan menunjukkan adanya penyempitan serius pembuluh darah besar namun hilang dalam beberapa menit kemudian. Satu hal yang terpikir oleh saya adalah inilah Tangan Tuhan. Meskipun ada penjelasan secara medis, namun saya hanya meyakini bahwa itu adalah jawaban Tuhan atas doa saya. Dulu atau sekarang saya tak menerima perjelasan apa pun kecuali itu. 

Selama beberapa tahun kemudian, saya mencoba memenuhi panggilan spiritual itu, namun gagal. Saya mempelajari ajaran Yahudi dan berbagai ajaran dalam sekte-sekte Kristen. Saya mengira saya telah berada pada jalan yang benar, yakni berada dekat dengan kebenaran namun bukan tepat pada kebenaran. Saya tidak pernah mengimani secara penuh ajaran-ajaran Kristen, karena saya tidak bisa menundukkan perbedaan antara aturan-aturan Kristen dengan ajaran-ajaran Yesus. Hingga akhirnya saya diperkenalkan dengan Al-Qur’an, Biografi Martin Ling, dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam: kisah kehidupannya berdasarkan sumber-sumber awal. 

Dalam kitab referensi Yahudi, saya menemukan bahwa terdapat tiga nabi setelah nabi Musa. Saya menyimpulkan bahwa Jonh/Yahya Sang Pembabtis dan Yesus Kristus adalah dua orang yang berbeda. Dalam Kitab Perjanjian Baru Yesus Kristus berbica mengenai nabi terakhir yang harus diikuti. 

Ketika saya tahu Al-Qur’an mengajarkan keesaan Tuhan, sebagaimana Musa dan Isa telah mengajarkan, saya percaya bahwa Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah nabi akhir zaman yang telah diprediksi. Semuanya masuk akal dan jelas sekarang: persambungan rantai kenabian dan wahyu, keesaan Tuhan, serta kesempurnaan wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an. Setelah itu saya masuk Islam. 

Cukup pintar? Tidak. Saya akan melakukan kesalahan besar jika memahami semuanya sendiri. Satu hal yang saya pelajari adalah ada banyak orang yang lebih pintar ketimbang saya namun tak mau mempelajari Islam. Jadi ini bukan masalah kepandaian, tapi ini murni masalah pencerahan, karena”...Barang siapa yang beriman kepada Allah -Dia akan menunjuki hatinya” (64:11). “...Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (42:13). “.... dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” (24:46). 

Jadi saya bersyukur kepada Allah karena telah memilih saya untuk diberikan petunjuk dan saya berikan satu nasehat sederhana tentang petunjuk: kenali Pencipta kita, berdoalah kepada-Nya, hanya kepada-Nya, dan dengan tulus ikhlas carilah petunjukk-Nya. Dan siapa saja yang Dia beri petunjuk, tak ada yang bisa menyesatkannya.

Dr. Laurence B. Brown adalah seorang dokter bedah mata. Alumni Cornell University, Brown University Medical School dan George Washington University Hospital. Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang beliau, bisa mengunjungi website beliau: www.leveltruth.com


Monday, 26 January 2015

, , , , ,

Kisah mengagumkan seorang muslimah Amerika: Apakah Anda Membenci Saya?


Setelah dibuat bingung oleh media selama 24 jam setiap hari, seorang wanita kristen melakukan hal mengejutkan kepada seorang muslimah. Apa tanggapan muslimah tersebut?

Subhanaallah, hari ini ketika saya sedang berbelanja di sebuah toko makanan, ketika saya mengambil sekerat telur, seseorang menepuk pundak saya. Ketika saya menoleh, saya lihat seorang perempuan tua dan ia berkata,”Apakah anda benar-benar membenci saya karena saya seorang kafir?” Kemudian saya letakkan telur tersebut ke rak dan berbalik menghadap perempuan tua itu. Dengan tersenyum ramah, saya menatap wajah wanita tua itu, kemudian saya katakan kepadanya,”Maaf?” Ia menjawab,”Saya minta maaf karena telah mendekati anda dengan cara seperti ini, tapi anda nampaknya seorang gadis yang manis, ini kali pertama saya bertemu dengan seorang muslim, saya tinggal di sebuah kota kecil, Dallas barat.” 

