Showing posts with label the deen show. Show all posts
Showing posts with label the deen show. Show all posts

Monday, 26 January 2015

, , , , ,

Kisah mengagumkan seorang muslimah Amerika: Apakah Anda Membenci Saya?


Setelah dibuat bingung oleh media selama 24 jam setiap hari, seorang wanita kristen melakukan hal mengejutkan kepada seorang muslimah. Apa tanggapan muslimah tersebut?

Subhanaallah, hari ini ketika saya sedang berbelanja di sebuah toko makanan, ketika saya mengambil sekerat telur, seseorang menepuk pundak saya. Ketika saya menoleh, saya lihat seorang perempuan tua dan ia berkata,”Apakah anda benar-benar membenci saya karena saya seorang kafir?” Kemudian saya letakkan telur tersebut ke rak dan berbalik menghadap perempuan tua itu. Dengan tersenyum ramah, saya menatap wajah wanita tua itu, kemudian saya katakan kepadanya,”Maaf?” Ia menjawab,”Saya minta maaf karena telah mendekati anda dengan cara seperti ini, tapi anda nampaknya seorang gadis yang manis, ini kali pertama saya bertemu dengan seorang muslim, saya tinggal di sebuah kota kecil, Dallas barat.” 

“Saya ingin tahu apakah anda membenci saya?” Saya hanya tersenyum kepadanya dan berkata,”Mengapa ibu berpikir seperti itu, saya bahkan tidak mengenal ibu.” Kemudian ia menjawab,”Di berita, mereka selalu berkata bahwa semua muslim membenci kami, jadi saya ingin tahu apakah anda memang membenci saya?” Kami kemudian berdiskusi selama sekitar 20 menit dan di akhir percakapan, ia memeluk saya dan berkata,”Saya berharap media akan memberikan berita kepada kami tentang orang-orang muslim seperti anda. Ngomong-ngomong, jika anda nanti ke Texas barat, saya akan sangat senang jika anda bersedia mampir ke rumah saya.”

Saya teringat kisah nabi salallahu alaihi wa sallam ketika berada di pasar, beliau melihat seorang wanita tua sedang kesulitan menaikkan barang-barangnya ke atas punggung onta. Kemudia serta-merta rasulullah datang kepadanya dan membantunya. Beliau menaikkan semua barang-barang wanita tua tadi ke punggung onta dan tidak hanya itu, beliau juga menarik onta dan menemani wanita tua itu berjalan hingga ke rumahnya. Hingga setelah tiba di tempat tujuan, beliau juga membantu menurunkan barang-barang dari punggung onta. 

Kemudia wanita tua itu pun berkata kepada beliau,”Wahai anak muda, aku berterima kasih banyak atas bantuanmu, bagaimana aku bisa membalas semua kebaikannmu? Aku tidak memiliki harta, tapi hanya bisa memberimu beberapa nasehat. Ada seorang lelaki bernama Muhammad, ia seorang lelaki yang jahat. Ia telah memecah belah masyarakat dan telah memisahkan seseorang dari keluarganya.”

“Ia mengajari orang-orang sihir, ia menyeru orang-orang ke jalan kesesatan dan meninggalkan agama nenek moyang. Jauhi orang itu, aku tidak mau kau tersesat karenanya. Kau orang yang baik.” 

Ketika nabi salallahu alaihi wa sallam beranjak pergi, wanita tua itu kemudian bertanya tentang nama beliau.

Beliau menjawab,”Namaku Muhammad” Kemudian wanita tua itu pun bersyahadat dan berkata bahwa hanya seorang nabi yang bisa memiliki akhlak seperti itu. #WhoIsMuhammad

Saya tahu banyak muslim yang saat ini bingung karena kejadian beberapa waktu yang lalu, tapi ketahuilah bahwa di belahan bumi yang lain sana, masih banyak muslim yang baik. Kejadian ini membuat saya berpikir, jika saya bukan seorang muslim dan tidak pernah bertemu dengan seorang muslim. Semua hal yang saya ketahui tentang Islam dan muslim hanya bersumber dari TV, APA YANG AKAN SAYA RASAKAN?

Kita benar-benar harus menunjukkan kepada dunia bagaimana Islam yang sebenarnya. Kita harus mencontoh nabi kita yang mulia Muhammad salallahu alahi wa sallam. Dan biarkan dunia tahu siapa Muhammad salallahu alahi wa sallam lewat perangai kita. 

Monday, 29 December 2014

, , , , , , , , ,

Heboh: Ilmuan Besar Dunia Adalah Seorang Muslim


Isaac Newton adalah, dan kebanyakan orang akan setuju, seorang ahli fisika terbesar sepanjang masa.

Pada kenyataannya hari ini, dialah bapak ilmuan optik modern, atau demikianlah kita diajarkan di sekolah di mana buku ajar yang kita pelajari dipenuhi dengan eksperimennya yang terkenal mengenai lensa dan prisma, sifat asli cahaya dan refleksi, serta pembiasan dan penghumusan cahaya ke dalam warna-warna pelangi.

Tapi agaknya kenyataan yang sebenarnya telah diburamkan. Karena itu, saya rasa penting untuk menjelaskan bahwa dalam bidang ilmu optik, Newton sendiri bersandar pada teori-teori yang dihasilkan oleh seorang tokoh besar yang hidup 700 tahun sebelumnya.

Karena, tanpa ragu, ahli ilmu fisika besar lain, yang pantas menyandang peringkat yang sama dengan Newton adalah seorang ilmuan yang lahir pada tahun 965 Masehi di negara yang kini disebut Iraq yang bernama al-Hassan Ibn al-Haytham.

Kebanyakan masyarakat Barat belum pernah mendengar nama itu.

Sebagai seorang fisikawan, saya pribadi merasa kagum dan terinspirasi dengan kontribusi beliau yang telah memberikan banyak hal dalam bidang yang saya geluti. Saya beruntung karena baru-baru ini saya memiliki kesempatan untuk menggali lebih dalam mengenai kehidupan dan karya-karya beliau melalui produksi film three-part BBC empat seri pada tayangan Ilmuan Islam Abad Pertengahan.

Pendapat umum mengenai sejarah ilmu pengetahuan pasti akan mengatakan bahwa tidak ada kemajuan ilmu pengetahuan besar yang terjadi antara masa Yunani kuno hingga masa Renaissance Eropa.

Namun hanya karena Eropa Barat tengah mengalami Zaman Kegelapan (Dark Ages) saat itu, tak berarti bahwa kemandekan terjadi di semua tempat. Sebenarnya, pada kurun waktu antara abad 9 hingga 13, dunia Arab tengah mencapai Zaman Keemasan (Golden Ages) dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kemajuan terbesar tersebut terjadi di bidang matematika, astronomi, pengobatan, fisika, kimia, dan filsafat. Pada saat itu, Ibn al-Haytham menjadi ilmuan yang paling jenius di antara para ilmuan lain.

Ibn al-Haytham digelari sebagai bapak metode ilmiah modern.

Sebagaimana umum didefinisikan, metode ilmiah merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk menginvestigasi suatu fenomena, memperoleh ilmu pengetahuan baru, mengkoreksi dan menggabungkan ilmu pengetahuan lama, didasarkan pada pengumpulan data melalui observasi dan pengukuran, dilaksanakan dengan membuat perumusan dan rangkaian uji coba terhadap hipotesis untuk menjelaskan data.

Inilah cara kita melakukan riset ilmiah hari ini dan karena itulah saya percaya pada kemajuan yag telah dibuat dalam ilmu pengetahuan.

Namun hingga saat ini masih sering didapati pendapat bahwa metode ilmiah modern belum tercipta hingga dua ilmuan yakni Francis Bacon dan Rene Descartes menemukannya di awal abad 17.

Tak ada keraguan bagi saya, bahwa Ibn al-Haytham adalah ilmuan pertama yang berhasil memformulasikan gagasan itu.

Sebenarnya, dengan karya-karyanya yang menekankan pada data eksperimental dan reproduktibilitas hasil, beliau sering disebut sebagai “ilmuan pertama dunia yang sebenarnya”.

Memahami cahaya

Beliau adalah ilmuan pertama yang memberikan pendapat yang benar mengenai cara kita melihat objek/benda.

Sebagai contoh, beliau telah membuktikan bahwa teori emisi (yang menyatakan bahwa cahaya dari mata kita menyorotkan cahaya kepada benda/objek yang kita lihat), yang diyakini oleh pemikir besar seperti Plato, Euclid, dan Ptolemy, merupakan kekeliruan dan telah membangun gagasan modern bahwa kita bisa melihat karena cahaya masuk ke dalam mata kita.

Apa yang beliau juga lakukan dan tak seorang ilmuan pun melakukannya adalah menggunakan matematika untuk menggambarkan dan membuktikan proses ini.

Karena itu, beliau juga bisa dianggap sebagai penggagas teori ilmu fisika awal.

Saat ini, beliau mungkin dikenal luas dengan penemuannya tentang lubang kamera dan seharusnya penemuannya mengenai pembiasan dilindungi oleh hukum dan dipatenkan atas nama beliau.

Beliau juga telah melakukan eksperimen tentang penghamburan cahaya ke tiap bagian pokok warna, bayangan, pelangi, dan gerhana; dan dengan mengamati bagaimana cahaya matahari terpecah melalui atmosfir, beliau mampu memberikan estimasi yang bagus mengenai ketinggian atmosfir, yang ia sebutkan sekitar 100 km.

Pengekangan

Tidak sama dengan para ilmuan modern, beliau sayangnya membutuhkan banyak waktu dan kesunyian untuk menuliskan karya-karya beliau, termasuk karya beliau tentang optik.