“Saya ingin tahu apakah anda membenci saya?” Saya hanya tersenyum kepadanya dan berkata,”Mengapa ibu berpikir seperti itu, saya bahkan tidak mengenal ibu.” Kemudian ia menjawab,”Di berita, mereka selalu berkata bahwa semua muslim membenci kami, jadi saya ingin tahu apakah anda memang membenci saya?” Kami kemudian berdiskusi selama sekitar 20 menit dan di akhir percakapan, ia memeluk saya dan berkata,”Saya berharap media akan memberikan berita kepada kami tentang orang-orang muslim seperti anda. Ngomong-ngomong, jika anda nanti ke Texas barat, saya akan sangat senang jika anda bersedia mampir ke rumah saya.”

Saya teringat kisah nabi salallahu alaihi wa sallam ketika berada di pasar, beliau melihat seorang wanita tua sedang kesulitan menaikkan barang-barangnya ke atas punggung onta. Kemudia serta-merta rasulullah datang kepadanya dan membantunya. Beliau menaikkan semua barang-barang wanita tua tadi ke punggung onta dan tidak hanya itu, beliau juga menarik onta dan menemani wanita tua itu berjalan hingga ke rumahnya. Hingga setelah tiba di tempat tujuan, beliau juga membantu menurunkan barang-barang dari punggung onta. 

Kemudia wanita tua itu pun berkata kepada beliau,”Wahai anak muda, aku berterima kasih banyak atas bantuanmu, bagaimana aku bisa membalas semua kebaikannmu? Aku tidak memiliki harta, tapi hanya bisa memberimu beberapa nasehat. Ada seorang lelaki bernama Muhammad, ia seorang lelaki yang jahat. Ia telah memecah belah masyarakat dan telah memisahkan seseorang dari keluarganya.”

“Ia mengajari orang-orang sihir, ia menyeru orang-orang ke jalan kesesatan dan meninggalkan agama nenek moyang. Jauhi orang itu, aku tidak mau kau tersesat karenanya. Kau orang yang baik.” 

Ketika nabi salallahu alaihi wa sallam beranjak pergi, wanita tua itu kemudian bertanya tentang nama beliau.

Beliau menjawab,”Namaku Muhammad” Kemudian wanita tua itu pun bersyahadat dan berkata bahwa hanya seorang nabi yang bisa memiliki akhlak seperti itu. #WhoIsMuhammad

Saya tahu banyak muslim yang saat ini bingung karena kejadian beberapa waktu yang lalu, tapi ketahuilah bahwa di belahan bumi yang lain sana, masih banyak muslim yang baik. Kejadian ini membuat saya berpikir, jika saya bukan seorang muslim dan tidak pernah bertemu dengan seorang muslim. Semua hal yang saya ketahui tentang Islam dan muslim hanya bersumber dari TV, APA YANG AKAN SAYA RASAKAN?

Kita benar-benar harus menunjukkan kepada dunia bagaimana Islam yang sebenarnya. Kita harus mencontoh nabi kita yang mulia Muhammad salallahu alahi wa sallam. Dan biarkan dunia tahu siapa Muhammad salallahu alahi wa sallam lewat perangai kita. 

Saturday, 10 January 2015

, , , , ,

Seorang Wanita Keturunan Birasial Masuk Islam


Nama saya Dominica (Nikki), seorang janda berusia 40 tahun. Saya tinggal di Ohio Amerika. Ketika kecil saya selalu diajari untuk percaya pada Tuhan Yang Tunggal, tapi kami dulu bukan keluarga Islam. Kami dulu juga tak memakan daging babi, meski kami bukan kelurga Yahudi. Ibu saya telah tiada, namun ajarannya terpatri dalam benak saya. Kami dulu sering hadir ke Gereja, namun ibu saya selalu mengatakan untuk meniatkan doa hanya kepada Tuhan Yang Esa. Beliau adalah pembaca setia Injil Perjanjian Lama, dan sering mengatakan kepada kami bahwa tangah manusia telah merubah isinya, namun Tuhan telah meletakkan petunjuk di dalamnya kepada umatnya. Saya tak tahu dari mana ibu saya tahu semua itu, namun saya senang beliau mengetahui itu. Saya menghadiri Sekolah Babtis, di mana orang-orang di sana selalu berkata kami (saya dan saudara perempuan saya) bahwa kami adalah anak-anak hasil dari sebuah dosa (kami adalah keluarga birasial, ibu saya kaum hitam, ayah saya kaum putih). 

Seperti yang anda lihat mereka tidak pernah berada pada jalan agama yang benar. Saya ingat ketika kecil, saya selalu bertanya mengapa saya tak pernah bisa meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan. 