Namun sayangnya beliau mendapatkan kesempatan yang kurang karena pada tahun 1011 hingga 1021 beliau dipenjara di Mesir. Hal ini disebabkan beliau gagal menjalankan tugas untuk membantu memecahkan persoalan banjir di sungai Nil yang dibebankan oleh seorang kalif di Kairo.

Ketika masih di Basra, Ibn al-Haytham telah menyatakan bahwa banjir dari sungai Nil di musim gugur tidak dapat ditahan dengan sistem bendungan dan kanal, namun air yang meluap tersebut bisa dialirkan dan disimpan di sebuah waduk hingga bisa digunakan di musim panas.

Namun ketika tiba di Kairo, beliau berangsur-angsur sadar bahwa rencana kerja yang telah beliau cetuskan tidak dapat diterapkan dalam praktiknya.

Namun, ketimbang mengakui kesalahannya di hadapan kalif yang kejam, Ibn al-Haytham malah berpura-pura gila untuk lepas dari hukuman.

Kejadian ini menyebabkannya harus ditawan dan dijatuhi hukuman selama 10 tahun di pengasingan.

Pergerakan Planet

Beliau dibebaskan setelah sang kalif meninggal. Kemudian beliau kembali ke Iraq di mana beliau membuat 100 karya di bidang fisika dan matematika.

Ketika melakukan perjalanan ke Timur Tengah selama pembuatan film, saya mewawancarai seorang ahli di alexandria yang kemudian ia menunjukkan kepada saya karya Ibn al-Haytham yang baru-baru ini ditemukan dalam bidang astronomi.

Dalam karyanya tersebut Ibn al-Haytham mengembangkan apa yang kini disebut ilmu mekanika luar angkasa (celestial mechanics) dan menerangkan pergerakan planet yang kemudian memunculkan karya-karya besar lain dari ilmuan Eropa seperti Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton.

Hal ini luar biasa, karena akhirnya kita bisa mengetahui bahwa ilmu fisika yang kita ketahui sekarang berhutang banyak kepada seorang Arab yang hidup 1000 tahun yang lalu.

Professor Jim Al-Khalili presents Science and Islam on BBC Four at 2100GMT on Monday 5, 12 & 19 January





Tuesday, 25 November 2014

, , , , , , ,

Dari Kristen Rasis Menuju Islam



Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama saya Marc dan beginilah kisah saya masuk Islam

Perjalanan saya menuju Islam, boleh dikatakan, tak biasa. Sebagian besar mualaf yang telah saya temui berasal dari latar belakang liberal dan paham-paham lain yang cukup terbuka. Latar belakang saya jauh dari itu semua. Kedua orang tua saya adalah anggota militer Amerika sehingga mendidik saya begitu keras. Ayah saya sangat rasis, karena itu, saya juga tumbuh dengan pemahaman rasis hingga berumur 24 tahun. Saya ingat, ketika kecil saya sering mendengar ayah mencerca dan menyerang orang-orang arab, muslim, agama mereka, cara hidup mereka, dan ras mereka. Karena ini merupakan ajaran yang ditumbuhkembangkan dalam hidup saya, akhirnya saya juga bersikap demikian. Masa kecil saya sangat bermasalah, sebagaimana akan saya ceritakan selanjutnya.

Ayah saya seorang pemabuk dan seorang yang sangat kasar. Saya tumbuh dalam ketakutan permanen akan kekerasan terhadap diri saya, ibu, dan saudara-saudara saya. Karena saya tumbuh dalam latar belakang semacam itu, sangat maklum jika saya mencari orang-orang yang bisa menggantikan kehidupan yang tak saya dapat dari keluarga. Namun masalah selanjutnya muncul: saya mendapatkan kawan-kawan yang sangat buruk.

Selama beberapa tahun saya bergabung dengan kelompok rasis radikal. Meski sebenarnya, saya tak pernah merasa tenang dengan jalan hidup seperti ini. Namun saya senang karena menjadi pemimpin yang disegani. Ketika itu, saya terkenal dan ditakuti oleh orang-orang di kota lahir saya. Kerinduan saya akan keluarga dan kawan-kawan tak menghilangkan benih-benih kebencian dalam hati. Saya tak pernah sadar bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kekeliruan besar dan ketidakadilan yang nyata. Ketika berumur 16 tahun, kawan karib saya yang seorang Mexiko pernah bertanya kepada saya,”Mengapa kamu berkumpul dengan orang-orang jahat, kamu lebih baik keitimbang mereka.” Dia benar. Tapi ada bagian dari diri saya yang, meskipun saya sangat membenci ayah saya dengan apa yang telah ia lakukan kepada keluarga saya, tapi saya ingin menjadi seperti ayah. Itulah sikap rasis dan kebencian saya bermula. Kondisi semakin buruk, ketika saya dipaksa pergi dari rumah. Saya pikir inilah yang mengunci kemungkinan Islam bisa masuk dalam kehidupan saya. Jauh dari ayah saya, kebencian yang saya rasakan, dan memahami dunia dan masyarakat dengan cara saya sendiri.

Selama beberapa tahun saya menjalani kehidupan yang berat dan saya melanjutkan kehidupan seperti itu. Saya sering mabuk, memakai narkoba, dan mendapat masalah serius dengan hukum negara. Orang-orang yang saya cari untuk bisa menggantikan keberadaan keluarga saya adalah orang-orang yang paling buruk perangainya; kekerasan, tak jujur, dan tak pernah bisa dipercaya. Itulah pertama kalinya saya bisa merasakan hidup tanpa figur seorang ayah yang selama ini membayang-bayangi hidup saya.

Saya mulai sadar, kebohongan ini berasal dari lingkungan tempat saya bernaung. Saya mulai bisa melihat kebenaran, betapa hidup saya telah hancur. Inilah titik balik, di mana saya mulai mempertanyakan setiap sisi kehidupan saya, termasuk spiritual saya. Saya mulai mengambil sikap, bahwa seluruh kehidupan saya telah terjangkit keburukan dan harus ditata ulang. 

Kesenangan saya dalam membaca membuat saya memiliki perpustakaan kecil, yang kini berisi hampir seribu buku, mulai buku-buku tentang Kant, Ramadhan, hingga kata-kata bijak Edward. Saya memiliki pacar waktu itu, yang kemudian saya nikahi. Ia juga aktiv dalam kelompok rasis yang saya ikuti. Selalu ada kekhawatiran dalam diri saya jika ia akan merasa tersinggung dengan pemikiran baru yang saya miliki. Saya jadi pecandu buku dan saya selalu membaca buku di mana pun berada selama beberapa tahun.

Selama peristiwa Intifada bergejolak di Palestina, ayah saya, sebagai orang yang rasis dan antiorang arab dan yahudi, ia sangat mendukung ekspansi Israel. Saya pikir, ia memang membenci yahudi dan orang-orang nonputih, tetapi kebenciannya terhadap arab melebihi kebenciannya terhadap yahudi, karena itulah ia mendukung yahudi-israel. Ketika saya melakukan pemikiran ulang tentang apa yang saya pelajari di masa muda dulu, saya memutuskan untuk lebih mendalami kecamuk yang terjadi di Timur Tengah. Saya mulai membaca buku-buku umum yang membahas sejarah Timur Tengah dan politik nasional di sana. Lagi-lagi saya menemukan kesulitan dalam mempelajari itu, karena saya tidak paham soal Islam. Ketika kecil dulu saya sering datang ke Gereja, namun tidak memiliki dasar keinginan yang kuat untuk menengok agama lain.

Ayah saya memiliki kebencian yang kuat terhadap Islam, sehingga ketika berusia belasan tahun saya juga membenci Islam dan menyebarkan kebencian itu tanpa memiliki alasan yang kuat dan tanpa mengetahui ajaran Islam yang sesungguhnya serta bagaimana muslim memahami Islam. Kebencian itu terus tertanam dalam pikiran, bahkan tanpa pernah menemui seorang muslim sekali pun. Oleh karena itu, saya mulai mempelajari Islam; ajaran dan sejarahnya. Masa itu bertepatan ketika internet mulai populer, sehingga saya mencari sumber-sumber dari buku-buku dan internet untuk membantu saya memahami Islam. Saat itu saya tinggal di Washington dan tidak mengetahui komunitas muslim di sana, sehingga tak seorang muslim pun yang bisa saya ajak diskusi. 

Setelah itu, istri saya berpindah kerja ke London, sehingga mengubah rencana yang telah saya rancang. Ketika berada di London, ketertarikan saya beralih sejenak. Saya berada di negara baru dengan sejarahnya yang panjang, sehingga selama beberapa tahun saya menghabiskan waktu untuk menjelajahi sejarah dan daerah-daerah di Eropa. Seiring berjalannya waktu, saya tertarik kembali untuk mempelajari Timur Tengah dan situasi politik di sana. Saya berada di negara di mana komunitas muslim terbentuk dengan apik, meski di kota tempat saya tinggal tidak ada komunitas muslim. Saya mulai membaca tentang Islam: keyakinan, ideologi, dan sejarahnya.