Saya berhenti hadir ke Gereja selama bertahun-tahun setelah tamat sekolah. Dan saya kembali hadir ke Gereja setelah berumur sekitar 30-an tahun. Meski saya selalu hadir ke Gereja, saya selalu berdoa kepada Tuhan Yang Esa, bahwa saya hanya ingin tempat untuk menyembah-Nya. Saya tak pernah berdoa kepada Yesus melainkan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Suatu ketika akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah Masjid dalam rangka belajar, namun lelaki muslim yang juga belajar dengan saya selalu membual soal istri-istrinya yang banyak. Hal itulah yang membuat langkah saya surut. Ketika saya datang di sana, saya tak merasa nyaman kearena begitu menonjolkan identitas kebangsaan. Dan satu-satunya muslim yang saya kenal adalah lelaki itu. Hasilnya saya hanya datang pada beberapa pertemuan, kemudian saya berhenti total. Saya berkesimpulan waktu itu Masjid bukanlah tempat yang bersahabat. 

Anda tak bisa terus berjalan di luar jalur, anda harus paham dengan apa yang anda lakukan (bagaimana cara berpakaian yang baik dan mengapa harus berdoa dengan bahasa selain bahasa ibu), jika tidak, anda akan merasa tidak cocok dengan semua itu. Saya tak pernah bernar-benar mencintai Gereja, saya hanya ingin selalu dekat dengan Tuhan. 

Saya menjadi orang tua asuh ketika berumur 35 tahun (di Amerika ada banyak anak kulit hitam yang ditampung di panti asuhan dan diizinkan untuk diadobsi). Sehingga saya memutuskan untuk mengadobsi dua di antaranya. Mereka berdua telah bersama saya selama 5 tahun dan akhirnya saya memutuskan untuk mengadobsi mereka. Jika tidak demikian mereka akan tetap mengikuti sistem: mereka akan diujicobakan untuk tinggal dari satu rumah ke rumah yang lain. Saya mengadobsinya 2 tahun yang lalu. Sekarang mereka telah berusia 13 dan 12 tahun. Sebelum saya memutuskan untuk mengadobsi mereka, saya menikah, dan suami saya setuju untuk mengadobsi mereka. Suami saya seorang yang baik. Ia meninggal 10 minggu setelah kami menikah, oleh serangan jantung yang mendadak. 

Segalanya terasa hancur setelah itu. Dua anak itu dengan latar belakangnya: dua bocah yang kehilangan orang tuanya, tinggal di panti asuhan, dan sekarang harus kehilangan sosok bapak yang mereka kenal. Dan hal itu menyisakan trauma yang mendalam. Begitu juga bagi saya. Saya mulai minum alkohol untuk terlelap tidur di malam hari, dan terus minum dan minum. Saya masih membutuhkan Tuhan, namun saya pikir dengan minum alkohol terus menerus, saya tak akan suci lagi untuk sekadar memohon kepada Tuhan. Hingga saya dibawa ke tempat rehabilitasi untuk menyembuhkan ketergantungan saya terhadap alkohol. Saya mengalami masa-masa berat karena tidak diperbolehkan minum alkohol, hingga saya memunajatkan sebuah doa kepada Tuhan, saya ingat doa itu. 

Saat itu akhir tahun lalu. Saya ingat saat itu saya berkata kepada dua anak saya bahwa mereka tidak akan membuat setengah kesalahan yang mungkin akan mereka lakukan, jika mereka mendengarkan ibu mereka. Kemudian saya pikir, jika saya ungkapkan doa saya malam itu, saya tidak akan membuat setengah kesalahan yang mungkin akan saya lakukan jika saya pasrah dengan takdir Tuhan. 

Saya bermunajat kepada Tuhan,”Aku tak peduli jika aku tak akan pernah mendapat suami lagi, aku tak peduli seberapa banyak materi yang aku miliki di dunia ini, aku hanya menginginkan-Mu dalam hidupku. Dan aku pasrah dengan kehendak-Mu.” Saya mengungkapkan doa itu saat itu, tapi baru sekarang saya menyadarinya. Saya tidak peduli apa pun di dunia ini kecuali Tuhan. 

Sejak doa itu saya panjatkan tak pernah ada lagi keinginan untuk minum alkohol. 

Kemudian datang seorang kawan yang telah saya kenal sejak lama, ia telah menjenguk saya beberapa kali kira-kira satu bulan setelah suami saya meninggal. Ia mengenal saya dan suami saya. Ia menawarkan Islam kepada saya. Saya ceritakan kepadanya bagaimana rasaya ketika saya belajar Islam selama beberapa waktu. Tetapi saya mengatakan kepadanya saya akan membaca Al-Qur’an. Dan saya membaca Al-Qur’an hingga akhirnya mengikrarkan syahadatain. 