Saya juga mulai membaca Al-Qur’an. Saya terkejut dengan informasi pertama yang saya dapatkan: Al-Qur’an memberikan jawaban atas keraguan saya terhadap agama yang saya peluk sejak kecil. Saya selalu bertanya-tanya tentang ajaran bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dari apa yang telah saya baca saya akhirnya tahu bahwa kepercayaan ini berasal dari agama berhala: Zeus, Odin, dan agama-agama berhala lain yang percaya bahwa Tuhan memiliki keturunan. Dalam ajaran Odin, pengikutnya percaya bahwa Odin menempel di sebuah pohon, hampir sama dengan pemeluk Kristen yang percaya bahwa Yesus menempel di sebuah salib. Odinis, nama bagi pengikut agama kuno dari Eropa Utara ini, juga meyakni trinitas: tuhan bapa sebagai Odin, anak laki-lakinya bernama Thor, dan istrinya bernama Freja. Dengan ini menjadi jelas, inovasi yang dilakukan orang-orang kristen tidak berdasar dari Tuhan, melainkan berasal dari agama berhala yang ada sebelumnya. Saya juga merasa betapa Tuhan bisa begitu tak adil karena menjadikan manusia menanggung dosa yang dilakukan orang lain yang telah mati ribuan tahun silam. Hal ini menurut saya terasa tak adil. Akhirnya saya mengerti konsep dasar ketuhanan; bahwa Tuhan tak mungkin berlaku tak adil. Itulah perkara dosa asli atau dosa turunan yang selama bertahun-tahun membuat saya bertanya-tanya akan keabsahannya.

Saya selalu merasa bahwa ajaran Kristen tak memiliki jawaban tentang perkara tersebut dan jika mereka menjawab, jawabannya hanya akan memperkuat posisi ketidakadilan tersebut. Saya mencoba mempelajari ajaran Yahudi, namun ajaran Yahudi memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawabannya. Sikap mereka terhadap para nabi sungguh tak bisa diterima. Kitab suci mereka mendakwa manusia-manusia ini yang telah melakukan kerusakan besar. Saya menolak meyakini bahwa Tuhan memilih manusia-manusia ini untuk dijadikan pemimpin di bumi ini. Jika ajaran Yahudi seperti ini, bagaimana saya bisa memercayai dan mencari petunjuk melalui agama semacam ini? Dengan ini telah jelas betapa Islam menjawab seluruh keraguan dalam perkara ini.

Islam menjelaskan kebingungan terhadap kebohongan trinitas dan menerangkan dengan jelas peran Yesus (Isa) alaihissalam sebagai nabi, bukan sebagai anak Tuhan. Islam menghormati seluruh nabi alaihisalam jami'an dan mengenal mereka sebagai manusia-manusia pilihan Tuhan. Dengan Islam, saya temukan jawaban dari seluruh permasalahan dan pertanyaan saya selama ini, juga masa depan manusia. Masalah terbesar saya selanjutnya adalah bagaimana menerapkan ajaran Islam ke dalam kehidupan saya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya memiliki istri yang juga anggota kelompok rasis radikal. Dia tak memiliki bayak waktu untuk berdiskusi dengan saya soal ketertarikan saya dengan hal-hal ini; Islam maupun politik Timur Tengah.

Saya sadar jalan yang saya butuhkan untuk menempuh jalan hidup baru tak mudah ditempuh. Akhirnya telah tiba saatnya, saya menyadari bahwa saya tak akan bisa menerapkan ajaran Islam jika tetap bersama istri saya. Karena itu kami berpisah. 

Sebelum saya meninggalkan Inggris, saya pergi ke sebuah masjid dengan seorang laki-laki lebanon untuk mengikrarkan syahadatain. Ketika saya berpisah dengan mantan istri saya, saya dipaksa untuk segera meninggalkan Inggris. Saya senang tinggal di Inggris, karena kesempatan untuk mempelajari Islam lebih banyak. Tapi Alhamdulillah, Allah telah menentukan jalan saya untuk kembali ke Amerika dan saya bisa mengambil hikmah yang besar dari peristiwa itu.

Dengan cepat saya mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah Amerika di Alaska. Tentu saja, tak banyak komunitas muslim di Alaska. Hanya ada dua komunitas muslim di pusat kota Anchorage dan Fairbank. Sementara tempat saya bekerja jauh dari dua kota tersebut. Karena itu saya memilih untuk mempelajari Islam lewat buku-buku dan internet. 

Saya sering ke Wahington DC. Saya bergabung dengan komunitas muslim di sana. Saat itulah saya mulai berpikir untuk menikah. Saya sedikit kawatir dengan keadaan saya: seorang mualaf. Saya tahu orang-orang muslim berasal dari berbagai latar belakang etnik, karena itu mungkin mereka tidak akan memperbolehkan anak perempuannya dinikahi seorang mualaf Amerika berkulit putih. Hal ini lebih buruk lagi karena saya memiliki tato yang saya dapatkan ketika berusia remaja. Karena itulah saya tak yakin akan memperoleh seorang muslimah dan keluarganya akan menerima saya apa adanya.

Seorang kawan baru memberi informasi bahwa ada seorang muslimah yang sedang mencari pendamping hidup. Kemudian ia memberikan nomor teleponnya kepada saya. Ketika pulang kerja, saya mencoba menghubunginya, tapi ia tidak berada di rumah, sehingga saya hanya meninggalkan pesan. Hari berikutnya saya menghubunginya dan kami berbicara selama beberapa jam. Kami bertukar alamat email dan selama tiga hari berikutnya kami berbicara selama berjam-jam. Saya mengantuk sekali setelah itu, bahkan saya tertidur di tempat kerja. Kami berbicara banyak hal tentang apa pun yang berkaitan dengan bagaimana membangun pernikahan yang sukses. Saat itu saya telah melihat bahwa banyak persamaan antara kami berdua yang seluruhnya berporos pada penghambaan kami kepada Allah. Saya memiliki feeling dengannya, bahwa ia sangat berarti bagi saya.

Ia seorang muslimah yang taat dan memiliki ilmu agama yang banyak sehingga bisa mengajari saya. Tak hanya bisa mengajari saya ilmu agama, ia juga bisa mengajari saya bahasa Arab, karena ia memang berasal dari Arab. Kami berbicara lewat telepon dan email selama beberapa bulan. Berbicara lewat telepon dan email memang sangat menyenangkan, tapi kami sadar kami harus bertatap muka langsung untuk memperoleh kecocokan secara langsung. Selalu tanamkan ajaran Islam pada diri, bahwa yang kami lakukan untuk membuat semuanya halal dan tepat berada pada tempatnya.

Dengan persetujuan keluarganya, saya memutuskan akan berkunjung ke rumahnya di bulan Ramadhan agar bisa berbuka bersama dengan seluruh keluarganya. Saya sangat gugup dan saya memiliki alasan yang jelas untuk itu. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya dan pastinya anda sadar; calon istri saya dan keluarganya adalah orang asli Arab. Sementara saya adalah orang yang selama ini rasis dan memiliki masalah dengan perbedaan budaya dan kini saya akan bertemu dengan calon istri dan keluarganya yang notabene berasal dari Arab. Dengan berbekal tawakal dan kerongkongan yang terasa tercekat saya mempersiapkan pertemuan dengan perempuan mengagumkan ini dan keluarganya yang terlihat menakutkan bagi saya. Saya tiba di Washington DC tepat sebelum matahari tenggelam. Dengan membawa tas, saya menunggu taxi lewat. Hingga datanglah sebuah taxi dan saya menaikinya.

Di depan stir, seorang sopir taxi mengenakan gutra merah bercorak petak-petak dan sorban Arab di kepala. Ketika berada di dalam, saya mengucapkan salam,”Assalamualaikum.” Dan ia membalas salam saya. Matahari telah tenggelam, saya lihat ia berbuka dengan sebutir kurma. Ia bertanya,”Apakah anda berpuasa?” “Ya” jawab saya. Kemudian ia menawarkan kurma kepada saya. Saya kira laki-laki tua ini asli Afganistan. Saya pikir ini pertanda baik bagi saya.

Setelah meletakkan barang-barang di hotel, saya bergegas menuju rumah keluarga calon istri saya. Saya membawa kurma dan parfum sebagai hadiah. Setelah keluar dari taxi, saya berjalan mantap hingga ke depan pintu rumah. “Bismillah” ucap saya dalam hati. Saya yakin Allah memilihkan yang terbaik untuk saya. Gambaran-gambaran adegan setelah ini berputar-putar dalam pikiran saya: ia akan menyukai saya namun keluarganya akan menolak saya mentah-mentah atau keluarganya tak akan keberatan tapi ia tak tertarik dengan saya. Bagaimana jika mereka menyukai saya namun saya tak menyukai mereka? Jarak 10 meter dari pintu rumah itu terasa seperti 10 mil. Begitu lama.

Akhirnya saya tiba di depan pintu rumah itu dan segera memencet bel. Saya rasa seluruh isi rumah menjawab panggilan saya: orang tua, orang-orang seusia saya, laki-laki, perempuan, dan semuanya. Dengan hangat mereka semua menyambut kedatangan saya. Alhamdulillah, semua kekhawatiran saya telah sirna. Mereka cepat akrab dengan saya. Setelah berbincang saat makan malam, akhirnya semuanya jelas: kami telah merasa serasi.

Di bulan Januari kami melangsungkan pernikahan di hadapan kawan dan keluarga. Bulan madu kami sangat menyenangkan. Kemudian saya kembali ke Alaska untuk menyelesaikan pekerjaan hingga akhir April. Setelah selesai, saya pindah ke Washington DC dan bekerja di cabang perusahaan saya di sini. Saya sudah sekitar dua tahun di sini. Ini sangat mengagumkan. SubhanaAllah, bagaimana Allah menuntun saya dari seorang kafir yang tinggal di sebuah rumah yang penuh kebencian hingga menuju Islam. 