Alhamdulillah, Saya seorang muslimah sekarang. Saya telah menjadi mualaf sejak 19 Juli 2002. Dan inilah momen paling menggembirakan dalam hidup saya. Saya tahu saya masih harus belajar banyak, tetapi akhirnya saya mendapatkan tempat untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah. Inilah kisah saya, segala puji bagi Allah. 

Terima kasih telah mengizinkan saya menceritakan kisah saya, Nikki. 

Monday, 29 December 2014

, , , , , , ,

Saya Temukan Cinta Sesungguhnya Dalam Islam


Assalamualaikum. Saya merasa tersanjung untuk berbagi kisah saya masuk Islam.

Nama saya Fatimah Clarisse. Saya seorang perawat dan telah bercerai tanpa memiliki anak dari pernikahan saya sebelumnya. Saya beruntung sekali karena bisa diberi kesempatan bekerja di salah satu rumah sakit besar di Riyadh, Arab Saudi. Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga kristen.

Ketika di Riyadh, saya bertemu dengan banyak orang yang kebanyakan adalah muslim. Rasa ingin tahu saya besar sekali terhadap Islam. Saya menyaksikan sendiri dan kagum betapa diberkahinya masyarakat Riyadh. Ketika suara azan dikumandangkan, saya selalu merasakan perasaan yang begitu dalam dan tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Keinginan saya untuk belajar Islam meningkat hari demi hari, terutama untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Saya sering berdiskusi dengan orang Islam untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Saya sering berdoa, agar jika Tuhan memang menakdirkan saya untuk terus belajar Islam, Tuhan akan mengirimkan seseorang yang akan mengajarkan saya Islam dan menjadi pemimpin hidup saya agar lebih baik.

Sungguh, Allah memberikan takdir yang tak disangka-sangka. Allah mengirimkan Ali, seorang lelaki baik kepada saya. Ali adalah lelaki yang sangat berpengaruh dalam saya meniti jalan menuju Islam. Dia mengajari saya setiap hari, tentang Islam, misalkan, bagaimana menjadi muslim yang baik. Darinya, saya menemukan keindahan Al-Qur’an dan membuat saya yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Ali membuat saya mengerti tentang 5 rukun Islam dan cara shalat lima waktu. Hingga akhirnya saya mengerti bahwa dalam kehidupan ini selalu ada tujuan dan akhirnya saya sadari betapa Allah menyayangi saya karena telah mengirim saya ke Riyadh untuk menemukan Islam. Bahkan tak hanya itu, Allah juga menyadarkan saya tentang arti cinta yang sesungguhnya. Ali membuat saya selalu berpikir dan merenungkan kembali masa lalu saya. Dia membuat saya sadar betapa beruntungnya diri saya karena Allah masih menyayangi saya dengan menuntun saya kepada jalan kehidupan baru dan lebih baik yang InsyaAllah akan membawa saya kepada surga-Nya.

Di 7 Juni 2011, Ali membawa saya ke sebuah Islamic Senter di Riyadh, di mana akhirnya saya masuk Islam dengan penuh kesadaran dan keyakinan. Ketika saya mengikrarkan syahadatain, saya merasa seluruh kesakitan dan kepiluan dalam hidup saya sirna dan digantikan oleh cinta dan kedamaian dari Allah. Saya sangat bahagia saat itu. Setelah itu ramadhan datang dan saya bersyukur bisa merasakan keberkahan bulan itu untuk pertama kali. Saya juga bisa pergi berumroh dan mengunjungi Makkah dan Madinah. Itulah hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya, semua doa saya dijawab oleh Allah.

Setelah memeluk Islam, Allah memberikan saya hadiah yang besar -Ali akan menikahi saya, dan ia juga berkata bahwa Imam di Islamic Senter juga menyambut baik rencanya. Tangis saya pecah, bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan, karena bukan hanya Allah telah memberikan ksempatan kedua untuk hidup lebih baik, teapi Allah juga memberikan saya cinta. Cinta murni yang dibangun atas dasar kepercayaan dan dikuatkan oleh kecintaan kami kepada Allah sebagai dasar hubungan saya dan Ali.