Sekilas, tampak memang saya tak diberikan sosok ayah dalam hidup saya oleh Allah, tapi itu bukan masalah buat saya. Allah selalu mengawasi saya. Dia menuntun saya melewati setiap bahaya dan masa-masa pahit untuk menjadi seorang lelaki sejati dan seorang muslim. Orang-orang mengatakan keajaiban tak pernah datang sekarang, tapi kisah saya membuktikan kata-kata itu salah.


Thursday, 20 November 2014

, , , , , ,

Keyakinan Ini Membawa Saya Kepada Islam


Kristin Szremski adalah seorang ibu Illionis berumur 53 tahun dari Palo Hills. Lahir dalam ajaran Kristen Missouri-Synod Lutheran yang kemudian berpindah meyakini ajaran Kristen Katolik hingga akhirnya menemukan Islam.

Perjalanan Menuju Islam

Di tahun 2000-an, saya bekerja sebagai reporter sebuah surat kabar bernama Star di pinggiran Chicago. Saya ditugaskan untuk meliput berita yang berkaitan dengan masyarakat Arab. Saat itu saya tak mengerti apa pun tentang Islam. Saya tumbuh dalam ajaran Missouri-Synod Lutheran dan kami selalu diajari bahwa semua agama dan nabi yang datang setelah Yesus adalah sesat.

Selama enam minggu, saya melakukan riset, menanyai banyak Muslim Arab. Perpindahan saya menuju Islam tidak terjadi dalam waktu semalam; mungkin butuh waktu sekitar 18 bulan untuk meyakinkan saya hingga akhirnya masuk Islam. Saya sangat tertarik mempelajari Islam karena Islam juga memiliki kisah-kisah nabi yang sama seperti dalam Injil.

Saya tumbuh dalam ajaran Lutheran, namun kemudian pindah menjadi Katolik ketika berumur 40 tahun. Saya selalu ingin bersama masyarakat luas dan saat itu saya tertarik mempelajari ajaran Kristen Katolik. Karena suami saya seorang Katolik, saya memutuskan untuk mengikutinya. Hal ini berdampak besar bagi saya untuk kemudian memeluk Islam, karena ajaran Lutheran memercayai ajaran Injil secara harfiah dan tak boleh ada pertentangan, sementara ajaran Katolik mendorong pemeluknya untuk terus menggali ilmu, bertanya, dan sering mengajarkan kepada pemeluknya konteks-konteks historis yang mengiringi adanya aturan-aturan dalam Agama Kristen. Hal ini membuka pikiran saya untuk meneliti kemungkinan adanya kebenaran Al-Qur’an bahwa kitab itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan.

Setelah saya memercayai ini, mudah bagi saya untuk memercayai bahwa Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasul dan nabi. Hal tersulit untuk dihilangkan adalah ajaran bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Namun kemudian, akhirnya saya temukan ayat dalam Al-Qur’an bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan dan juga kenyataan bahwa Islam meyakini bahwa Yesus (Isa) alaihissalam adalah nabi dan rasul, sehingga saya tak perlu membuang sosok Yesus dalam pikiran saya, hanya meluruskan pemikiran saya tentang Yesus.

21 Juli 2001, dan akhirnya, tiba saatnya saya mengikrarkan syahadatain. Saat itu saya sedang berada di sebuah kamar hotel di Washington DC, di mana saya akan menghadiri rapat untuk membahas majalah yang saya juga menulis di dalamnya. Tergeletak muskhaf Al-Qur’an di atas tempat tidur dengan terbuka dan saya menghadapnya, saya berlutut dan berdoa kepada Tuhan untuk memberikan jalan kebenaran kepada saya dan seketika itu pula saya mengikrarkan syahadatain. Setelah itu, saya mengikrarkan syahadatain di hadapan khlayak muslim dalam komunitas Arab.

Saya mencintai Islam karena kemurnian, kesederhanan, dan kebenarannya. Masyarakat muslim yang saya temui sangat baik, sabar, dan berakhlak mulia.

Wednesday, 10 September 2014

, , , , , , ,

Nama saya Dalanda dan beginilah kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Nama lahir saya Dawn. (Sekarang Dalanda)

Saya lahir di Kota Camden, London tahun 1975. Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Waktu kecil saya adalah tipe anak yang selalu dalam masalah. Saya seorang anak yang cukup liar dengan berbagai masalah yang selalu mengikuti. Saya selalu diolok-olok nyaris selama SD dan SMP.

Saya tak tumbuh dengan segenap kemudahan hidup. Saya selalu mendengar orang tua saya bertengkar sepanjang hari. Ayah saya meninggal ketika saya berusia 23 tahun. Saya semakin terpuruk ketika adik perempuan saya harus bersekolah di SLB dan penyakit asma dan ginjal saya yang sering kambuh. Orang tua saya pindah dari London ke Essex. Ketika usia saya menginjak 4 tahun, saya berharap jalan hidup saya akan berbeda. Tapi itu tak terjadi, semuanya menjadi lebih buruk.

Saya diperkosa saat berusia 15 tahun dan membuat saya menempuh jalan hitam dengan mulai mengkonsumsi minuman keras dan narkoba. Saya menikah dan dikaruniai 5 anak yang menggemaskan. Saya juga pernah kehilangan dua bayi ketika dalam kandungan. Umur pernikahan saya hanya 5 tahun dan hal itu menyebabkan anak perempuan sulung saya menjadi sangat kasar kepada saya. Hidup saya menjadi lebih hancur dengan perceraian itu.

Saya masuk Islam setelah saya bertemu dua wanita muslim yang sangat menyenangkan dan anak perempuannya. Mereka sering mengundang saya untuk hadir ke sebuah perkumpulan ibu-ibu yang diadakan oleh para muslimah. Saya menyambut baik ajakan itu dengan datang setiap minggu. Saya memperoleh banyak teman yang membantu saya melewati masa pasca perceraian dan masalah-masalah saya yang lain. Setelah tiga bulan bersama dengan para muslimah itu dan mendengar kajian-kajian Islam beserta hadis-hadis nabi salallahu alaihi wa sallam, saya memutuskan untuk mengikrarkan syahadatain. Saya senang, saat ini saya tengah dalam masa ta’aruf dengan pria Tunisia dan berencana menikah di Tunisia 12 Agustus 2014 mendatang. Satu hal yang saya pelajari dari Islam adalah seberapa berat kesulitan yang kita hadapi, jangan pernah membuat iman kita kepada Allah luntur, karena Dia selalu mendengar doa kita dan selalu bersama kita. Saya bahagia telah memilih Islam sebagai agama saya dan saya merasa lebih bahagia sekarang. Semoga Allah selalu mencurahkan kedamaian dan keberkahan kepada kita semua.

Semenjak saya masuk Islam, banyak teman saya yang merubah sikapnya terhadap saya. Hal itu tidak mudah untuk dihadapi. Saya kira hal itu memang berat sebagaimana dihadapi oleh mualaf lain, khususnya ketika mulai mengenakan hijab di muka umum. Mendapat pandangan buruk dan komentar cemoohan itu sudah pasti saya terima. Saya pernah diludahi dan wajah saya dipukul di jalan, tapi menurut saya hal itu tambah membuat saya semakin kuat dari luar dan dari dalam. Satu hal yang bisa saya katakan, Islam adalah agama yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Saya yakin Allah memilih saya (dari sekian banyak manusia, pen) karena sebuah alasan.

Menjadi muslimah telah membawa begitu banyak kedamaian ke dalam hidup saya yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Islam membuat saya lebih kuat dan percaya diri dari sebelumnya dan semakin membuat saya bangga dengan jati diri saya sebagai seorang muslimah.

, , , , , , ,

Nama saya Alena Katkova dan beginilah Kisah saya masuk Islam

Assalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Saya berumur 29 tahun, berasal dari Siberia. Saya orang Rusia. Saya bekerja di sebuah operator call centre di New Zealand.

Saya lahir di Rusia, sebenarnya US SR, sebuah negara tanpa agama dan saya datang ke New Zealand tahun 2008, sebuah negara dengan begitu banyak budaya, kebangsaan, dan agama.

Ketika saya mulai belajar di AUT (New Zealand) saya bertemu beberapa mahasiswa muslim dan serta-merta rasa ingin tahu saya muncul dan kemudian saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Karena itulah saya masuk Islam. Sejujurnya, hal itu telah mengubah kehidupan saya khususnya yang berhubungan dengan kepribadian.

Sebelum memeluk Islam saya sering pergi ke klub malam untuk dugem, tapi semua itu kini tak lagi saya lakukan. Semenjak saya memakai hijab, cara orang memperlakukan saya kini berubah dan saya rasa, saya lebih dihormati dibanding sebelumnya. Dalam Islam, kita tidak dibolehkan berjabat tangan dengan lawan jenis, merangkul, dan mencium siapapun yang bukan mahram dengan kita, dan hal itu saya praktikkan. Ketika saya bertemu pria, saya akan berkata,”Senang bertemu anda, maaf agama saya tidak memperbolehkan saya untuk berjabatangan dengan anda.” dengan sebuah senyuman dan mereka bisa memahami. New Zealand adalah sebuah negara yang begitu baik menerima perbedaan. Namun ada pertentangan dengan keluarga saya, dan bahkan adik saya yang paling kecil masih tidak mau menerima kenyataan bahwa saya adalah seorang muslimah.

“Di Rusia, orang masih berpikir bahwa muslim adalah teroris karena seluruh informasi yang mereka dapat tentang Islam berasal dari media. Saya merasa nyaman mengenakan hijab, tetapi ketika saya memikirkan untuk berganti pekerjaan, karena kecakapan saya ada di dunia mengajar, saya selalu berpikir, mereka pasti menerima saya sebagai guru.”