Setelah masuk Islam, hidup saya juga diterpa ujian. Hubungan saya dan Ali diuji oleh Allah. Saya telah mengajukan proses perpindahan ke Amerika, tetapi saya harus pergi dahulu sebelum Ali, karena itu saya tak bisa menikah. Saya tak ingin meninggalkan Ali. Dan inilah yang Allah takdirkan kepada kami. Allah menginginkan saya pergi terlebih dahulu kemudian Ali akan menyusul InsyaAllah. Dan akhirnya kami akan menikah, memulai hidup baru, mewujutkan mimpi kami untuk membagi dan menyebarkan risalah Islam kepada semua orang. Saya berusaha untuk istiqomah dalam memegang agama di Amerika. Saya belum memiliki banyak kawan muslim. Kecintaan dan keyakinan kepada Allah menjadi penguat untuk saya dalam menempuh jalan Islam di sini. Meskipun jauh, Ali selalu mendukung saya. Kami percaya kepada Allah bahwa suatu hari kami akan bersatu dan akan mampu mewujutkan mimpi dan misi kami, InsyaAllah!

Saya berharap kisah saya bisa menginspirasi semua orang untuk mendekatkan kepada Islam. Terima kasih.

Fatimah Clarisse


Thursday, 20 November 2014

, , , , , ,

Keyakinan Ini Membawa Saya Kepada Islam


Kristin Szremski adalah seorang ibu Illionis berumur 53 tahun dari Palo Hills. Lahir dalam ajaran Kristen Missouri-Synod Lutheran yang kemudian berpindah meyakini ajaran Kristen Katolik hingga akhirnya menemukan Islam.

Perjalanan Menuju Islam

Di tahun 2000-an, saya bekerja sebagai reporter sebuah surat kabar bernama Star di pinggiran Chicago. Saya ditugaskan untuk meliput berita yang berkaitan dengan masyarakat Arab. Saat itu saya tak mengerti apa pun tentang Islam. Saya tumbuh dalam ajaran Missouri-Synod Lutheran dan kami selalu diajari bahwa semua agama dan nabi yang datang setelah Yesus adalah sesat.

Selama enam minggu, saya melakukan riset, menanyai banyak Muslim Arab. Perpindahan saya menuju Islam tidak terjadi dalam waktu semalam; mungkin butuh waktu sekitar 18 bulan untuk meyakinkan saya hingga akhirnya masuk Islam. Saya sangat tertarik mempelajari Islam karena Islam juga memiliki kisah-kisah nabi yang sama seperti dalam Injil.

Saya tumbuh dalam ajaran Lutheran, namun kemudian pindah menjadi Katolik ketika berumur 40 tahun. Saya selalu ingin bersama masyarakat luas dan saat itu saya tertarik mempelajari ajaran Kristen Katolik. Karena suami saya seorang Katolik, saya memutuskan untuk mengikutinya. Hal ini berdampak besar bagi saya untuk kemudian memeluk Islam, karena ajaran Lutheran memercayai ajaran Injil secara harfiah dan tak boleh ada pertentangan, sementara ajaran Katolik mendorong pemeluknya untuk terus menggali ilmu, bertanya, dan sering mengajarkan kepada pemeluknya konteks-konteks historis yang mengiringi adanya aturan-aturan dalam Agama Kristen. Hal ini membuka pikiran saya untuk meneliti kemungkinan adanya kebenaran Al-Qur’an bahwa kitab itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan.

Setelah saya memercayai ini, mudah bagi saya untuk memercayai bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasul dan nabi. Hal tersulit untuk dihilangkan adalah ajaran bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Namun kemudian, akhirnya saya temukan ayat dalam Al-Qur’an bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan dan juga kenyataan bahwa Islam meyakini bahwa Yesus (Isa) alaihissalam adalah nabi dan rasul, sehingga saya tak perlu membuang sosok Yesus dalam pikiran saya, hanya meluruskan pemikiran saya tentang Yesus.

21 Juli 2001, dan akhirnya, tiba saatnya saya mengikrarkan syahadatain. Saat itu saya sedang berada di sebuah kamar hotel di Washington DC, di mana saya akan menghadiri rapat untuk membahas majalah yang saya juga menulis di dalamnya. Tergeletak muskhaf Al-Qur’an di atas tempat tidur dengan terbuka dan saya menghadapnya, saya berlutut dan berdoa kepada Tuhan untuk memberikan jalan kebenaran kepada saya dan seketika itu pula saya mengikrarkan syahadatain. Setelah itu, saya mengikrarkan syahadatain di hadapan khlayak muslim dalam komunitas Arab.

Saya mencintai Islam karena kemurnian, kesederhanan, dan kebenarannya. Masyarakat muslim yang saya temui sangat baik, sabar, dan berakhlak mulia.